Kompas.com - 14/05/2019, 12:47 WIB

PYONGYANG, KOMPAS.com - Korea Utara menuntut AS untuk mengembalikan kapal barang yang disita negara itu pada pekan lalu.

Pemerintah Korea Utara pada Selasa (14/5/2019) menyebut penyitaan itu sebagai aksi perampokan ilegal.

Seperti diketahui, AS menyita kapal Korea Utara karena melanggar sanksi internasional.

Baca juga: Trump Sebut Uji Coba Rudal Korea Utara Bukan Pelanggaran Kepercayaan

Pada Jumat lalu, Kementerian Kehakiman AS mengatakan, kapal curah M/V Wise Honest yang terdaftar di Korea Utara telah diambil alih, satu tahun setelah kapal ditahan di Indonesia.

Melansir AFP, ini merupakan pertama kalinya kapal kargo Korea Utara ditangkap oleh AS atas pelanggaran sanksi.

Selama ini, kapal Korea Utara disamarkan dengan bendera palso dan mematikan transmisi pelacak untuk menghindari ditemukan oleh kapal lain.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara mengecam langkah AS.

Dia mengatakan, penyitaan itu merupakan pelanggaran langsung terjadap semangat dari kesepakatan antara Kim Jong Un dan Donald Trump di Singapura pada tahun lalu.

"AS melakukan aksi perampokan ilegal dengan menyita kapal kargo kami dengan mengutip sanksi Dewan Keamanan PBB," demikian pernyataan juru bicara melalui kantor berita Korut KCNA.

Dia menilai, penyitaan kapal merupakan buntut dari perhitungan AS untuk membuat Korut bertekuk lutut karena tekanan maksimum.

"AS harus menyadari konsekuensi dari aksinya yang seperti gangster," ujar juru bicara.

"AS mesti mengembalikan kapal kami tanpa penundaan," imbuhnya.

Penyitaan kapal Korut oleh AS terjadi ketika ketegangan meningkat karena uji coba peluncuran rudal jarak pendek Pyongyang pekan lalu.

Baca juga: Korsel: Korea Utara Tembakkan Proyektil Jarak Pendek

Kapal Wise Honest berbobot 17.000 ton dibuat pada 1989 dan ditangkap oleh otoritas Indonesia pada 2 April 2018, lebih dari dua bulan sebelum Trump dan Kim menggelar KTT di Singapura.

Kapal itu mengangkut pengiriman batu bara Korea Utara senilai 3 juta dollar AS atau sekitar Rp 43 miliar.

Kapal memasuki perairan Indonesia dengan transmisi pelacakan AIS yang dimatikan dan beroperasi di bawah registrasi di Korut dan Sierra Leone.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.