Presiden Sri Lanka Tolak Penyelidikan Ledakan Bom Minggu Paskah

Kompas.com - 08/06/2019, 16:33 WIB
Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena membungkuk untuk memberi penghormatan kepada para korban perang melawan pemberontakan Tamil yang berakhir pada 2009 di Colombo. AFP / LAKRUWAN WANNIARACHCHIPresiden Sri Lanka Maithripala Sirisena membungkuk untuk memberi penghormatan kepada para korban perang melawan pemberontakan Tamil yang berakhir pada 2009 di Colombo.

COLOMBO, KOMPAS.com - Presiden Sri Lanka dilaporkan melakukan penolakan terhadap upaya penyelidikan ledakan bom yang terjadi pada Minggu Paskah April lalu.

Presiden Maithripala Sirisena melakukan pertemuan kabinet darurat pada Jumat malam (7/6/2019) untuk menentang komite penyelidikan yang dilakukan Parlemen Sri Lanka.

Baca juga: Pascaserangan Bom, Menteri Muslim Sri Lanka Mundur Massal

Pembentukan komite itu sebagai respon atas serangan bom bunuh diri yang terjadi pada 21 April lalu dan membunuh 258 orang, 45 di antaranya warga asing, dan melukai lebih dari 500 orang.


Kepala Intelijen Nasional Sisira Mendis dikabarkan dipecat setelah memberi kesaksian dalam rapat dengar pendapat pekan lalu bahwa serangan itu sejatinya bisa dicegah.

Dilansir AFP Sabtu (8/6/2019), Mendis juga bersaksi Sirisena gagal menggelar pertemuan untuk menilai ancaman dari kelompok radikal yang menyerang tiga hotel dan tiga gereja itu.

Kantor kepresidenan tidak memberikan komentar atas kabar itu. Televisi yang menayangkan berita itu langsung menghentikannya di tengah jalan atas perintah Sirisena.

Sumber dari kementerian menuturkan Sirisena menolak mengizinkan polisi hingga intelijen untuk memberikan kesaksikan terkait ledakan bom itu di depan parlemen.

Dikatakan rapat kabinet yang sempat panas itu akhirnya diakhiri tanpa memberi "solusi" apapun seperti apakah parlemen bakal dibubarkan atau tidak.

Baik sekretaris pertahanan maupun kepala polisi menilai Sirisena yang juga menteri pertahanan tak mengikuti protokol ketika menanggapi peringatan intelijen soal serangan bom.

Kelompok ekstremis lokal dan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim bertanggung jawab dan sejak saat itu, Sri Lanka berada dalam kondisi darurat nasional.

Pekan lalu, Sirisena menuturkan dia bertemu kepala polisi dan pejabat tingginya 13 hari sebelum serangan dan mengklaim tak menerima informasi yang diberikan oleh India.

Sirisena pun langsung mencopot pejabat pertahanan Hemasiri Fernando dan menangguhkan Kepala Polisi Pujith Jayasundara setelah insiden serangan itu.

Kabar tersebut terjadi jelang kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Colombo selepas lawatannya dari Maldives pada Minggu besok (9/6/2019).

Baca juga: Kepala Polisi Tuding Presiden Sri Lanka Telah Gagal Cegah Bom Minggu Paskah

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

PSK Usia 69 Tahun Ini Ditemukan Tewas, Polisi Lakukan Penyelidikan

PSK Usia 69 Tahun Ini Ditemukan Tewas, Polisi Lakukan Penyelidikan

Internasional
Manusia Terkecil di Dunia Ini Meninggal di Usia 27 Tahun

Manusia Terkecil di Dunia Ini Meninggal di Usia 27 Tahun

Internasional
Iran Tembak Jatuh Pesawat Ukraina karena Ditakuti Jet Tempur F-35 AS

Iran Tembak Jatuh Pesawat Ukraina karena Ditakuti Jet Tempur F-35 AS

Internasional
2 Orang di China Meninggal akibat Virus Misterius Mirip SARS

2 Orang di China Meninggal akibat Virus Misterius Mirip SARS

Internasional
Dianggap Berdosa, Ibu Hamil dan 5 Anaknya Disiksa hingga Tewas

Dianggap Berdosa, Ibu Hamil dan 5 Anaknya Disiksa hingga Tewas

Internasional
Pesta Selama Seminggu dan Biarkan Anaknya Mati Kelaparan, Ibu Ini Dipenjara

Pesta Selama Seminggu dan Biarkan Anaknya Mati Kelaparan, Ibu Ini Dipenjara

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Gadis di China Makan Nasi dan Sambal Selama 5 Tahun | Gunung Taal Meletus

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Gadis di China Makan Nasi dan Sambal Selama 5 Tahun | Gunung Taal Meletus

Internasional
Trump kepada Pemimpin Tertinggi Iran: Dia Harus Hati-hati dengan Ucapannya

Trump kepada Pemimpin Tertinggi Iran: Dia Harus Hati-hati dengan Ucapannya

Internasional
Iran Siap Bernegosiasi dengan Siapa Pun Kecuali AS

Iran Siap Bernegosiasi dengan Siapa Pun Kecuali AS

Internasional
Dituduh Selingkuh, Penis Pria di Ukraina Dipasang Penjepit Logam oleh Istri

Dituduh Selingkuh, Penis Pria di Ukraina Dipasang Penjepit Logam oleh Istri

Internasional
Trump Pilih Orang yang Makzulkan Bill Clinton sebagai Tim Pengacaranya

Trump Pilih Orang yang Makzulkan Bill Clinton sebagai Tim Pengacaranya

Internasional
Pemimpin Tertinggi Iran Pimpin Shalat Jumat untuk Pertama Kalinya dalam 8 Tahun

Pemimpin Tertinggi Iran Pimpin Shalat Jumat untuk Pertama Kalinya dalam 8 Tahun

Internasional
Bunuh Suami dengan Obat Tetes Mata, Wanita Ini Dipenjara 25 Tahun

Bunuh Suami dengan Obat Tetes Mata, Wanita Ini Dipenjara 25 Tahun

Internasional
Arab Saudi Bayar Rp 6,8 Triliun untuk Biaya Tempatkan Pasukan AS

Arab Saudi Bayar Rp 6,8 Triliun untuk Biaya Tempatkan Pasukan AS

Internasional
Seorang Pria Hilang, Diduga Tewas Dimakan Babi Peliharaannya

Seorang Pria Hilang, Diduga Tewas Dimakan Babi Peliharaannya

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X