Trump Dianggap Rasis, PM Selandia Baru Bereaksi

Kompas.com - 16/07/2019, 10:16 WIB
Presiden Perancis Emmanuel Macron (kanan) dan Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern (kiri) menghadiri KTT di Paris, Perancis, Rabu (15/5/2019). (AFP/CHARLES PLATIAU) CHARLES PLATIAUPresiden Perancis Emmanuel Macron (kanan) dan Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern (kiri) menghadiri KTT di Paris, Perancis, Rabu (15/5/2019). (AFP/CHARLES PLATIAU)

WELLINGTON, KOMPAS.com - Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menanggapi komentar Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang dianggap xenofobia dan rasis.

Ardern membela empat anggota perempuan Kongres AS dari Partai Demokrat yang disebut Trump berasal dari negara dengan pemerintahan korup dan hancur lebur.

Pemimpin muda kharismatik yang sering dijuluki "anti-Trump" oleh media AS itu mengatakan, dia bangga dengan keberagaman yang terjadi di negaranya.

Baca juga: Trump Minta Anggota Kongres AS Perempuan untuk Kembali ke Negara Asal


"Biasanya, saya tidak akan mencampuri politik seseorang. Namun kali ini, saya ingin memastikan kepada semua orang bahwa saya tidak setuju dengannya (Trump)," kata Ardern kepada Radio New Zealand.

Pada Minggu (14/7/2019) melalui kicauannya di Twitter, meminta kepada keempat anggota perempuan Kongres AS yang dianggap progresif untuk kembali ke "negara asal" mereka.

Dia melanjutkan serangan terhadap mereka Senin (15/7/2019). "Jika Anda tidak bahagia di sini, Anda bisa pergi. Ini tentang cinta terhadap Amerika," ujar Trump.

"Jelas, ada sejumlah orang yang membenci negara ini," lanjutnya dikutip AFP. Ardern berujar, masyarakat Selandia Baru menerima perbedaan dalam pemerintahan.

"Kami mengambil pandangan bahwa parlemen merupakan tempat keterwakilan. Jadi harus terlihat dan terasa seperti Selandia Baru, dan mempunyai beragam kultur serta etnis," paparnya.

Karena itu, lanjut Ardern, para wakil rakyat tidak boleh dipertanyakan asal keturunan maupun hak mereka karena mereka semua layak berada di pemerintahan.

Perdana Menteri Inggris Theresa May dan PM Kanada Justin Trudeau juga mengecam twit itu. Sementara politisi dari Demokrat menyebut Trump rasis.

Ardern tidak malu menyampaikan perbedaan pendapat dengan Trump. Dia pernah meminta kepada presiden ke-45 AS itu untuk mengirimkan "simpati dan cinta" ke komunitas Muslim.

Saat itu, terjadi peristiwa mengerikan di mana teroris kulit putih menyerang dan menembaki jemaah dua masjid di Christchurh Maret lalu ketika sedang Shalat Jumat, dan menewaskan 51 orang.

Selain itu sesaat setelah Ardern terpilih di akhir 2017, Trump bertemu dengannya di Vietnam dan bercanda bagaimana Ardern menimbulkan "masalah" di Negeri "Kiwi".

"Anda tahu setidaknya orang tidak protes ketika saya terpilih," sindir Ardern merujuk kepada gelombang demonstrasi yang mewarnai kemenangan Trump di Pilpres 2016.

Baca juga: Trump Tidak Peduli Jika Dirinya Dianggap Rasial

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kasus Pesawat Militer Chile Menghilang, Tim Penyelamat Temukan Mayat

Kasus Pesawat Militer Chile Menghilang, Tim Penyelamat Temukan Mayat

Internasional
Korban Tewas Gunung Meletus di Selandia Baru Bertambah Jadi 8 Orang

Korban Tewas Gunung Meletus di Selandia Baru Bertambah Jadi 8 Orang

Internasional
Sidang Pemakzulan Trump Bakal Jadi Prioritas Senat AS pada Januari 2020

Sidang Pemakzulan Trump Bakal Jadi Prioritas Senat AS pada Januari 2020

Internasional
Korea Utara Mengancam Bakal Beri 'Hadiah Natal', Ini Peringatan AS

Korea Utara Mengancam Bakal Beri "Hadiah Natal", Ini Peringatan AS

Internasional
Aktivis Perubahan Iklim Greta Thunberg Masuk 'Person of the Year' Versi TIME

Aktivis Perubahan Iklim Greta Thunberg Masuk "Person of the Year" Versi TIME

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Baku Tembak 'Panas' di New Jersey | 2 Pasal Pemakzulan Trump Dirilis

[POPULER INTERNASIONAL] Baku Tembak "Panas" di New Jersey | 2 Pasal Pemakzulan Trump Dirilis

Internasional
Pelaku Baku Tembak New Jersey Sengaja Targetkan Supermarket Yahudi

Pelaku Baku Tembak New Jersey Sengaja Targetkan Supermarket Yahudi

Internasional
Melawan Saat Diperkosa, Gadis 23 Tahun di India Dibakar Hidup-hidup

Melawan Saat Diperkosa, Gadis 23 Tahun di India Dibakar Hidup-hidup

Internasional
Tanggapi Isu Pemakzulan, Trump Digambarkan Tim Kampanye sebagai Thanos

Tanggapi Isu Pemakzulan, Trump Digambarkan Tim Kampanye sebagai Thanos

Internasional
Di Pengadilan PBB, Aung San Suu Kyi Bantah Myanmar Lakukan Genosida atas Rohingya

Di Pengadilan PBB, Aung San Suu Kyi Bantah Myanmar Lakukan Genosida atas Rohingya

Internasional
Mahathir Siratkan Serahkan Kekuasaan ke Anwar Ibrahim Setelah KTT APEC 2020

Mahathir Siratkan Serahkan Kekuasaan ke Anwar Ibrahim Setelah KTT APEC 2020

Internasional
Dua Pasal Pemakzulan Trump Resmi Dirilis, Apa Isinya?

Dua Pasal Pemakzulan Trump Resmi Dirilis, Apa Isinya?

Internasional
Kisah Azura Luna, WNI asal Kediri yang Disebut Lakukan Penipuan di Hong Kong

Kisah Azura Luna, WNI asal Kediri yang Disebut Lakukan Penipuan di Hong Kong

Internasional
Hadir di Sidang PBB, Aung San Suu Kyi Bakal Bela Myanmar soal Tuduhan Genosida Rohingya

Hadir di Sidang PBB, Aung San Suu Kyi Bakal Bela Myanmar soal Tuduhan Genosida Rohingya

Internasional
Buntut Penembakan Pangkalan AL Pensacola, AS Tangguhkan Pelatihan bagi Militer Arab Saudi

Buntut Penembakan Pangkalan AL Pensacola, AS Tangguhkan Pelatihan bagi Militer Arab Saudi

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X