Umumkan Sanksi Baru, Trump Berharap Bisa Bertemu Pemimpin Iran

Kompas.com - 09/05/2019, 07:22 WIB
Presiden AS Donald Trump saat mengunjungi perbatasan selatan di California yang berseberangan dengan Meksiko, Jumat (5/4/2019). AFP / SAUL LOEBPresiden AS Donald Trump saat mengunjungi perbatasan selatan di California yang berseberangan dengan Meksiko, Jumat (5/4/2019).

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan sanksi baru kepada Iran yang mengancam bakal melakukan pengayaan uranium untuk menciptakan nuklir.

Trump mengeluarkan perintah eksekutif berisi rilis sanksi yang menargetkan sektor besi, aluminium, baja, dan tembaga yang menjadi sumber ekspor Iran setelah minyak.

Dilansir AFP Rabu (8/5/2019), Trump menyatakan dia menargetkan pendapatan Iran dari sektor besi yang menyumbangkan sekitar 10 persen dari total ekspor.

Baca juga: Iran Ancam Bakal Memproses Uranium untuk Membuat Nuklir dalam Jumlah Besar jika...

"Saya memberitahukan kepada negara lain bahwa menerima baja maupun produk industri besi Iran di pelabuhan Anda kini tidak diperbolehkan," tegas dia.

Diberitakan Sky News, sektor itu memberi sumbangsih berupa mata uang asing kepada perekonomian Iran yang saat ini dilaporkan tengah dilanda masalah.

Presiden berusia 72 tahun itu mengatakan Teheran bisa mendapatkan sanksi lebih keras kecuali bersedia mengubah perilakunya tanpa menjabarkan lebih rinci.

Namun, Trump menyatakan dia bersedia bernegosiasi. Langkah yang dilakukannya dengan Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un sebelum keduanya bertemu.

"Saya berharap suatu hari nanti bisa bertemu dengan para pemimpin Iran dalam rangka mengupayakan perjanjian dan lebih penting, memberi Iran masa depan yang dibutuhkan," katanya.

Keputusan presiden ke-45 dalam sejarah AS itu terjadi setelah Iran mengumumkan bakal membatalkan sejumlah perjanjian nuklir yang dibuat pada 2015.

Iran mengancam untuk menambah stok uranium hingga ke level senjata nuklir dalam 60 hari ke depan kecuali negara besar menawarkan perjanjian baru.

Pernyataan yang disampaikan Presiden Hassan Rouhani muncul tepat setahun setelah Trump mengumumkan menarik diri dari perjanjian yang diteken di era pendahulunya, Barack Obama.

Rouhani memberikan ultimatum kepada negara yang masih memberi dukungan kepada perjanjian nuklir 2015. Seperti China, Rusia, Jerman, Inggris, maupun Uni Eropa.

"Jika kelima negara itu bernegosiasi bersama dan membantu Iran mencapai keuntungan di bidang perbankan dan minyak, maka Iran bakal kembali berkomitmen," tegas Rouhani.

Baca juga: Netanyahu: Kita Tidak Bisa Izinkan Iran Miliki Persenjataan Nuklir

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Sky News,AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wabah Virus Corona: Jerman Umumkan Penularan Antar-manusia Pertama

Wabah Virus Corona: Jerman Umumkan Penularan Antar-manusia Pertama

Internasional
Quraish Shihab Terima Penghargaan Bintang Tanda Kehormatan dari Mesir

Quraish Shihab Terima Penghargaan Bintang Tanda Kehormatan dari Mesir

Internasional
'Teman Saya Batuk, Orang-orang Melirik dan Menghindar Mas'

"Teman Saya Batuk, Orang-orang Melirik dan Menghindar Mas"

Internasional
Pria Jepang yang Tak Pernah ke China Terkena Virus Corona

Pria Jepang yang Tak Pernah ke China Terkena Virus Corona

Internasional
Asal Wabah Virus Corona yang Mematikan Terungkap

Asal Wabah Virus Corona yang Mematikan Terungkap

Internasional
China Akui Kekurangan Alat-alat Medis untuk Perangi Virus Corona

China Akui Kekurangan Alat-alat Medis untuk Perangi Virus Corona

Internasional
Arab Saudi Larang Warga Israel untuk Berkunjung

Arab Saudi Larang Warga Israel untuk Berkunjung

Internasional
Korban Meninggal karena Virus Corona di China Melonjak Jadi 106 Orang

Korban Meninggal karena Virus Corona di China Melonjak Jadi 106 Orang

Internasional
Virus Corona Merebak, 16 Negara di Dunia Umumkan Kasus Positif

Virus Corona Merebak, 16 Negara di Dunia Umumkan Kasus Positif

Internasional
Jerman Umumkan Kasus Pertama Virus Corona di Negaranya

Jerman Umumkan Kasus Pertama Virus Corona di Negaranya

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Perkembangan Korban Meninggal Virus Corona | 3 Roket Hantam Kedubes AS di Irak

[POPULER INTERNASIONAL] Perkembangan Korban Meninggal Virus Corona | 3 Roket Hantam Kedubes AS di Irak

Internasional
Berkendara Sambil Mandi, 2 Pria di Vietnam Didenda Rp 1 Juta

Berkendara Sambil Mandi, 2 Pria di Vietnam Didenda Rp 1 Juta

Internasional
Hubungan Mulai Mesra, Israel Izinkan Warganya Pergi ke Arab Saudi secara Resmi

Hubungan Mulai Mesra, Israel Izinkan Warganya Pergi ke Arab Saudi secara Resmi

Internasional
Sibuk Merawat Pasien Virus Corona, Tim Medis Pakai Popok Dewasa

Sibuk Merawat Pasien Virus Corona, Tim Medis Pakai Popok Dewasa

Internasional
Ibu Ini Dituduh Bunuh Bayinya yang Baru Lahir dengan Dimasukkan ke Mesin Cuci

Ibu Ini Dituduh Bunuh Bayinya yang Baru Lahir dengan Dimasukkan ke Mesin Cuci

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X