Kompas.com - 18/06/2019, 14:44 WIB
Daniel Sanda, mewakili 15.000 petani rumput laut di Pulau Rote, NTT dalam sidang gugatan class action di pengadilan federal Australia, Sydney. ABC Australia/SBS TVDaniel Sanda, mewakili 15.000 petani rumput laut di Pulau Rote, NTT dalam sidang gugatan class action di pengadilan federal Australia, Sydney.

SYDNEY, KOMPAS.com - Gugatan "class action" atas nama petani rumput laut Indonesia yang menggugat perusahaan minyak Australia karena pencemaran di ladang minyak Montara pada 2009 mulai disidangkan di Sydney, Australia, Senin (17/6/2019).

Dalam sidang yang akan berlangsung selama 10 pekan tersebut, petani dari asal Nusa Tenggara Timur ini meminta ganti rugi sekitar 200 juta dolar Australia atau lebih dari Rp 2 triliun.

Permintaan ganti rugi dilayangkan karena pendapatan mereka berkurang setelah terjadinya pencemaran tersebut.

Salah seorang wakil petani, Daneil Sanda hadir di Pengadilan Federal Australia didampingi tim pengacara dari kantor pengacara Maurice Blackburn yang menangani kasus tersebut.

Baca juga: Luhut Panjaitan: Kasus Tumpahan Minyak Montara 2009 Bisa Diselesaikan di Luar Pengadilan

Pihak tergugat adalah PTTEP Australasia (Ashmore Cartier) Ptl Ltd dalam hubungannya dengan pencemaran dari anjungan minyak lepas pantai Montara yang terbakar pada 21 Agustus 2009.

Akibat terbakarnya anjungan lepas pantai itu, ribuan barel minyak mencemari Laut Timor selama lebih dari 70 hari.

Daniel Sanda menjadi wakil dari sekitar 15.000 petani di Pulau Rote di NTT yang menggantungkan mata pencahariannya pada budi daya rumput laut di kawasan tersebut.

Anjungan Montara ini terletak sekitar 250 km arah barat baya pesisir Australia Barat dan sekitar 700 km dari Darwin.

Sementara jarak ke Pulau Rote adalah sekitar 250 km dari lokasi anjungan.

Para petani rumput laut mengklaim minyak mentah yang tumpah ke laut bergerak ke arah Pulau Rote sehingga mencemari laut tempat mereka mengambil rumput laut.

Menurut laporan media Australia, SBS, pengacara yang mewakili penggugat, Julian Sexton, mengatakan selain minyak, bahan kimia yang digunakan untuk menutup kebocoran juga merusak industri rumput laut di Pulau Rote selama bertahun-tahun setelahnya.

Usaha menutup kebocoran itu dilakukan selama lima kali dan baru pada 3 November 2009 kebocoran minyak di anjungan tersebut berhasil dihentikan.

Baca juga: Warga NTT dan Australia Gelar Pertemuan Bahas Kasus Minyak Montara

Menurut Sexton, tidak ada yang mengetahui dengan pasti berapa jumlah minyak yang mencemari laut, namun sebagai pengelola, PTTEP tidak pernah secara terbuka memberikan penjelasan terkait kebocoran minyak antara 200 sampai 400 barel per hari.

Karena pencemaran itu, menurut pihak penggugat, sekitar 90.000 kilometer persegi laut tercemar dan mengakibatkan rumput laut yang dikelola petani mati atau rusak.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X