PM Jepang: Iran Harus "Membangun" Perdamaian di Timur Tengah

Kompas.com - 13/06/2019, 10:12 WIB
Presiden Iran Hassan Rouhani (tengah) menyambut Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe (kiri) yang datang berkunjung ke Teheran, Rabu (12/6/2019). AFP PHOTO / STRINGERPresiden Iran Hassan Rouhani (tengah) menyambut Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe (kiri) yang datang berkunjung ke Teheran, Rabu (12/6/2019).

TEHERAN, KOMPAS.com - Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengunjungi Iran dalam rangka menjadi penengah antara Washington dengan Teheran, Rabu (12/6/2019).

Dalam kunjungannya, Abe yang diterima Presiden Iran Hassan Rouhani, mengatakan bahwa Iran harus berperan konstruktif bagi perdamaian di kawasan Timur Tengah.

"Sangat penting bahwa Iran memainkan peran konstruktif dalam membangun perdamaian dan stabilitas yang solid di Timur Tengah," kata Abe dalam konferensi pers bersama pemimpin Iran di Teheran.

"Ini agar kawasan itu tidak semakin terganggu stabilitasnya lebih lanjut dan tidak akan terjadi bentrokan yang tidak disengaja di tengah meningkatnya ketegangan baru-baru ini," lanjut Abe.


Sementara Rouhani menyampaikan harapannya akan adanya perubahan yang positif di Timur Tengah dan dunia, jika AS dapat menghentikan tekanan ekonominya terhadap Iran melalui sanksi.

Baca juga: Bawa Misi Khusus ke Teheran, PM Jepang Bakal Damaikan Iran dan AS?

"Jika ada ketegangan, akarnya berasal dari perang ekonomi Amerika dengan Iran. Jika suatu saat itu berhenti, kita akan melihat perubahan yang sangat positif di Timur Tengah dan juga dunia," kata Rouhani.

"Kami tidak akan memulai konflik di kawasan itu, bahkan terhadap AS, tetapi jika perang dimulai terhadap kami, kami akan memberi tanggapan yang menghancurkan," tambahnya.

Dilansir AFP, Abe memulai kunjungan pertamanya ke Iran pada Rabu (12/6/2019) dan menjadi perdana menteri Jepang pertama yang melakukannya sejak 41 tahun terakhir.

Kunjungan Abe tersebut bertujuan untuk membantu meredakan ketegangan yang terjadi antara AS dengan Iran.

Jepang telah berhenti membeli minyak mentah dari Iran sejak Mei lalu, untuk memenuhi sanksi AS terhadap negara republik Islam itu.

Rouhani mengatakan, dia melihat minat Jepang untuk terus membeli minyak dari Iran dan memperbaiki masalah keuangan sebagai jaminan untuk pengembangan hubungan bilateral yang sedang berlangsung.

Presiden Iran juga menggarisbawahi persamaan pandangan dengan tamunya seputar masalah senjata nuklir yang sepakat menentang.

Baca juga: Berkunjung ke Iran, PM Jepang Ingin Jadi Penengah Washington dengan Teheran

Abe, pada gilirannya, menyampaikan rasa hormatnya yang mendalam  atas fakta bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei telah mengulangi fatwa yang menegaskan bahwa "senjata nuklir dan senjata pemusnah massal lainnya adalah bertentangan dengan Islam".

Perdana menteri Jepang itu dijadwalkan untuk bertemu dengan Khamenei pada Kamis (13/6/2019) pagi.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pria Rusia yang Klaim Apple Mengubahnya Jadi Gay Cabut Gugatan

Pria Rusia yang Klaim Apple Mengubahnya Jadi Gay Cabut Gugatan

Internasional
Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Internasional
Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Internasional
Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Internasional
Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Internasional
Trump Marah Disebut Beri 'Lampu Hijau' untuk Serangan Turki ke Suriah

Trump Marah Disebut Beri "Lampu Hijau" untuk Serangan Turki ke Suriah

Internasional
Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Internasional
Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Hari Kiamat' Memakai 'Bahasa Khayalan'

Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Hari Kiamat" Memakai "Bahasa Khayalan"

Internasional
AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

Internasional
Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Kiamat', Pria Austria Ditahan

Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Kiamat", Pria Austria Ditahan

Internasional
Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda 'Menanti Kiamat' | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda "Menanti Kiamat" | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

Internasional
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Internasional
Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Internasional
Beralasan 'Menanti Kiamat', Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Beralasan "Menanti Kiamat", Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X