Kompas.com - 04/05/2019, 09:50 WIB

SEOUL, KOMPAS.com - Korea Utara (Korut) dilaporkan telah menembakkan sejumlah proyektil jarak pendek ke laut. Sebuah aksi pertama dalam satu tahun terakhir pada Sabtu (4/5/2019).

Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (Korsel) dalam pernyataan bersama mengemukakan, Korut menembakkan proyektil itu antara pukul 09.06-09.27 waktu setempat.

"Proyektil itu ditembakkan dari Semenanjung Hodo dekat kota pesisir Wonsan menuju ke arah timur laut," demikian keterangan Kepala Staf Gabungan Korsel dilansir AFP.

Baca juga: Trump Sambut Baik China dan Rusia Bantu Negosiasi Denuklirisasi Korea Utara

Proyektil itu melaju sepanjang 70 sampai 200 kilometer ke arah Laut Timur, dikenal juga sebagai Laut Jepang. Dalam pernyataan awal, Korsel menyebut Korut menembakkan rudal.

Jika keterangan pertama benar, maka terakhir kali Pyongyang melaksanakan uji coba rudal terjadi pada 28 November 2017. Saat itu, Korut meluncurkan rudal balistik antar-benua (ICBM) Hwasong-15.

Uji coba itu terjadi sehari setelah Menteri Luar Negeri Korsel Kang Kyung-wha mengatakan Korut harus menunjukkan sikap "konkret, substansif, dan terlihat" saat denuklirisasi jika ingin sanksi dicabut.

Selain uji coba itu terjadi setelah pertemuan antara Pemimpin Korut Kim Jong Un dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Hanoi, Vietnam.

Pertemuan yang berlangsung Februari lalu itu mengalami kebuntuan setelah kedua kubu tidak sepakat mengenai sanksi yang harus dicabut demi melakukan denuklirisasi.

Awal pekan ini, Wakil Menlu Korut Choe Son Hui memperingatkan Washington bakal mendapat "konsekuensi tak diinginkan" jika tidak mengubah sikapnya dalam mencabut sanksi ekonomi.

Sepanjang 2018, Pyongyang tidak menggelar uji coba senjata nuklir maupun rudal setelah Kim melakukan pertemuan bersejarah dengan Trump dan Presiden Korsel Moon Jae-in.

Analis Korut Ankit Panda memaparkan uji coba itu tidak melanggar moratorium Kim. Sebab, perjanjian itu hanya mencakup rudal balistik antar-benua.

"Secara historis, Korut tidak melaksanakan uji coba senjata apapun selama berada dalam momen pertemuan dengan AS. Pada saat ini pun, tak ada dialog di antara mereka," terang Panda.

Direktur Studi Korea di Center for the National Interest Harry J Kazianis berkata, melalui uji coba itu Kim bermaksud menunjukkan kepada dunia, terutama AS bahwa kemampuan militernya masih kuat.

"Ketakutan saya adalah saat ini kami berada dalam situasi yang mundur ke belakang di mana terjadi ancaman perang nuklir hinaan personal. Kondisi yang harus dihindari," tegas dia.

Baca juga: Korut: Jika Terus Paksakan Kehendak, AS Bakal Hadapi Konsekuensi Tak Diinginkan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber AFP
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.