Kompas.com - 19/06/2019, 18:30 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com - Amerika Serikat mengumumkan, Selasa (18/6/2019), akan memberikan paket bantuan sebesar 250 juta dollar AS atau sekitar Rp 3,5 triliun untuk militer Ukraina.

Dilansir AFP, paket bantuan tersebut sebagai bagian dari serangkaian bantuan yang diberikan Pentagon kepada negara yang tengah berperang itu sejak 2014, ketika Rusia mencaplok Semenanjung Crimea dan konflik meletus di Ukraina timur.

Sejak saat itu, Amerika Serikat telah memberi bantuan senilai total 1,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 21,4 triliun kepada negara bekas Uni Soviet itu.

"Amerika Serikat tetap menjaga komitmennya untuk membantu Ukraina," kata juru bicara Pentagon, Letnan Kolonel Carla M Gleason.

Bantuan militer yang diberikan AS diharapkan dapat memperkuat kontrol sipil demokratis atas militer negara itu.

Baca juga: Terima Kunjungan Presiden Ukraina, Kanselir Jerman Kejang-kejang

Selain itu juga mempromosikan reformasi komando dan kontrol, meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam akuisisi maupun penganggaran, serta memajukan reformasi industri pertahanan.

"Reformasi ini akan meningkatkan kemampuan Ukraina untuk mempertahankan integritas teritorialnya dalam mendukung negara yang aman, makmur, demokratis, dan bebas," lanjut Gleason.

Sekitar 13.000 orang telah dilaporkan tewas sejak pecahnya pemberontakan yang didukung Moskwa pada April 2014, setelah aneksasi Crimea oleh Rusia.

Ukraina dan sekutu Baratnya telah menuding Rusia sebagai penyalur pasukan dan persenjataan kepada pemberontak  pro-Moskwa, sebuah tuduhan yang telah dibantah keras oleh Rusia.

Sementara diberitakan Al Jazeera, Pentagon mengatakan akan memberi bantuan berupa pelatihan angkatan laut, serta perlengkapan militer seperti senapan sniper, peluncur granat roket, radar, serta alat penglihatan malam.

Terpisah, pada Selasa (18/6/2019), presiden terpilih Ukraina, Volodymyr Zelensky telah menyerukan ketegasan dalam kaitannya dengan Rusia.

Zelensky, yang berbicara dengan Kanselir Jerman Angela Merkel di Berlin, mengatakan sanksi yang dijatuhkan Uni Eropa kepada Rusia pada tahun 2014 perlu diperluas.

"Sikap saya sederhana dan jelas. Sanksi adalah satu-satunya cara untuk membebaskan wilayah yang diduduki dan mengembalikan integritas dan kedaulatan wilayah kami, dan mengembalikannya kepada rakyat. Jika ini tidak berhasil, mekanismenya harus diperluas," katanya.

Baca juga: Senat AS Setuju Hentikan Bantuan Militer ke Saudi untuk Konflik Yaman

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.