Ketegangan Meningkat, India Tutup Wilayah Kashmir dan Kirim 70.000 Tentara

Kompas.com - 05/08/2019, 11:37 WIB
Pasukan paramiliter India berjaga di kawasan Maisuma, Srinagar, pada Minggu (4/8/2019) malam, setelah wilayah itu ditempatkan dalam penguncian. AFP / TAUSEEF MUSTAFAPasukan paramiliter India berjaga di kawasan Maisuma, Srinagar, pada Minggu (4/8/2019) malam, setelah wilayah itu ditempatkan dalam penguncian.

NEW DELHI, KOMPAS.com - India menempatkan sebagian besar wilayah Kashmir yang disengketakan dalam penguncian, pada Senin (5/8/2019) pagi, di tengah penumpukan pasukan besar-besaran.

Ketegangan yang meningkat di wilayah India Kashmir dimulai sejak 10 hari terakhir, setelah pemerintah menempatkan sekitar 10.000 tentara ke kota perbatasan.

Namun sebuah sumber keamanan mengatakan kepada AFP, bahwa masih akan ada 70.000 tentara tambahan yang telah dikirim, dalam tingkatan yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya.

"Sesuai dengan perintah, tidak akan ada pergerakan publik dan seluruh lembaga pendidikan juga akan ditutup," demikian pernyataan pemerintah negara bagian yang ditujukan kepada ibu kota India Kashmir, Srinagar, dan daerah di sekitarnya.


Baca juga: India Kirim 10.000 Tentara Paramiliter di Perbatasan Kashmir

"Akan ada larangan penuh terhadap segala bentuk pertemuan publik maupun demonstrasi selama periode perintah itu," lanjut pernyataan tersebut, yang dikutip AFP.

Seluruh universitas, sekolah, dan perguruan tinggi di Jammu, yang didominasi umat Hindu, telah diperintahkan untuk tutup dengan satu distrik di wilayah itu berada di bawah penguncian.

Sejumlah distrik besar lainnya yang ada di negara bagian mayoritas Muslim itu juga ditempatkan di bawah pembatasan, demikian diberitakan media lokal.

Jaringan seluler swasta, layanan internet, hingga sambungan telepon rumah telah diputus, dan hanya menyisakan satu jaringan seluler milik pemerintah yang masih beroperasi.

Seorang pejabat senior pemerintah mengatakan kepada AFP bahwa hampir 300 pejabat pemerintahan dan pejabat tinggi keamanan telah diberi telepon satelit untuk sarana komunikasi.

Baca juga: Ada Kabar Ancaman Teror di Kashmir, Wisatawan Diimbau Segera Pergi

Sebelum jaringan internet terputus, para mantan pemimpin senior dan politisi Kashmir yang menjabat saat ini, menuliskan lewat akun Twitter mereka bahwa mereka telah menjadi tahanan rumah.

"Saya yakin jika saya telah ditempatkan di bawah tahanan rumah mulai tengah malam ini dan prosesnya sudah dimulai untuk para pemimpin arus utama lainnya," tulis Omar Abdullah, mantan menteri kepala Jammu dan Kashmir, lewat twitnya.

Sementara di pusat kota Srinagar, salah seorang penduduk setempat mengatakan kepada AFP, bahwa pasukan pemerintah telah melemparkan "bom cabai", yang dapat mengganggu sistem pernapasan, ke ruas jalan-jalan yang kosong.

Situasi ketegangan di India Kashmir saat ini mengingatkan kembali situasi pembatasan serupa yang diberlakukan di wilayah itu pada tahun 2016, menyusul insiden pembunuhan seorang pemimpin pemberontak populer, yang memicu aksi turun ke jalan selama berbulan-bulan dan menewaskan hampir 100 orang.

Baca juga: Trump Mengaku Diminta Jadi Penengah Konflik Kashmir India dan Pakistan

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Keluarga Gajah Terekam Menginvasi Hotel di Zambia untuk Sarapan

Keluarga Gajah Terekam Menginvasi Hotel di Zambia untuk Sarapan

Internasional
Trump Kritik Greta Thunberg: Pergilah Menonton Film Bersama Teman!

Trump Kritik Greta Thunberg: Pergilah Menonton Film Bersama Teman!

Internasional
Perdana Menteri Boris Johnson Raih Kursi Mayoritas di Pemilu Inggris

Perdana Menteri Boris Johnson Raih Kursi Mayoritas di Pemilu Inggris

Internasional
Myanmar Dituduh Genosida Rohingya, Ini Peringatan Aung San Suu Kyi

Myanmar Dituduh Genosida Rohingya, Ini Peringatan Aung San Suu Kyi

Internasional
AS Uji Coba Rudal Balistik ke Samudra Pasifik

AS Uji Coba Rudal Balistik ke Samudra Pasifik

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] AU AS Unggul dari Rusia dan China | Bocah Tendang Mobil yang Tabrak Ibunya

[POPULER INTERNASIONAL] AU AS Unggul dari Rusia dan China | Bocah Tendang Mobil yang Tabrak Ibunya

Internasional
Studi: Angkatan Udara AS Unggul Jauh dari Rusia dan China

Studi: Angkatan Udara AS Unggul Jauh dari Rusia dan China

Internasional
Satu-satunya Kapal Induk Milik Rusia Terbakar

Satu-satunya Kapal Induk Milik Rusia Terbakar

Internasional
Pemerintahan Baru Gagal Terbentuk, Israel Bakal Gelar Pemilu Ketiga dalam Setahun

Pemerintahan Baru Gagal Terbentuk, Israel Bakal Gelar Pemilu Ketiga dalam Setahun

Internasional
Ibunya Ditabrak Sampai Terpental, Bocah di China Tendang Mobil Penabrak

Ibunya Ditabrak Sampai Terpental, Bocah di China Tendang Mobil Penabrak

Internasional
Kasus Pesawat Militer Chile Menghilang, Tim Penyelamat Temukan Mayat

Kasus Pesawat Militer Chile Menghilang, Tim Penyelamat Temukan Mayat

Internasional
Korban Tewas Gunung Meletus di Selandia Baru Bertambah Jadi 8 Orang

Korban Tewas Gunung Meletus di Selandia Baru Bertambah Jadi 8 Orang

Internasional
Sidang Pemakzulan Trump Bakal Jadi Prioritas Senat AS pada Januari 2020

Sidang Pemakzulan Trump Bakal Jadi Prioritas Senat AS pada Januari 2020

Internasional
Korea Utara Mengancam Bakal Beri 'Hadiah Natal', Ini Peringatan AS

Korea Utara Mengancam Bakal Beri "Hadiah Natal", Ini Peringatan AS

Internasional
Aktivis Perubahan Iklim Greta Thunberg Masuk 'Person of the Year' Versi TIME

Aktivis Perubahan Iklim Greta Thunberg Masuk "Person of the Year" Versi TIME

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X