Kompas.com - 08/07/2019, 14:51 WIB
Foto yang diambil pada Agustus 2010, menunjukkan pembangkit listrik tenaga nuklir Iran di kawasan Bushehr yang dibangun pada 2010 dan mulai beroperasi 2011. AFP/ATTA KENAREFoto yang diambil pada Agustus 2010, menunjukkan pembangkit listrik tenaga nuklir Iran di kawasan Bushehr yang dibangun pada 2010 dan mulai beroperasi 2011.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam Iran yang mengumumkan bakal melakukan pengayaan uranium sebagai bahan bakar nuklir.

Kepada awak media di Morristown, New Jersey, Trump meminta Iran untuk berhati-hati. "Sebab, mereka melakukannya (pengayaan uranium) untuk sebuah alasan," ulasnya.

"Dan saya tidak bisa menjabarkan alasan itu. Namun tentu saja keputusan itu tidak bagus. Jadi sebaiknya  mereka berhati-hati," terang Trump dikutip AFP Minggu (7/7/2019).

Baca juga: Langgar Aturan Pengayaan Uranium, Iran Bakal Hadapi Sanksi Tambahan dari AS

Sementara Menteri Luar Negeri Mike Pompeo menyatakan Iran bakal menghadapi sanksi tambahan jika ditemukan adanya pelanggaran terhadap perjanjian nuklir 2015.

Dalam kesepakatan yang dibuat di era Presiden Barack Obama itu, terdapat poin Iran hanya boleh melakukan pengayaan uranium di bawah 3,67 persen.

Sebelumnya dalam konferensi pers, Iran menyatakan mereka bakal tidak mengindahkan ketentuan batas pengayaan uranium yang merupakan pelanggaran perjanjian nuklir 2015.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi, Iran menyatakan mereka masih ingin mempertahankannya. Tapi, mereka menyalahkan negara Barat karena gagal menjalankan komitmen.

Dalam konferensi pers itu, Araqchi menuturkan Iran bakal memproduksi uranium di atas konsentrasi 3,67 persen dalam beberapa jam setelah diumumkan.

Pengayaan itu diperlukan sebagai bahan bakar bagi reaktor pembangkit Bushehr. Sebelumnya, mereka menuturkan bakal memproduksi dengan konsentrasi di atas lima persen.

Meski begitu, juru bicara Badan Atom Iran Behrouz Kamalvandi berujar mereka tidak akan membuat bahan bakar bagi reaktor Teheran yang membutuhkan uranium berkonsentrasi 20 persen.

Araqchi melanjutkan, mereka bakal melanggar peraturan demi peraturan di perjanjian 2015 dalam 60 hari ke depan kecuali negara penandatangan memberikan solusi.

Araqchi merujuk kepada China, Perancis, Jerman, Rusia, dan Inggris sebagai negara peneken perjanjian nuklir di era Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama itu.

"Kami berharap, kami bisa mendapatkan sebuah solusi dalam 60 hari nanti. Kalau tidak, kami akan menempuh langkah ketiga," tegas Araqchi kembali.

Baca juga: Iran Umumkan Bakal Melanggar Perjanjian Nuklir 2015

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.