Kompas.com - 03/06/2019, 23:35 WIB

BAGHDAD, KOMPAS.com - Pengadilan Irak telah menjatuhkan hukuman mati kepada total 11 warga negara Perancis karena bergabung dengan kelompok teroris ISIS.

Jumlah tersebut termasuk dua warga Perancis yang dijatuhi hukuman gantung dalam persidangan yang digelar Senin (3/6/2019).

Dua warga Perancis terakhir yang dijatuhi hukuman mati pada hari Senin adalah Bilel Kabaoui (32) dan Mourad Delhomme (41).

Kini keduanya memiliki waktu 30 hari untuk mengajukan banding atas hukuman tersebut.

Keduanya menyusul sembilan terpidana mati asal Perancis lainnya yang telah diputuskan sebelumnya dalam persidangan selama sepekan terakhir.

Dengan putusan tersebut, maka seluruh warga Perancis terduga anggota ISIS yang dipindahkan dari Suriah ke Irak, telah dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati.

Baca juga: Perancis Sebut Ada 450 Warganya yang Terkait ISIS Ditahan di Suriah

Sekelompok warga Perancis yang dijatuhi hukuman mati itu adalah mereka yang diserahkan oleh pasukan Suriah yang didukung AS kepada otoritas Irak awal tahun ini, setelah menarik keluar mereka dari benteng pertahanan terakhir ISIS di Baghouz,

Di persidangan, Senin (3/6/2019), Delhomme yang menggunakan nama Abu Ayman saat bergabung dengan ISIS, menerangkan bahwa dia dikenal sebagai anggota yang tidak pernah bersumpah setia maupun bekerja untuk kelompok teroris itu.

Dia juga menjelaskan alasan dirinya ke Suriah karena hendak menyelamatkan istri mendiang sahabatnya yang ditahan pemberontak karena suaminya telah tewas saat bertempur bersama ISIS.

Meski membantahnya di persidangan, Delhomme disebut telah mengaku kepada penyelidik bahwa dia bergabung dengan Brigade Tariq Ibn Ziyad, sebuah unit ISIS yang digambarkan sebagai "sel anggota teroris asing asal Eropa".

Kelompok itu dituduh telah melancarkan serangan di Irak dan Suriah, serta merencanakan serangan lainnya di Paris dan Brussels.

Sementara Kabaoui, dalam pembelaannya mengaku tindakannya bergabung dengan ISIS karena dorongan jiwa muda yang bodoh.

"Lima tahun lalu saya sangat bodoh. Saya yakin saya bisa meninggalkan Suriah ketika saya mau," ujarnya di hadapan hakim persidangan.

Dia mengklaim telah meminta keluarganya di Perancis untuk menghubungi badan intelijen agar membantunya untuk dapat kembali kepada istri dan tiga anaknya.

Baca juga: Biarkan Warganya yang Terkait ISIS Diadili di Irak, Perancis Menuai Kecaman

Karena alasan itulah, dirinya memutuskan menyerahkan diri kepada pasukan Kurdi Suriah yang didukung AS pada akhir 2017.

Irak dikabarkan telah menjatuhkan hukuman kepada lebih dari 500 pria dan wanita diduga anggota asing IS sejak awal 2018.

Pengadilan Irak telah menjatuhkan hukuman mulai dari penjara seumur hidup hingga hukuman mati, meski pada kenyataannya belum ada anggota asing ISIS yang dieksekusi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber AFP


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.