Kompas.com - 05/07/2019, 08:50 WIB

LONDON, KOMPAS.com - Militer Kerajaan Inggris dilaporkan menggelar misi "berani" untuk menyita sebuah kapal tanker super yang membawa minyak mentah dari Iran ke Suriah.

Misi itu dilaksanakan oleh pasukan dari Komando 42 yang merupakan bagian dari unit Marinir Inggris menggunakan helikopter dan speedboat di kawasan Gibraltar.

Baca juga: Menteri Intelijen Iran: Amerika Takut dengan Kekuatan Militer Kami

Dilansir Sky News Kamis (4/7/2019), sekitar 16 Polisi Gibraltar juga membantu dalam misi menyusul kecurigaan kapal bernama Grace 1 itu melanggar sanksi Uni Eropa.

Berangkat 17 April lalu, kapal itu diduga menempuh rute 23.335 km menyusuri Afrika daripada melewati Terusan Suez yang hanya berjarak 6.598 km untuk menghindari deteksi.

Berdasarkan peta, diketahui kapal itu berangkat dari Iran. Jika terkonfirmasi, maka kapal tanker itu juga melanggar sanksi Amerika Serikat (AS) tentang larangan ekspor minyak Iran.

Diketahui Badan Intelijen Pusat AS (CIA) sudah melakukan pemantauan terhadap pergerakan tanker itu dari Iran ke Suriah, dan meminta bantuan Inggris menangkapnya.

Menteri Utama Gibraltar Fabian Picardo mengatakan, mereka punya alasan untuk meyakini bahwa Grace 1 membawa minyak mentah ke kilang minyak Banyas di Suriah.

"Kilang minyak itu merupakan properti dari entiras yang menjadi subyek sanksi Uni Eropa terhadap Suriah," ujar Picardo dalam pernyataan resmi.

Sementara Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt dikutip Daily Mirror memuji "keberanian" dari anggota Komando 42 serta polisi Gibraltar untuk menghentikan pasokan minyak ke "rezim pembunuh".

Namun, Menteri Luar Negeri Spanyol Josep Borrell berujar dia bakal memperhatikan penyerbuan dan penyitaan kapal tanker yang berada di perairan negaranya.

Sanksi Uni Eropa terhadap Suriah mulai diterapkan pada Mei 2011 setelah Presiden Bashar al-Assad menangkal demonstran anti-dirinya yang berujung pada perang sipil.

Iran yang merupakan sekutu dekat Assad juga berada dalam sanksi Washington yang melarang seluruh negara untuk membeli minyak, atau berisiko dihukum.

Sanksi itu diberlakukan setelah Presiden Donald Trump mengumumkan keluar dari perjanjian nuklir 2015 pada Mei tahun lalu, dengan menyebutnya sebagai "kesepakatan terburuk".

Baca juga: Trump Terlalu Pintar Memulai Perang dengan Iran

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.