Erdogan: Jika Turki Tak Tampung Jutaan Pengungsi, Eropa Tak Bakal Hidup Damai

Kompas.com - 04/05/2019, 17:29 WIB
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berpidato dalam pertemuan Partai Keadilan dan Pembangunan Turki (AKP) di Ankara, Jumat (26/1/2018). Adem Altan / AFPPresiden Turki Recep Tayyip Erdogan berpidato dalam pertemuan Partai Keadilan dan Pembangunan Turki (AKP) di Ankara, Jumat (26/1/2018).

ANKARA, KOMPAS.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan Erdogan tidak akan bisa menikmati hidup aman dan damai jika negaranya tak berinisiatif menampung jutaan pengungsi.

"Jika negara-negara Eropa bisa hidup tenteram dan damai, itu karena Turki menampung 4 juta pengungsi," terang Erdogan kepada Anadolu via Russian Today Sabtu (4/5/2019).

Baca juga: Erdogan: Proyek Jet Tempur F-35 Bisa Kolaps Tanpa Bantuan Turki

Uni Eropa (UE) sepakat membayar Turki 3 miliar euro, sekitar Rp 47,7 triliun, sebagai ganti menampung pengungsi dan mencegah mereka untuk memasuki Benua Biru pada 2015.

Setahun berselang, kesepakatan formal dijalin antara Turki dengan UE di mana migran ilegal yang mendarat di pantai Eropa bakal dikembalikan ke Turki.

Sebagai gantinya, Brussels berjanji bakal mempercepat pembahasan penawaran Turki bergabung dengan blok itu. Sebagai bagian perjanjian, Turki meminta tambahan dana 3 miliar euro untuk menangani krisis kemanusiaan.

Baik UE maupun Turki sama-sama mempunyai penafsiran berapa jumlah pengungsi yang ditampung Turki dan berapa banyak uang yang dibutuhkan untuk menangani mereka.

Sebagai contohnya, pada 2018 lalu UE mengklaim Turki menampung kurang dari 2 juta pengungsi. Sementara Ankara bersikukuh jumlahnya mencapai empat juta.

Meski Turki sudah berusaha sebaik mungkin menampung pengungsi, Eropa dalam beberapa tahun terakhir diguncang serangan teror, dengan si teroris menyamar sebagai pengungsi.

Sementara Turki dan Uni Eropa bersitegang mengenai sejumlah isu seperti perjalanan bebas visa ke kebebasan pers, beberapa negara Eropa mulai menyatakan terima kasih.

"Keamanan Eropa mulai hari ini dimulai di Turki," kata Menteri Luar Negeri Hongaria Peter Szijjarto dalam konferensi pers gabungan bersama Menlu Turki Mevlut Cavusoglu.

Lebih dari 1 juta migran dilaporkan tumpah ke Eropa pada 2015. Meski jumlahnya mulai berkurang, krisis itu membuat sekat dengan kelompok sayap kanan yang dikenal anti-migran.

Baca juga: Erdogan: Pengiriman Sistem Rudal S-400 dari Rusia Bisa Dipercepat



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X