Kompas.com - 20/05/2019, 17:29 WIB

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dia tidak akan membiarkan China menjadi nomor satu di dunia selama dia berkuasa.

Dalam wawancara dengan Fox News dikutip SCMP Senin (20/5/2019), Trump mengaku "sangat bahagia" dengan perang dagang antara negaranya dengan China.

Baca juga: Patung Robot Toilet Trump Siap Sambut Presiden AS Saat Kembali Kunjungi Inggris

"Kami mengambil kembali miliaran dollar," kata presiden ke-45 AS itu ketika ditanyakan tujuan akhir dari perang dagang. "China jelas tak melakukannya sebaik kami," lanjutnya.

Komentar Trump menjadi sinyal dia tidak akan terburu-buru kembali bernegosiasi dengan Beijing setelah perundingan terakhir pada awal Mei ini kolaps.

Sejak saat itu, presiden dari Partai Republik itu menaikkan tarif terhadap berbagai produk China, dan berencana melarang Huawei mendapatkan akses ke pangsa pasar AS.

Raksasa telekomunikasi itu beserta dengan perusahaan yang berafiliasi dengannya dilaporkan telah dimasukkan ke dalam daftar hitam akses menuju pemasok utama AS.

Trump melanjutkan, ekonomi Negeri "Panda" itu saat ini "tidak berada" dalam momen bagus. "Karena mereka mengejar kami, mereka bakal lebih besar dari kami," paparnya.

Presiden 72 tahun itu kemudian mengomentari mantan rival politiknya Hillary Clinton dan berandai-andai jika Hillary yang menjadi orang nomor satu AS.

"Jika dia menjadi presiden, maka China bakal menjadi lebih besar lagi di akhir jabatannya. Kini di masa jabatan saya, peluang itu bahkan tak lebih dekat," klaimnya.

Trump juga berkata dia meyakini Beijing saat ini tengah berupaya menggeser mereka sebagai negara adidaya. Selama saya menjabat, China tak akan jadi nomor satu," tegas dia.

"Saya pikir ini merupakan tujuan mereka sejak awal. Mengapa tidak? Anda tahu, mereka merupakan orang-orang yang pintar dan juga ambisius," terang Trump.

Pada 2018, ekonom di HSBC Holdings memprediksi China berada di jalur yang benar untuk menjadi raksasa utama ekonomi dunia 12 tahun dari sekarang.

Dikatakan pada 2030, GDP China bakal mencapai 26 triliun dollar AS, sekitar Rp 376.027 triliun. Sementara AS 25,2 triliun dollar AS, atau Rp 364.457 triliun.

Baca juga: Gara-gara Perang Dagang dengan China, Petani Ini Tak Bakal Pilih Trump Lagi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.