Kompas.com - 22/05/2019, 21:08 WIB

ALEXANDRIA, KOMPAS.com - Seorang mantan sopir taksi online Uber di Negara Bagian Virginia, Amerika Serikat (AS), dilaporkan merupakan penjahat perang Somalia.

Mantan Kolonel Yusuf Abdi Ali, dikenal juga dengan julukan Tukeh atau Si Gagak, dituduh menyiksa seorang pria saat perang sipil Somalia pada akhir 1980-an.

Ali merupakan komandan di militer Somalia, dan diduga melakukan penyiksaan dan pembunuhan terhadap ratusan orang selama rezim diktator MOhamed Siad Barre.

Baca juga: Seperti Layanan Uber, Drone Ini Antarkan Ginjal untuk Transplantasi

Dilansir BBC dan The Independent Rabu (22/5/2019), Ali dikenali oleh salah satu korbannya bernama Farhan Tani Warfaa yang hampir mati karena disiksa dan ditembak.

Dia pertama kali melaporkan kejahatan Ali pada 20014. Warfaa berkata, dia diculik ketika berusia 17 tahun pada 1987 ketika terjadi insiden truk tangki air menghilang.

Selama interogasi yang berlangsung berminggu-minggu, Warfaa mengaku dia disiksa dengan tangan dan kakinya direntangkan yang dikenal dengan nama "Mig".

Pada akhirnya, Kolonel Tukeh memerintahkan pengikutnya untuk menembak Warfaa beberapa kali dan berniat meninggalkannya mati kehabisan darah ketika terjadi serangan.

Seorang tentara diperintahkan untuk menguburkan Warfaa. Namun ketika diketahui dia masih bernapas, tentara itu segera mengembalikannya kepada keluarganya.

Dalam pengadilan di Alexandria, Ali mengakui bahwa dia merupakan seorang Kolonel Somalia. Namun, dia membantah sudah melakukan penyiksaan terhadap Warfaa.

Pengacaranya Joseph Peter Drennan mengemukakan Warfaa termotivasi oleh pembalasan dendam kliennya. Namun keterangan Drennan dan Ali tak cukup meyakinkan juri.

Ali diputuskan bersalah pada sidang Selasa (21/5/2019). Dia diperintahkan membayar ganti rugi sebesar 500.000 dollar AS, sekitar Rp 7,2 miliar, kepada Warfaa.

"Saya sangat, sangat puas dengan hasilnya," kata Warfaa yang dibantu seorang penerjemah seusai sidang. Kuasa hukumnya menyatakan Warfaa sudah menunggu 31 tahun untuk momen ini.

Jati diri Ali terungkap pada 1992 melalui tayangan dokumenter yang dibuat CBC. Saat tayangan itu muncul, dia bekerja sebagai penjaga keamanan di Toronto.

Pasca-tayangan itu, pemerintah Kanada langsung mengusir Ali karena "pelanggaran kemanusiaan serius". Setelah itu, AS juga memproses deportasi.

Namun, dia kembali ke AS pada 1996. Tidak jelas bagaimana dia bisa masuk kembali. Kementerian Keamanan Dalam Negeri memilih untuk tidak berkomentar.

Mei ini, seorang jurnalis CNN yang menyamar menaiki mobil yang dikemudikan Ali. Hingga bulan ini, dia bekerja sebagai sopir Uber dengan rating 4,89.

Saat ditanyakan apakah prosedurnya rumit, Ali menjawab tidak terlalu. "Mereka hanya membutuhkan pemeriksaan latar belakang Anda saja. Semudah itu," katanya.

Dia sempat menjadi mitra Uber selama 18 bulan sebelum pengadilan menetapkannya bersalah. Uber melalui juru bicaranya mengatakan mereka sudah memblokir Ali selamanya.

Baca juga: Banding, Hukuman Penjahat Perang Bosnia-Serbia Ini Naik Jadi Penjara Seumur Hidup

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.