Korut Mengeluh Terus Ditekan AS Meski Kim Jong Un dan Trump Bertemu

Kompas.com - 04/07/2019, 10:26 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kanan) dan Presiden AS Donald Trump melintasi Garis Demarkasi Militer yang membagi Korea Utara dan Korea Selatan di zona demiliterisasi (DMZ) Korea, Minggu (30/6/2019). Kedatangan Trump ke zona demiliterisasi Korea awalnya diagendakan untuk pertemuan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, namun Presiden Moon mengatakan fokus akan lebih kepada pertemuan Trump dengan Kim Jong Un. AFP/BRENDAN SMIALOWSKIPemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kanan) dan Presiden AS Donald Trump melintasi Garis Demarkasi Militer yang membagi Korea Utara dan Korea Selatan di zona demiliterisasi (DMZ) Korea, Minggu (30/6/2019). Kedatangan Trump ke zona demiliterisasi Korea awalnya diagendakan untuk pertemuan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, namun Presiden Moon mengatakan fokus akan lebih kepada pertemuan Trump dengan Kim Jong Un.

PYONGYANG, KOMPAS.com - Korea Utara ( Korut) mengeluh mereka terus mendapat tekanan dari Amerika Serikat (AS) meski Presiden Donald Trump dan Kim Jong Un bertemu.

Perwakilan Korut di PBB mengeluh AS mengirim surat kepada seluruh negara anggota, dan mendesak mereka supaya memulangkan para pekerja negara komunis itu.

Baca juga: Trump Klaim Pemerintahan Obama Memohon untuk Bertemu Kim Jong Un

Dilansir AFP Rabu (3/7/2019), Korut menyebut surat AS itu merupakan bukti bahwa mereka "bersikeras untuk memusuhi" mereka meski menyerukan adanya dialog.

Perwakilan itu mengatakan surat itu dikirim pada 29 Juni bersama dengan Inggris, Perancis, dan Jerman. Hari di mana Trump menawarkan bertemu Kim di Zona Demiliterisasi (DMZ).

Trump bertemu Kim di Panmunjom pada Minggu 930/6/2019), dan menjadi presiden pertama AS yang menginjakkan kaki di Korut di mana keduanya sepakat melanjutkan perundingan.

"Apa yang tak dapat dilupakan adalah surat itu dikirim oleh misi permanen AS atas instruksi Kemanterian Luar Negeri pada hari ketika Presiden Trump mengusulkan pertemuan," kata Korut.

Namun AFP memberitakan, faktanya surat itu dikirim pada 27 Juni yang meminta semua negara untuk menerapkan sanksi dengan memulangkan pekerja Korut di akhir 2019.

Pakar PBB memprediksi bahwa puluhan ribu warga Korut dikirim setiap tahunnya, sebagian besar ke China dan Rusia, dan bekerja demi meningkatkan pendapatan negara.

Korut menegaskan, mereka tidak memohon-mohon supaya sanksinya dicabut. "Konyol sekali AS menganggap sanksi sebagai obat mujarab untuk semua masalah," keluh mereka.

Sanksi PBB mengharuskan setiap negara anggota untuk menghentikan kontrak dengan pekerja Korut, dan memulangkan mereka paling lambat hingga akhir tahun ini.

Dewan Keamanan PBB merilis resolusi sanksi sebagai respons uji coba senjata nuklir dan program rudal balistik yang dilakukan Korut sebelumnya.

Di surat itu, tercatat hanya 34 negara yang mengisi laporan sebagai tanggapan permintaan AS, dengan tenggat waktu pemulangan adalah 22 Desember.

Baca juga: Presiden China Xi Jinping Minta Trump Ringankan Sanksi Korut

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Momen Pilu Seorang Pria Beri Minum Koala yang Terkena Luka Bakar di Australia

Momen Pilu Seorang Pria Beri Minum Koala yang Terkena Luka Bakar di Australia

Internasional
Teman Dekat Mantan Presiden Barack Obama Ramaikan Pertarungan Pilpres AS 2020

Teman Dekat Mantan Presiden Barack Obama Ramaikan Pertarungan Pilpres AS 2020

Internasional
Di Ulang Tahun ke-16, Seorang Remaja Tembaki Sekolah dan Bunuh 2 Orang di AS

Di Ulang Tahun ke-16, Seorang Remaja Tembaki Sekolah dan Bunuh 2 Orang di AS

Internasional
Rusia Diduga Telepon Pemberontak Ukraina yang Jatuhkan Pesawat Malaysia Airlines MH17

Rusia Diduga Telepon Pemberontak Ukraina yang Jatuhkan Pesawat Malaysia Airlines MH17

Internasional
Dapat Mosi Tidak Percaya, Pemerintah Kuwait Mengundurkan Diri

Dapat Mosi Tidak Percaya, Pemerintah Kuwait Mengundurkan Diri

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Istri Habis Rp 600 Juta di Harbolnas, Suaminya Ingin Bunuh Diri | Israel Ditembaki Roket

[POPULER INTERNASIONAL] Istri Habis Rp 600 Juta di Harbolnas, Suaminya Ingin Bunuh Diri | Israel Ditembaki Roket

Internasional
Israel Klaim 1 Lagi Komandan Jihad Islam dan Keluarganya Tewas dalam Serangan

Israel Klaim 1 Lagi Komandan Jihad Islam dan Keluarganya Tewas dalam Serangan

Internasional
Berdebat dengan Demonstran Hong Kong, Kepala Pria 70 Tahun Dilempar Batu Bata

Berdebat dengan Demonstran Hong Kong, Kepala Pria 70 Tahun Dilempar Batu Bata

Internasional
Dianggap Terlalu Awal, Keluarga di Texas Ini Diminta Copot Hiasan Natal

Dianggap Terlalu Awal, Keluarga di Texas Ini Diminta Copot Hiasan Natal

Internasional
Ekor Anak Anjing Ini Tumbuh di Kepala

Ekor Anak Anjing Ini Tumbuh di Kepala

Internasional
Komandannya Tewas Diserang, Jihad Islam Tembakkan Roket Tiap 7 Menit ke Israel

Komandannya Tewas Diserang, Jihad Islam Tembakkan Roket Tiap 7 Menit ke Israel

Internasional
Hadapi Polisi, Pelajar Hong Kong Mempersenjatai Diri dengan Panah dan Tombak

Hadapi Polisi, Pelajar Hong Kong Mempersenjatai Diri dengan Panah dan Tombak

Internasional
Menlu Retno: Saatnya Wanita Bekerja Bersama Membawa Panji Toleransi

Menlu Retno: Saatnya Wanita Bekerja Bersama Membawa Panji Toleransi

Internasional
Datang ke AS, Erdogan Mengaku Kembalikan Surat yang Ditulis Trump

Datang ke AS, Erdogan Mengaku Kembalikan Surat yang Ditulis Trump

Internasional
Mantan Pemimpin ISIS Baghdadi Pasang Koneksi Internet di Persembunyiannya

Mantan Pemimpin ISIS Baghdadi Pasang Koneksi Internet di Persembunyiannya

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X