Kelompok Kriminal dan Ekstremis Kuasai Kamp Pengungsi Rohingya di Bangladesh

Kompas.com - 25/04/2019, 23:05 WIB
Warga Rohingya saat melakukan aksi protes memperingati satu tahun serangan militer Myanmar di Rakhine yang membuat mereka mengungsi ke Bangladesh, 25 Agustus 2018. AFP / DIBYANGSHU SARKARWarga Rohingya saat melakukan aksi protes memperingati satu tahun serangan militer Myanmar di Rakhine yang membuat mereka mengungsi ke Bangladesh, 25 Agustus 2018.

DHAKA, KOMPAS.com - Kelompok- kelompok kriminal dan gerilyawan disebut telah semakin mengendalikan kamp-kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh.

Kelompok-kelompok itu disebut melakukan tindak kriminal mulai dari penculikan hingga pembunuhan tanpa ada penindakan hukum. Demikian menurut laporan dari International Crisis Group (ICG) pada Kamis (25/4/2019).

Ratusan ribu warga etnis Rohingya telah melarikan diri dari Myanmar menuju Bangladesh pada Agustus 2017, setelah adanya tindakan keras dari militer Myanmar terhadap anggota gerilyawan Rohingya.

Hampir 1 juta pengungsi Rohingya yang kini menempati kamp-kamp pengungsi yang penuh sesak dan kumuh di perbatasan Bangladesh.

Baca juga: Nasib Pengungsi Rohingya, Edarkan Narkoba dan Ditembak Pasukan Bangladesh

Menurut ICG, setelah hampir dua tahun dan belum ada tanda-tanda akan dapat kembalinya warga Rohingya ke kampung halaman mereka di Rakhine, kini komunitas internasional didesak agar mulai bergerak untuk mau menampung para pengungsi untuk beberapa tahun ke depan.

Kelompok riset konflik telah mendesak otoritas Bangladesh untuk menambah kehadiran polisi, seiring pergerakan dan aktivitas kelompok kriminal, geng, dan ekstremis yang semakin terang-terangan.

Dan dengan makin tingginya ancaman dari para ekstremis terhadap para pemimpin Rohingya, belum maraknya kasus pembunuhan yang tidak terpecahkan, semakin menambah kekhawatiran para pengungsi akan keselamatan nyawa mereka di pengungsian.

"Para pengungsi mengungkapkan keprihatinan yang serius tertang keamanan pribadi mereka, dengan kelompok gerilya dan geng semakin mengintimidasi, menculik, bahkan membunuh, tanpa ada ancaman hukuman," kata ICG dalam laporannya.

"Pembunuhan dan bentuk kekerasan lainnya sudah menjadi kejadian rutin hampit setiap malam dan pelaku hampir tidak pernah diadili," tambahnya.

"Beberapa pemimpin komunitas Rohingya juga mengaku telah menerima ancaman kematian, yang mereka yakini datang dari ARSA atau pasukan pembebasan Rohingya Arakan," lanjut laporan ICG.

Baca juga: Disangka Penyelundup Manusia, Pembuat Film asal Jerman Dihajar Warga Rohingya

Kelompok ARSA telah kerap disalahkan atas serangan mematikan terhadap pasukan keamanan Myanmar, termasuk yang memicu kekerasan pada 2017.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Di Turki, Risma Cerita soal Kelucuan Bonek

Di Turki, Risma Cerita soal Kelucuan Bonek

Internasional
Australia Bersiap Hadapi Hari Terpanas dalam Sejarah

Australia Bersiap Hadapi Hari Terpanas dalam Sejarah

Internasional
Ketahuan Berhubungan Seks dengan Pria Lain, Istri Tewas Ditembak Suaminya

Ketahuan Berhubungan Seks dengan Pria Lain, Istri Tewas Ditembak Suaminya

Internasional
Istri Terlalu Boros, Pria di India Bunuh Diri

Istri Terlalu Boros, Pria di India Bunuh Diri

Internasional
Pria 70 Tahun Tewas Dipukul Batu Bata, Polisi Hong Kong Tahan 5 Remaja

Pria 70 Tahun Tewas Dipukul Batu Bata, Polisi Hong Kong Tahan 5 Remaja

Internasional
Korea Utara Kembali Gelar 'Tes Krusial'

Korea Utara Kembali Gelar "Tes Krusial"

Internasional
Pukul dan Hantamkan Kepala Remaja ke Tanah, Polisi Ini Dipecat

Pukul dan Hantamkan Kepala Remaja ke Tanah, Polisi Ini Dipecat

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Jurnalis China Dimaafkan Netizen karena Fotonya Beredar | Arab Saudi Cabut Aturan Pisahkan Pria dan Wanita

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Jurnalis China Dimaafkan Netizen karena Fotonya Beredar | Arab Saudi Cabut Aturan Pisahkan Pria dan Wanita

Internasional
Bocah 3 Tahun Gores 10 Mobil Mewah, Si Ayah Diminta Ganti Rugi Rp 140 Juta

Bocah 3 Tahun Gores 10 Mobil Mewah, Si Ayah Diminta Ganti Rugi Rp 140 Juta

Internasional
Larang Murid Punya Rambut Poni, Sekolah di Thailand Jadi Sorotan

Larang Murid Punya Rambut Poni, Sekolah di Thailand Jadi Sorotan

Internasional
Bantu Ibunya Lolos Tes Menyetir, Pria Ini Menyamar Jadi Perempuan

Bantu Ibunya Lolos Tes Menyetir, Pria Ini Menyamar Jadi Perempuan

Internasional
Komite DPR AS Setujui 2 Pasal Pemakzulan untuk Trump

Komite DPR AS Setujui 2 Pasal Pemakzulan untuk Trump

Internasional
Salah Buat Berita, Jurnalis China Ini Dimaafkan Netizen Setelah Fotonya Beredar

Salah Buat Berita, Jurnalis China Ini Dimaafkan Netizen Setelah Fotonya Beredar

Internasional
Diselundupkan ke AS, Warga China Dimasukkan Dalam Mesin Cuci

Diselundupkan ke AS, Warga China Dimasukkan Dalam Mesin Cuci

Internasional
Ratusan Pengacara Serang Rumah Sakit di Pakistan, 3 Pasien Meninggal

Ratusan Pengacara Serang Rumah Sakit di Pakistan, 3 Pasien Meninggal

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X