Peringatkan China, Jepang Disebut Bakal Tempatkan 300 Tentara ke Kapal Perang

Kompas.com - 06/05/2019, 19:18 WIB
Kapal induk pengangkut helikopter Izumo milik Pasukan Bela Diri Maritim Jepang. SCMP / KYODO NEWSKapal induk pengangkut helikopter Izumo milik Pasukan Bela Diri Maritim Jepang.

TOKYO, KOMPAS.com - Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) disebut sedang mempertimbangkan untuk menempatkan tentaranya ke atas kapal perang milik Pasukan Bela Diri Maritim (MSDF) yang berada di perairan barat daya negara itu.

Apabila terlaksana, maka ini akan menjadi peningkatan terbaru militer Jepang dalam memberikan sinyal jelas kepada Beijing bahwa Tokyo akan bertindak tegas dalam mempertahankan kedaulatan wilayahnya.

Mengutip sumber-sumber pemerintah yang tidak disebutkan, surat kabar Yomiuri melaporkan bahwa para pejabat militer Jepang telah menimbang untuk menempatkan sebanyak 300 anggota pasukan amfibi dari Pasukan Bela Diri Darat (GSDF) untuk ditugaskan ke kapal angkut kelas Osumi.

Baca juga: Saat Pesawat Kamikaze Lakukan Perjalanan Pertama dari Jepang Ke Eropa


Dibentuk pada April 2018, unit yang didasarkan para Korps Marinir AS ini secara khusus disiapkan untuk melancarkan serangan menuju pesisir pantai dan merebut kembali pulau-pulau yang dikuasai oleh musuh.

Salah satu sumber mengatakan kepada Yomiuri bahwa pasukan amfibi tersebut dapat dikerahkan ke atas kapal seberat 8.900 ton itu secepatnya pada tahun depan.

Disebutkan bahwa kapal angkut itu mampu membawa hingga delapan unit helikopter dan memiliki buritan dari mana pesawat pendarat yang lebih kecil dapat diluncurkan.

Sementara sumber lainnya mengatakan, operasi gabungan antara pasukan darat dengan maritim tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan pencegahan sekaligus menunjukkan tekad Jepang dalam mempertahankan kedaulatan wilayahnya.

Menurut Yoichi Shimada, seorang profesor hubungan internasional di Universitas Fukui, mengatakan bahwa operasi tersebut kemungkinan besar mengandung pesan yang ditujukan kepada China.

"Beijing masih mengklaim Kepulauan Senkaku sebagai wilayah China," ujarnya, mengacu pada kepulauan yang terletak antara Jepang dengan daratan Asia yang disebut China sebagai Kepulauan Daioyu.

"Pesan itu menjadi indikasi yang jelas bahwa Jepang akan mempertahankan wilayahnya yang merupakan bagian dari perkembangan lain di dalam dan sekitar Prefektur Okinawa."

"Jepang memiliki perjanjian keamanan dengan AS, namun di bawah pemerintahan Donald Trump kita melihat Washington mulai menarik pasukannya dari penempatan di luar negeri. Hal ini menjadikan Jepang memiliki beban yang lebih berat untuk memastikan kedaulatan di wilayahnya sendiri," tambah Shimada, dikutip SCMP.

Baca juga: Jepang Kembangkan Rudal Jelajah Jarak Jauh Udara-ke-Kapal Pertama

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber SCMP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pria di Harlem Tembak Tetangga Apartemen karena Terlalu Berisik

Pria di Harlem Tembak Tetangga Apartemen karena Terlalu Berisik

Internasional
Erdogan Ancam Bakal 'Hancurkan Kepala' Pasukan Kurdi Jika Tak Keluar dari Zona Aman

Erdogan Ancam Bakal "Hancurkan Kepala" Pasukan Kurdi Jika Tak Keluar dari Zona Aman

Internasional
ISIS Pakai Jenazah Anak-anak untuk Jebakan Granat, Nyaris Lukai Pasukan Khusus Inggris SAS

ISIS Pakai Jenazah Anak-anak untuk Jebakan Granat, Nyaris Lukai Pasukan Khusus Inggris SAS

Internasional
Warga Protes Kenaikan Harga Tiket Kereta, Presiden Chile Umumkan Keadaan Darurat

Warga Protes Kenaikan Harga Tiket Kereta, Presiden Chile Umumkan Keadaan Darurat

Internasional
Dari 80 Detik hingga 19 Jam, Inilah Penerbangan Tersingkat dan Terlama di Dunia

Dari 80 Detik hingga 19 Jam, Inilah Penerbangan Tersingkat dan Terlama di Dunia

Internasional
Pemilu Kanada 2019, Bagaimana Peluang PM Justin Trudeau untuk Kembali Terpilih?

Pemilu Kanada 2019, Bagaimana Peluang PM Justin Trudeau untuk Kembali Terpilih?

Internasional
Presiden Meksiko Dukung Keputusan Pihak Keamanan Bebaskan Putra El Chapo

Presiden Meksiko Dukung Keputusan Pihak Keamanan Bebaskan Putra El Chapo

Internasional
Korban Tewas Ledakan di Masjid Afghanistan Jadi 62 Orang, Taliban Bantah Terlibat

Korban Tewas Ledakan di Masjid Afghanistan Jadi 62 Orang, Taliban Bantah Terlibat

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Keluarga Belanda Tinggal 9 Tahun di Bawah Tanah | Indonesia Kembali Jadi Anggota Dewan HAM PBB

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Keluarga Belanda Tinggal 9 Tahun di Bawah Tanah | Indonesia Kembali Jadi Anggota Dewan HAM PBB

Internasional
Izinkan Artis Masuk Kokpit dan Pegang Kendali Pesawat, Pilot Dilarang Terbang Seumur Hidup

Izinkan Artis Masuk Kokpit dan Pegang Kendali Pesawat, Pilot Dilarang Terbang Seumur Hidup

Internasional
Pemerintah Berencana Berlakukan Pajak WhatsApp, Warga Lebanon Gelar Unjuk Rasa

Pemerintah Berencana Berlakukan Pajak WhatsApp, Warga Lebanon Gelar Unjuk Rasa

Internasional
Ledakan Bom di Masjid Afghanistan saat Shalat Jumat, 28 Jemaah Tewas

Ledakan Bom di Masjid Afghanistan saat Shalat Jumat, 28 Jemaah Tewas

Internasional
Gara-gara Postingan Facebook, Pria Pakistan Ini Dijatuhi Hukuman Penjara 5 Tahun

Gara-gara Postingan Facebook, Pria Pakistan Ini Dijatuhi Hukuman Penjara 5 Tahun

Internasional
Kucingnya Dibunuh, Wanita di Rusia Mutilasi Teman Serumah

Kucingnya Dibunuh, Wanita di Rusia Mutilasi Teman Serumah

Internasional
Qantas Uji Coba Penerbangan Langsung Terlama dari New York ke Sydney selama 19 Jam

Qantas Uji Coba Penerbangan Langsung Terlama dari New York ke Sydney selama 19 Jam

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X