Trump Puji Peran Pakistan dalam Proses Perdamaian Afghanistan

Kompas.com - 23/07/2019, 14:08 WIB
Perdana Menteri Pakistan Imran Khan dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Kantor Oval Gedung Putih, Washington, pada 22 Juli 2019.REUTERS PHOTO/JONATHAN ERNST Perdana Menteri Pakistan Imran Khan dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Kantor Oval Gedung Putih, Washington, pada 22 Juli 2019.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memuji peran Pakistan dalam proses perdamaian antara pemerintah Afghanistan dengan Taliban.

Pernyataan itu dia sampaikan saat bertemu Perdana Menteri Pakistan Imran Khan di Kantor Oval, dalam upaya memperbaiki relasi dua negara yang tegang akibat konflik Afghanistan.

Baca juga: Pakistan Akhiri Pembatasan Wilayah Udaranya untuk Penerbangan Sipil

Dilansir AFP Selasa (23/7/2019), Islamabad merupakan negara pendukung utama kelompok Taliban ketika mengambil alih kekuasaan di Afghanistan 1990-an silam.


Pengaruh Pakistan dalam kelompok itu dianggap sebagai kunci dalam memfasilitasi penyelesaian politik dengan pemerintahan Presiden Ashraf Ghani.

"Kami membuat perkembangan bagus selama dua pekan terakhir, dan Pakistan telah membantu kami mencapai perkembangan itu," kata Trump dalam pertemuan dengan Khan.

Kemudian setelah bertatap muka dengan Khan, Trump memuji PM 66 tahun itu sebagai pemimpin yang bakal membawa perubahan bersifat positif bagi Pakistan.

Dia menambahkan seperti dikutip BBC sebelum Khan menjabat tahun lalu, Pakistan sudah "merusak" kepentingan AS dan tidak menghormati kepemimpinan mereka.

Sejak memimpin pada 2017, pemerintahan Trump menuduh Pakistan mendukung ekstremis dan berusaha menyesatkan AS, tuduhan yang kemudian dibantah Pakistan.

Dalam kicauannya Januari 2018 lalu, Trump mengeluhkan selama 15 tahun terakhir, Washington sudah membantu Pakistan hingga 33 miliar dollar AS, atau Rp 461,4 triliun.

"Mereka menjadi surga persembunyian bagi teroris yang kami buru di Afghanistan. Mereka tak memberikan apa pun selain kebohongan," keluh Trump saat itu.

Ketika Khan kemudian memenangkan pemilu Pakistan, dia menyerukan adanya "hubungan menguntungkan" dengan AS namun tetap mengkritik taktik anti-teror seperti serangan drone.

Lebih lanjut, Khan menjawab bahwa dia memuji Trump karena bersedia mendesak pihak bertikai supaya menempuh jalan perdamaian. "Saya termasuk yang percaya tidak ada solusi militer," paparnya.

Shamila Chaudhary, peneliti senior di lembaga think tank New America mengatakan, kunjungan Khan ke Washington merupakan "hadiah" perbuatan baik selama negosiasi dengan Taliban.

Pakistan ingin memperbaiki hubungan dengan AS setelah otak serangan 9/11 Osama bin Laden yang terbunuh di Pakistan melalui penyergapan 2011 silam.

Baca juga: Mengenal Hamza bin Laden, Putra Osama bin Laden, yang Dihargai Rp 14 Miliar oleh AS

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Konvoi Militer Turki Diserang Suriah, 3 Warga Sipil Tewas

Konvoi Militer Turki Diserang Suriah, 3 Warga Sipil Tewas

Internasional
WNI di Denmark Rela Tempuh Perjalanan 5 Jam demi Ikut Upacara 17 Agustus

WNI di Denmark Rela Tempuh Perjalanan 5 Jam demi Ikut Upacara 17 Agustus

Internasional
Tandai Peringatan 17 Agustus di Italia, KBRI Roma Pukul Gong

Tandai Peringatan 17 Agustus di Italia, KBRI Roma Pukul Gong

Internasional
3.500 Pengungsi Rohingya di Bangladesh Dibebaskan untuk Kembali ke Myanmar

3.500 Pengungsi Rohingya di Bangladesh Dibebaskan untuk Kembali ke Myanmar

Internasional
Taiwan Tawarkan Suaka bagi Peserta Demo Hong Kong, China Marah

Taiwan Tawarkan Suaka bagi Peserta Demo Hong Kong, China Marah

Internasional
Iran Peringatkan AS Tak Usik Kapal Tankernya yang Dibebaskan Gibraltar

Iran Peringatkan AS Tak Usik Kapal Tankernya yang Dibebaskan Gibraltar

Internasional
Ditanya Kenapa Masih Pertahankan Pasukan di Afghanistan, Trump: Kami Seperti Polisi

Ditanya Kenapa Masih Pertahankan Pasukan di Afghanistan, Trump: Kami Seperti Polisi

Internasional
Diejek Gendut Saat Ingin Es Krim, Gadis Ini Bunuh Pacar Pakai Gunting

Diejek Gendut Saat Ingin Es Krim, Gadis Ini Bunuh Pacar Pakai Gunting

Internasional
Dibebaskan Gibraltar, Kapal Tanker Iran Berlayar ke Yunani

Dibebaskan Gibraltar, Kapal Tanker Iran Berlayar ke Yunani

Internasional
Trump: Kami Tidak Ingin Afghanistan Jadi 'Laboratorium Teror'

Trump: Kami Tidak Ingin Afghanistan Jadi "Laboratorium Teror"

Internasional
5 Bulan Mengajar, Guru di Malaysia Ini Dapat 15 Surat Cinta dari Murid

5 Bulan Mengajar, Guru di Malaysia Ini Dapat 15 Surat Cinta dari Murid

Internasional
Hindari Kerusuhan, Otoritas India Tahan 4.000 Warga Kashmir

Hindari Kerusuhan, Otoritas India Tahan 4.000 Warga Kashmir

Internasional
Diputus Pacar dan Hilang Pekerjaan, Pria Ini Ancam Bunuh 100 Orang

Diputus Pacar dan Hilang Pekerjaan, Pria Ini Ancam Bunuh 100 Orang

Internasional
PM Denmark: Ketertarikan Trump Beli Greenland Itu Konyol

PM Denmark: Ketertarikan Trump Beli Greenland Itu Konyol

Internasional
Terbangun dari Koma 10 Hari, Pria Ini Lupa Tentang Hari Pernikahannya

Terbangun dari Koma 10 Hari, Pria Ini Lupa Tentang Hari Pernikahannya

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X