Dubes Iran: Tujuan Utama AS adalah Jual Senjata ke Timur Tengah

Kompas.com - 25/06/2019, 16:20 WIB
Inilah penampakan serpihan drone RQ-4A Global Hawk milik Amerika Serikat yang diklaim ditembak jatuh oleh Iran dalam tayangan bertanggal 21 juni 2019 di sebuah lokasi yang dirahasiakan. Reuters TV/IRINNInilah penampakan serpihan drone RQ-4A Global Hawk milik Amerika Serikat yang diklaim ditembak jatuh oleh Iran dalam tayangan bertanggal 21 juni 2019 di sebuah lokasi yang dirahasiakan.

NEW YORK, KOMPAS.com - Duta Besar Iran untuk PBB menuduh Amerika Serikat ( AS) mempunyai motif tertentu atas panasnya situasi yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Pada Senin (24/6/2019), Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif untuk memberikan sanksi baru terhadap sejumlah petinggi senior Iran.

Baca juga: Presiden Iran: AS Bohong soal Tawaran Perundingan

Dalam pernyataan Trump, sanksi itu diberikan setelah Iran menghancurkan drone pengintai RQ-4A Global Hawk di Selat Hormuz pada pekan lalu sebelum kemudian meralatnya.


Dubes Majid Takht Ravanchi membela tindakan yang dilakukan Garda Revolusi dengan mengatakan drone itu sudah melanggar wilayah udara mereka, ucapan yang dibantah Pentagon.

Dilansir Newsweek, Ravanchi menuturkan mereka tidak ingin adanya perang atau ketegangan di Teluk Persia. Namun tidak demikian halnya dengan pihak lain.

"Ini membantu mereka membenarkan keterlibatan asing dalam memperkuat militer, di mana Amerika dan negara Barat lainnya bisa menjual senjata ke negara yang bertikai," kecam Ravanchi.

Dia merujuk kepada koalisi pimpinan Arab Saudi yang didukung AS berperang melawan kelompok pemberontak Houthi di Yaman yang dituding menerima dukungan Iran.

Ravanchi juga menyoroti sanksi yang dijatuhkan Trump kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Dia menyebut AS tidak menghormati hukum internasional.

Tensi sudah meningkat di Teluk Persia setelah Trump memutuskan menarik AS dari perjanjian nuklir 2015 yang diteken Iran bersama sejumlah negara besar lainnya.

Negara seperti China, Rusia, maupun Jerman masih memberikan dukungan kesepakatan itu. Namun Eropa mengalami kesulitan karena Washington sudah memberikan ancaman.

Karena itu, Iran kemudian mengumumkan mereka bakal melakukan pengayaan terhadap uranium dalam jumlah besar meski bersikukuh mereka tidak ingin memproduksi senjata nuklir.

Sejak Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton menyebut ancaman Iran terhadsp kepentingan AS di kawasan, Washington segera melakukan langkah militer.

Antara lain dengan mengirim pasukan tambahan berjumlah 2.500 personel, grup serang berisi kapal induk, hingga menyiagakan pesawat pembom di Timur Tengah.

Baca juga: Israel Bakal Lakukan Segala Cara untuk Cegah Iran Miliki Senjata Nuklir

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Newsweek
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pelaku Baku Tembak New Jersey Sengaja Targetkan Supermarket Yahudi

Pelaku Baku Tembak New Jersey Sengaja Targetkan Supermarket Yahudi

Internasional
Melawan Saat Diperkosa, Gadis 23 Tahun di India Dibakar Hidup-hidup

Melawan Saat Diperkosa, Gadis 23 Tahun di India Dibakar Hidup-hidup

Internasional
Tanggapi Isu Pemakzulan, Trump Digambarkan Tim Kampanye sebagai Thanos

Tanggapi Isu Pemakzulan, Trump Digambarkan Tim Kampanye sebagai Thanos

Internasional
Di Pengadilan PBB, Aung San Suu Kyi Bantah Myanmar Lakukan Genosida atas Rohingya

Di Pengadilan PBB, Aung San Suu Kyi Bantah Myanmar Lakukan Genosida atas Rohingya

Internasional
Mahathir Siratkan Serahkan Kekuasaan ke Anwar Ibrahim Setelah KTT APEC 2020

Mahathir Siratkan Serahkan Kekuasaan ke Anwar Ibrahim Setelah KTT APEC 2020

Internasional
Dua Pasal Pemakzulan Trump Resmi Dirilis, Apa Isinya?

Dua Pasal Pemakzulan Trump Resmi Dirilis, Apa Isinya?

Internasional
Kisah Azura Luna, WNI asal Kediri yang Disebut Lakukan Penipuan di Hong Kong

Kisah Azura Luna, WNI asal Kediri yang Disebut Lakukan Penipuan di Hong Kong

Internasional
Hadir di Sidang PBB, Aung San Suu Kyi Bakal Bela Myanmar soal Tuduhan Genosida Rohingya

Hadir di Sidang PBB, Aung San Suu Kyi Bakal Bela Myanmar soal Tuduhan Genosida Rohingya

Internasional
Buntut Penembakan Pangkalan AL Pensacola, AS Tangguhkan Pelatihan bagi Militer Arab Saudi

Buntut Penembakan Pangkalan AL Pensacola, AS Tangguhkan Pelatihan bagi Militer Arab Saudi

Internasional
Baku Tembak 'Panas' Terjadi di New Jersey, 6 Orang Tewas

Baku Tembak "Panas" Terjadi di New Jersey, 6 Orang Tewas

Internasional
Gara-gara Tanggal Wisuda, Calon Sarjana Usia 9 Tahun Ini Keluar dari Universitas

Gara-gara Tanggal Wisuda, Calon Sarjana Usia 9 Tahun Ini Keluar dari Universitas

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] China Larang Kantor Pemerintah Pakai Komputer Asing | Penembakan Massal di Rumah Sakit Ceko

[POPULER INTERNASIONAL] China Larang Kantor Pemerintah Pakai Komputer Asing | Penembakan Massal di Rumah Sakit Ceko

Internasional
Menlu Retno Ajak Guatemala Gabung CPOPC

Menlu Retno Ajak Guatemala Gabung CPOPC

Internasional
Erdogan: Jika Diundang, Turki Bakal Kerahkan Pasukan ke Libya

Erdogan: Jika Diundang, Turki Bakal Kerahkan Pasukan ke Libya

Internasional
Penembakan Massal di Rumah Sakit Ceko, 6 Orang Tewas

Penembakan Massal di Rumah Sakit Ceko, 6 Orang Tewas

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X