"AS Bodoh jika Memperlakukan China sebagai Musuh"

Kompas.com - 09/07/2019, 19:35 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan bilateral di sela KTT G-20 di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019). AFP/BRENDAN SMIALOWSKIPresiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan bilateral di sela KTT G-20 di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019).

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Seorang diplomat senior memperingatkan Amerika Serikat ( AS) terdapat konsekuensi "mengerikan" jika memperlakukan mereka sebagai musuh.

Dalam forum internasional di Beijing Senin (8/7/2019), Wakil Menteri Luar Negeri Le Yucheng memperingatkan agar AS tidak selalu menyalahkan mereka.

Baca juga: Surat Terbuka kepada Presiden Trump: China Bukan Musuh

Menurut Le, ketimpangan ekonomi, polarisasi kaya dan miskin, maupun infrastruktur yang menua bukanlah salah China. Melainkan karena kesalahan AS sendiri.


"AS bodoh jika memperlakukan China sebagai musuh dan bakal ada konsekuensi yang mengerikan jika mereka melakukannya," tegas Le dikutip CNN Selasa ((/7/2019).

Presiden AS Donald Trump mengumumkan adanya gencatan senjata dalam perang dagang setelah bertemu Presiden China Xi Jinping di KTT G20 di Osaka, Jepang, Juni lalu.

Pembicaraan itu sempat kolaps Mei lalu dengan keduanya saling menyalahkan. Meski sepakat melanjutkan kembali, hubungan keduanya masih tegang.

Senin kemarin, Washington menyetujui penjualan senjata senilai 2,2 miliar dollar AS, sekitar Rp 31 triliun, kepada Taiwan yang melingkupi ratusan tank serta rudal.

China melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Geng Shuang mengecam penjualan itu, dan mendesak AS supaya membatalkannya dan tidak berhubungan lagi dengan Taiwan.

Lebih lanjut, Le merujuk kepada media China yang menuduh AS berusaha menghalangi pengajuan visa pelajar maupun aplikasi yang diajukan dari China.

Padahal kepada awak media selepas pertemuan bilateral dengan Xi di KTT G20, Trump menerangkan dia ingin melihat lebih banyak pelajar China belajar di AS.

"Praktik menggunakan garis keturunan dan ras untuk menghambat kesempatan belajar dan pertemuan dua warga negara sangatlah tak populer," kecam Le.

Baca juga: China: AS Sudah Memilih Lawan yang Salah

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber CNN
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Erdogan Tuduh Negara Barat Mendukung 'Teroris' di Suriah

Erdogan Tuduh Negara Barat Mendukung "Teroris" di Suriah

Internasional
Mantan Penyelundup Narkoba Ini Pernah Nyaris Dibunuh karena Ganti Saluran TV

Mantan Penyelundup Narkoba Ini Pernah Nyaris Dibunuh karena Ganti Saluran TV

Internasional
Restoran di Belgia Ini Sajikan Air Minum Daur Ulang dari Toilet

Restoran di Belgia Ini Sajikan Air Minum Daur Ulang dari Toilet

Internasional
Bayi Ini Dikubur Hidup-hidup di Lempeng Beton, Polisi China Buru Orangtuanya

Bayi Ini Dikubur Hidup-hidup di Lempeng Beton, Polisi China Buru Orangtuanya

Internasional
Protes Pembatasan Pers, Koran Australia Kompak 'Rahasiakan' Halaman Depan

Protes Pembatasan Pers, Koran Australia Kompak "Rahasiakan" Halaman Depan

Internasional
Bar di Jepang Ini Hanya Izinkan Pengunjung untuk Datang Sendiri

Bar di Jepang Ini Hanya Izinkan Pengunjung untuk Datang Sendiri

Internasional
Menhan China: Tak Ada yang Bisa Mencegah Penyatuan Kembali China dengan Taiwan

Menhan China: Tak Ada yang Bisa Mencegah Penyatuan Kembali China dengan Taiwan

Internasional
Restoran Khusus Indomie Bakal Dibuka di Singapura

Restoran Khusus Indomie Bakal Dibuka di Singapura

Internasional
Pemimpin Hong Kong Kunjungi Masjid yang Disiram Meriam Air Polisi

Pemimpin Hong Kong Kunjungi Masjid yang Disiram Meriam Air Polisi

Internasional
Ribuan Pengungsi Rohingya di Bangladesh Sepakat Pindah ke Pulau di Teluk Benggala

Ribuan Pengungsi Rohingya di Bangladesh Sepakat Pindah ke Pulau di Teluk Benggala

Internasional
Bubarkan Demonstran, Polisi Hong Kong 'Tak Sengaja' Tembakkan Meriam Air ke Arah Masjid

Bubarkan Demonstran, Polisi Hong Kong "Tak Sengaja" Tembakkan Meriam Air ke Arah Masjid

Internasional
Patuhi Kesepakatan Gencatan Senjata, Pasukan Kurdi Suriah Tinggalkan 'Zona Aman'

Patuhi Kesepakatan Gencatan Senjata, Pasukan Kurdi Suriah Tinggalkan "Zona Aman"

Internasional
Mutiara Berusia 8.000 Tahun Bakal Dipamerkan Pertama Kali di Abu Dhabi

Mutiara Berusia 8.000 Tahun Bakal Dipamerkan Pertama Kali di Abu Dhabi

Internasional
Hadiri Pelantikan Jokowi, Ini Kerja Sama Bilateral yang Ingin Ditingkatkan PM Singapura

Hadiri Pelantikan Jokowi, Ini Kerja Sama Bilateral yang Ingin Ditingkatkan PM Singapura

Internasional
Berusaha Bunuh Pasukan SAS Inggris, ISIS Pasang Bom Bunuh Diri di Bra

Berusaha Bunuh Pasukan SAS Inggris, ISIS Pasang Bom Bunuh Diri di Bra

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X