Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Tentukan Pilihanmu
0 hari menuju
Pemilu 2024
Kompas.com - 10/05/2019, 09:58 WIB

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad telah menegaskan bahwa dia bakal menyerahkan jabatan kepada mantan seterunya, Anwar Ibrahim.

Ketika menenangkan pemilu pada 9 Mei 2018 lalu, Mahathir sepakat bakal menyerahkan jabatan perdana menteri kepada Anwar setelah dua tahun berkuasa.

Baca juga: Mahathir: Anwar Ibrahim adalah Pengganti Saya Jadi Perdana Menteri Malaysia

Namun dikutip The Star Kamis (9/5/2019) meminta supaya kursi orang nomor satu Malaysia itu diserahkan kepada Presiden Partai Keadilan Rakyat (PKR) dalam waktu setahun.

Dalam konferensi pers dengan media asing, Mahathir mengungkapkan nantinya dia yang akan menangani sebagian besar masalah negara dalam waktu dua tahun.

"Nantinya pengganti saya tisak akan kesulitan dalam mengelola sisanya," terang Mahathir. Jurnalis asing kemudian menanyakan apakah benar dia hanya berkuasa selama dua tahun.

"Saya tidak tahu apakah bakal menjabat selama dua tahun atau tiga tahun. Yang jelas status saya adalah perdana menteri sementara," tegas Mahathir.

Menurut PM berjuluk Dr M itu, aalah satu problem yang tengah diselesaikan oleh pemerintahan Pakatan Harapan selama 12 bulan terakhir adalah korupsi.

Mahathir menuturkan pemerintahan terdahulu milik Najib Razak sangatlah korup. Dia kemudian mengklaim korupsi saat ini sudah menurun sangat jauh.

"Jadi, pada tahun ini saya kira pemerintahan Pakatan bakal fokus kepada isu peningkatan ekonomi," kata Mahathir yang bakal berulang tahun ke-94 Juli nanti.

Pakatan menyatakan pemerintahan Najib dan Barisan Nasional meninggalkan utang negara hingga 1,1 triliun ringgit, atau sekitar Rp 3.798 triliun.

Sejumlah sektor yang dianggap menimbulkan korupsi menumpuk adalah proyek East Coast Rail Link yang dinegosiasikan ulang dan menangguhkan proyek High-Speed Rail ke Singapura.

Meski begitu, Mahathir mengaku ada janji yang tidak bakal bisa dia tepati karena kendala keuangan dan perlunya amendemen dalam konstitusi negara.

"Karena itu, kami butuh setidaknya dua per tiga di parlemen dan membutuhkan dukungan dari oposisi," terang Mahathir yang pernah berkuasa pada 1981-2003 itu.

Baca juga: Anwar Ibrahim Harus Gantikan Mahathir Jadi PM Malaysia Secepatnya

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke