Jelang Idul Adha di Gaza, Konflik Bikin Warga Tak Mampu Beli Hewan Kurban Tahun Ini

Kompas.com - 10/08/2019, 14:25 WIB
Warga Palestina memilih hewan di pasar hewan kurban di Jalur Gaza, pada Senin (5/8/2019), menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada Minggu (11/8/2019). REUTERS / IBRAHEEM ABU MUSTAFAWarga Palestina memilih hewan di pasar hewan kurban di Jalur Gaza, pada Senin (5/8/2019), menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada Minggu (11/8/2019).

GAZA, KOMPAS.com - Perayaan Hari Raya Idul Adha akan jatuh pada Minggu (11/8/2019) besok, namun hingga kini Ali belum dapat membeli seekor domba pun.

Petugas polisi berusia 49 tahun yang tinggal di Gaza itu tampaknya tidak akan bisa berkurban tahun ini karena tidak mampu membeli seekor hewan kurban, setelah Otoritas Palestina memangkas gajinya sejak lima bulan terakhir.

"Saya hampir selalu menyembelih seekor domba setiap tahun saat perayaan Idul Adha, tetapi tahun ini mungkin saya tidak bisa melakukannya. Saya merasa malu," kata ayah lima anak itu, yang menolak menyebutkan nama belakangnya.

Warga Gaza telah menderita selama bertahun-tahun akibat diblokade oleh Israel dan Mesir dengan alasan keamanan, sesuatu yang menurut Bank Dunia telah merusak perekonomian di wilayah itu.

Baca juga: Jelang Hari Raya Idul Adha, Warga Afghanistan Rindukan Perdamaian

Hampir 80 persen dari dua juta penduduk daerah kantung tersebut bergantung pada berbagai bentuk bantuan, dengan lebih dari separuhnya menganggur.

Ali mengatakan, pada bulan Maret pihak Otoritas Palestina telah memangkas gajinya hingga separuh, menyisakan hanya 1.500 shekel (sekitar Rp 6,1 juta). Sementara harga seekor domba di Gaza bisa mencapai hampir 1.800 shekel (lebih dari Rp 7 juta).

Otoritas Palestina, yang menjalankan pemerintahan terbatas di Tepi Barat yang diduduki Israel, masih bertanggung jawab membayar gaji sekitar 25.000 pegawai negeri sipil yang ditugaskan di Gaza, meski telah terjadi perselisihan selama satu dekade dengan Hamas yang mengendalikan wilayah pesisir itu.

Banyak staf Otoritas Palestina di Gaza dan Tepi Barat yang mengalami pemotongan gaji pada Maret lalu, di tengah perselisihan dengan Israel mengenai pembayaran yang dilakukan terhadap keluarga Palestina yang dipenjara di Israel.

Baca juga: Seperti Apa Perayaan Idul Adha di Beberapa Negara Arab?

Israel mengatakan, pembayaran itu telah menggerakkan kekerasan di Palestina, sehingga pada Februari lalu, berdasarkan perjanjian perdamaian sementara, disepakati untuk mencoret bagian pembayaran untuk keluarga tahanan itu dari pajak yang ditransfer setiap bulan ke Otoritas Palestina.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas telah menolak untuk menerima transfer sebagian dan menegaskan bahwa Otoritas Palestina berhak atas total 700 juta shekels (sekitar Rp 2,8 triliun), yang mencakup lebih dari setengah anggarannya, dari pajak Israel.

Halaman:


Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X