AS Beri Turki "Deadline" Batalkan Pembelian S-400 jika Tak Ingin Dikeluarkan dari F-35

Kompas.com - 08/06/2019, 09:36 WIB
Sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia. ShutterstockSistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) dilaporkan memberikan tenggat waktu (deadline) bagi Turki supaya membatalkan pembelian sistem rudal S-400 dari Rusia.

Disampaikan Wakil Menteri Pertahanan untuk Akuisisi dan Dukungan Ellen Lord, AS memberi Turki waktu hingga 31 Juli untuk beralih dari rudal itu.

Jika Turki tak melakukannya, maka para pilot yang tengah menjalani pelatihan jet tempur F-35 di AS bakal dikeluarkan, demikian dikutip oleh AFP Jumat (7/6/2019).

Baca juga: Buntut Masalah S-400, AS Tak Bakal Terima Pilot Jet Tempur F-35 dari Turki


Selain itu, kesepakatan dengan sejumlah kontraktor Turki yang diserahi mandat memproduksi komponen bagi jet tempur generasi kelima itu juga akan dibalkan.

"Deadline itu bakal memberi waktu cukup bagi personel Turki terkait program F-35 untuk meninggalkan AS serta memfasilitasi penghentian teratur partisipasi mereka," terang Lord.

Dia menekankan ultimatum itu dari fakta bahwa sebagai sesama anggota NATO, Ankara dilaporkan telah mengirimkan personel ke Rusia untuk memulai pelatihan S-400.

Pada Selasa (4/6/2019), Presiden Recep Tayyip Erdogan sudah menyatakan Turki sudah menentukan sikap dan bakal meneruskan pembelian sistem rudal itu.

Sumber dari pemerintah AS menerangkan, mereka berharap Turki bisa berpaling kepada sistem rudal Patriot sehingga program F-35 bisa dilanjutkan.

Apalagi, Turki sudah berniat untuk membeli 100 unit F-35 dengan industri pertahanannya dilaporkan telah menggelontorkan dana besar untuk memproduksi komponennya.

Erdogan melanjutkan, dia sudah memberi tahu AS dia bakal mempertimbangkan membeli Patriot hanya jika kondisi pengirimannya sama positif dengan AS.

"Namun sayangnya, kami masih belum menerima proposal positif dari pihak Amerika terkait dengan Patriot daripada S-400 yang kami terima dari Rusia," jelas Erdogan.

Sementara Penjabat Menteri Pertahanan Patrick Shanahan menuturkan dia sudah mengirim surat kepada koleganya, Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar.

Kepada awak media, penerus dari Jim Mattis tersebut mengutarakan kepada Akar bahwa penawaran rudal Patriot kepada Turki "sangatlah kompetitif".

Baca juga: Erdogan: Pembelian S-400 dari Rusia Jalan Terus

Menurut AS, F-35 sudah didesain untuk beroperasi secara terpadu dengan sistem militer NATO. Termasuk di dalamnya adalah sistem pertahanan rudal.

Karena itu, keinginan Turki untuk membeli S-400 memunculkan ketakutan bahwa Rusia bisa mendapatkan informasi tentang teknologi dunia Barat dari mereka.

Pada Juni 2018, secara simbolis AS "mengirim" empat unit F-35 kepada Turki. Namun, pesawat itu masih berada di AS dengan para pilot Turki didatangkan untuk menerima pelatihan.

Lord menuturkan jika Turki tidak mematuhi tenggat waktu yang diberikan, perusahaan mereka yang memproduksi sekitar 937 komponen bakal dialihkan kepada pihak lain.

Pabrikan F-35 Lockheed Martin dan Pratt & Whitney sudah mulai mencari alternatif meski Lord berkata, perusahaan Turki bisa segera menyelesaikan komponen tersebut.

"Turki masih mempunyai waktu untuk berubah pikiran. Jika mereka menghentikan proses pembelian S-400, maka kami akan berhubungan secara normal," kata Lord.

Baca juga: AS: Rencana Beli Rudal S-400 Rusia Bisa Bikin Turki Hancur

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gelapkan Uang Restoran demi Putrinya yang Sakit, Pria Singapura Dihukum Penjara

Gelapkan Uang Restoran demi Putrinya yang Sakit, Pria Singapura Dihukum Penjara

Internasional
Tantang Petarung MMA, Ahli Wing Chun Ini KO dalam 72 Detik

Tantang Petarung MMA, Ahli Wing Chun Ini KO dalam 72 Detik

Internasional
Terungkap, Selir Raja Thailand Dicopot karena Ingin Seperti Permaisuri

Terungkap, Selir Raja Thailand Dicopot karena Ingin Seperti Permaisuri

Internasional
Dianggap Tak Setia, Selir Raja Thailand Dicopot

Dianggap Tak Setia, Selir Raja Thailand Dicopot

Internasional
Cegah Mencontek, Sekolah di India Pakaikan Muridnya Kardus di Kepala Saat Ujian

Cegah Mencontek, Sekolah di India Pakaikan Muridnya Kardus di Kepala Saat Ujian

Internasional
Erdogan Tuduh Negara Barat Mendukung 'Teroris' di Suriah

Erdogan Tuduh Negara Barat Mendukung "Teroris" di Suriah

Internasional
Mantan Penyelundup Narkoba Ini Pernah Nyaris Dibunuh karena Ganti Saluran TV

Mantan Penyelundup Narkoba Ini Pernah Nyaris Dibunuh karena Ganti Saluran TV

Internasional
Restoran di Belgia Ini Sajikan Air Minum Daur Ulang dari Toilet

Restoran di Belgia Ini Sajikan Air Minum Daur Ulang dari Toilet

Internasional
Bayi Ini Dikubur Hidup-hidup di Lempeng Beton, Polisi China Buru Orangtuanya

Bayi Ini Dikubur Hidup-hidup di Lempeng Beton, Polisi China Buru Orangtuanya

Internasional
Protes Pembatasan Pers, Koran Australia Kompak 'Rahasiakan' Halaman Depan

Protes Pembatasan Pers, Koran Australia Kompak "Rahasiakan" Halaman Depan

Internasional
Bar di Jepang Ini Hanya Izinkan Pengunjung untuk Datang Sendiri

Bar di Jepang Ini Hanya Izinkan Pengunjung untuk Datang Sendiri

Internasional
Menhan China: Tak Ada yang Bisa Mencegah Penyatuan Kembali China dengan Taiwan

Menhan China: Tak Ada yang Bisa Mencegah Penyatuan Kembali China dengan Taiwan

Internasional
Restoran Khusus Indomie Bakal Dibuka di Singapura

Restoran Khusus Indomie Bakal Dibuka di Singapura

Internasional
Pemimpin Hong Kong Kunjungi Masjid yang Disiram Meriam Air Polisi

Pemimpin Hong Kong Kunjungi Masjid yang Disiram Meriam Air Polisi

Internasional
Ribuan Pengungsi Rohingya di Bangladesh Sepakat Pindah ke Pulau di Teluk Benggala

Ribuan Pengungsi Rohingya di Bangladesh Sepakat Pindah ke Pulau di Teluk Benggala

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X