Trump Mengaku Diminta Jadi Penengah Konflik Kashmir India dan Pakistan

Kompas.com - 23/07/2019, 15:47 WIB
Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden AS Donald Trump, dan Presiden Indonesia Joko Widodo (kiri ke kanan) berbincang bersama pada hari kedua KTT G20 di Hamburg, Jerman, Sabtu (8/7/2017). Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menjadi pembicara pada Leaders Retreat KTT G20 atau G20 sesi I mengenai terorisme, Jumat 7 Juli siang waktu setempat.AFP PHOTO / JOHN MACDOUGALL Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden AS Donald Trump, dan Presiden Indonesia Joko Widodo (kiri ke kanan) berbincang bersama pada hari kedua KTT G20 di Hamburg, Jerman, Sabtu (8/7/2017). Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menjadi pembicara pada Leaders Retreat KTT G20 atau G20 sesi I mengenai terorisme, Jumat 7 Juli siang waktu setempat.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku diminta untuk menjadi penengah dalam sengketa India dan Pakistan atas dataran Kashmir.

Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan di Washington, Trump berkata dia mengklaim diminta oleh Perdana Menteri India Narendra Modi.

Baca juga: Militan Top Paling Diburu di India Ditembak Mati di Kashmir

Diwartakan BBC Senin (22/7/2019), Modi meminta jika presiden dari Partai Republik itu bersedia jadi penengah konflik dua negara yang berusia 70 tahun itu.


"Jika saya bisa membantu soal Kashmir, saya tentu bakal senang sekali menjadi mediator. Jika ada yang bisa saya bantu, maka katakanlah," ujar Trump kepada Khan.

Selain kontra-terorisme dan pertahanan, pertemuan Trump dan Khan juga membahas perdagangan dan investasi demi menyehatkan neraca pembayaran yang dilanda krisis.

Kementerian Luar Negeri Pakistan dalam keterangannya menuturkan, kedatangan Khan ke Washington bakal "memperbarui dan menghidupkan kembali hubungan dua negara".

Hubugan positif itu terlihat ketika Trump pekan lalu menyatakan bahwa Islamabad sudah menangkap "dalang" serangan teror di Mumbai pada 2008 silam.

Namun faktanya, Hafiz Saeed yang merupakan pendiri kelompok Lashkar-e-Taiba itu sudah berulang kali ditangkap dan dibebaskan otoritas Pakistan dalam 20 tahun terakhir.

Alih-alih bersembunyi, pria yang dihargai 10 juta dollar oleh AS pada 2012 itu memimpin kampanye maupun pergerakan dalam pemilu Pakistan baru-baru ini.

Trump juga memuji Pakistan sudah memberikan banyak bantuan kepada AS dalam proses negosiasi damai dengan Taliban untuk mengakhiri konflik di Afghanistan.

Diberitakan AFP, Pakistan sebelumnya merupakan negara pendukung utama kelompok Taliban ketika mengambil alih kekuasaan di Afghanistan pada 1990-an silam.

Karena itu, AS bermaksud menggunakan pengaruh Pakistan dalam upaya mendesak Taliban guna melakukan perdamaian dengan pemerintahan Presiden Ashraf Ghani.

Baca juga: Ada Ancaman Serangan Teroris, 2 Pangkalan Udara India di Kashmir Siaga

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Pemilik Serang Mobil Turis, Restoran di Albania Diratakan Pakai Buldoser

Pemilik Serang Mobil Turis, Restoran di Albania Diratakan Pakai Buldoser

Internasional
Trump Batal Berkunjung karena Greenland, PM Denmark Marah

Trump Batal Berkunjung karena Greenland, PM Denmark Marah

Internasional
Kereta Peluru di Jepang Melaju 280 Km Per Jam dengan Pintu Terbuka

Kereta Peluru di Jepang Melaju 280 Km Per Jam dengan Pintu Terbuka

Internasional
Lebih dari 100 Anggota Polis Diraja Malaysia Positif Narkoba

Lebih dari 100 Anggota Polis Diraja Malaysia Positif Narkoba

Internasional
Trump Berniat Beli Greenland, Politisi Denmark: Ada Wilayah AS yang Bisa Dijual?

Trump Berniat Beli Greenland, Politisi Denmark: Ada Wilayah AS yang Bisa Dijual?

Internasional
Batal Berkunjung Gara-gara Greenland, Trump Dianggap Hina Ratu Denmark

Batal Berkunjung Gara-gara Greenland, Trump Dianggap Hina Ratu Denmark

Internasional
Jalani Operasi Pembesaran Payudara secara Diam-diam, Ibu Muda Ini Justru Meninggal

Jalani Operasi Pembesaran Payudara secara Diam-diam, Ibu Muda Ini Justru Meninggal

Internasional
Video Ungkap Detik-detik Pesawat Jatuh ke Laut

Video Ungkap Detik-detik Pesawat Jatuh ke Laut

Internasional
Jadi Sebab Pembatalan Kunjungan Trump ke Denmark, Ini 5 Fakta Greenland yang Perlu Diketahui

Jadi Sebab Pembatalan Kunjungan Trump ke Denmark, Ini 5 Fakta Greenland yang Perlu Diketahui

Internasional
Serang Pemiliknya, 3 Ekor Singa Afrika Terpaksa Ditembak Mati

Serang Pemiliknya, 3 Ekor Singa Afrika Terpaksa Ditembak Mati

Internasional
Trump Batalkan Kunjungan karena Isu Greenland, Denmark Kaget

Trump Batalkan Kunjungan karena Isu Greenland, Denmark Kaget

Internasional
Yunani Mengaku Tak Ada Permintaan Berlabuh dari Kapal Tanker Iran

Yunani Mengaku Tak Ada Permintaan Berlabuh dari Kapal Tanker Iran

Internasional
Intelijen AS Sebut ISIS Masih Punya 18.000 Tentara dan Dana Perang Rp 5,7 Triliun

Intelijen AS Sebut ISIS Masih Punya 18.000 Tentara dan Dana Perang Rp 5,7 Triliun

Internasional
AS Hendak Jual Jet Tempur F-16 Terbaru ke Taiwan, China Ancam Berikan Sanksi

AS Hendak Jual Jet Tempur F-16 Terbaru ke Taiwan, China Ancam Berikan Sanksi

Internasional
Greenland Tak Dijual, Trump Batalkan Kunjungan ke Denmark

Greenland Tak Dijual, Trump Batalkan Kunjungan ke Denmark

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X