Kompas.com - 17/05/2019, 07:29 WIB

RIYADH, KOMPAS.com - Arab Saudi telah membuka kembali pipa minyak utama setelah ditutup karena serangan pesawat tanpa awak atau drone bersenjata.

Serangan pada Selasa (14/5/2019) di pipa Provinsi Timur itu diklaim oleh kelompok pemberontak di Yaman yang didukung Iran, Houthi.

Diwartakan kantor berita AFP, Kamis (16/5/2019), pejabat dari perusahaan minyak Aramco mengatakan jaringan Wast West Pipeline telah beroperasi penuh.

Baca juga: Kapal Tanker dan Pipa Minyaknya Diserang, Arab Saudi Kirim Pesawat Pembom ke Yaman

Serangan dilakukan di tengah ketegangan yang meningkat antara AS dan Iran, setelah AS mengirim pasukan untuk menanggapi sabotase misterius terhadap kapal-kapal di wilayah Teluk.

Pipa yang memompa 5 juta barel minyak mentah setiap hari itu merupakan rute alternatif strategis untuk ekspor Saudi, apabila jalur pengiriman dari Teluk melalui Selat Hormuz ditutup.

Iran telah berulang kali mengancam akan menutup selat tersebut jika terjadi konfrontasi militer dengan AS.

Wakil Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman menuduh Iran memerintahkan serangan terhadap saluran pipa, sebuah tindakan yang dia klaim sebagai serangan teroris.

"Serangan oleh milisi Houthi yang didukung Iran terhadap dua stasiun pompa Aramco membuktikan milisi ini hanyalah alat yang digunakan rezim Iran untuk mengimplementasikan agenda ekspansionisnya di kawasan," kicuanya di Twitter.

Sebagai tindakan balasan, koalisi pimpinan Saudi mengkonfirmasi bahwa pesawat tempurnya telah melancarkan serangan ke wilayah di Yaman yang dikuasai pemberontak, pada Kamis (16/5/2019).

Sementara, Houthi mengatakan serangan itu untuk membalas tindakan Saudi di Yaman.

Saudi dan sekutu-sekutunya campur tangan di negara paling miskin di dunia Arab itu pada 2015 untuk mendukung pemerintahan Presiden Abedrabbo Mansour Hadi.

Baca juga: Saudi: Serangan Drone dan Kapal Ingin Ganggu Pasokan Minyak Dunia

Pasukan yang didukung koalisi telah merebut kembali sebagian besar wilayah selatan, tapi ibu kota dan dataran tinggi tengah yang padat tetap dikuasai pemberontak.

Lebih dari empat tahun konflik tersebut telah memicu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, seperti apa yang telah dilukiskan oleh PBB.

Lebih dari 24 juta orang atau sekitar dua pertiga populasi membutuhkan bantuan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.