Bertemu Kim Jong Un, Putin Ingin Bahas Isu Nuklir di Semenanjung Korea

Kompas.com - 23/04/2019, 22:24 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.AFP/ALEXANDER ZEMLIANICHENKO/KCNA VIA KNS Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

MOSKWA, KOMPAS.com - Kremlin telah memastikan agenda kunjungan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un ke Timur Jauh, Rusia, pada Kamis (25/4/2019).

Dalam kunjungan tersebut, Kim Jong Un dijadwalkan untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok, kota pesisir yang dikenal sebagai markas Armada Pasifik Rusia.

"Fokus dalam pertemuan itu adalah pada solusi politik dan diplomatik untuk masalah nuklir di Semenanjung Korea," ujar pembantu kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov dalam pernyataannya, Selasa (23/4/2019).

Dikatakan Ushakov, melalui pertemuan tersebut, Rusia bermaksud untuk membantu mengkonsolidasikan tren positif dalam segala hal.


Untuk kasus ini, yakni isu denuklirisasi Semenanjung Korea yang diharapkan banyak pihak dapat segera tercapai.

Baca juga: Kim Jong Un Disebut Bakal Kunjungi Putin di Rusia Kamis Ini

Disampaikan Kremlin, perencanaan untuk pertemuan puncak dengan Korea Utara itu telah dilakukan sejak diumumkan rencana pertemuan di bulan April, pada minggu lalu.

Bendera kedua negara tampak telah dikibarkan di lokasi tempat pertemuan puncak diperkirakan akan berlangsung, yakni di kampus universitas di Vladivostok.

Dikatakan Ushakov, pembicaraan kedua pemimpin negara akan dimulai secara empat mata, sebelum dilanjutkan dengan "format yang lebih luas". Namun Ushakov tidak memberi rincian lebih lanjut.

Ushakov menambahkan, tidak ada agenda pemberian pernyataan bersama maupun acara penandatanganan perjanjian selama pertemuan puncak tersebut.

Diberitakan sebelumnya, kunjungan pertama ke Negeri "Beruang Merah" itu merupakan upaya Kim untuk membangun dukungan internasional bagi rencana pembangunan ekonominya.

Kunjungan itu terjadi setelah pertemuan Kim Jong Un dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Hanoi, Vietnam, pada 27-28 April, yang menemui jalan buntu.

Selama bertahun-tahun Rusia merupakan pihak yang terlibat dalam upaya denuklirisasi Korut bersama Jepang, AS, China, maupun Korsel, dengan pertemuan terakhir pada 2009.

Kementerian Luar Negeri Korsel, menurut juru bicara Kim In-chul berkata, agenda bilateral keduanya bakal membahas relasi, kerja sama regional, dan denuklirisasi.

"Agenda Rusia sama dengan kami. Yakni denuklirisasi penuh di Semenanjung Korea serta menetapkan perdamaian secara penuh," ujar Kim In-chul dalam konferensi pers.

Baca juga: Kim Jong Un Bakal Bertemu Putin di Rumah Armada Pasifik Rusia

Artyom Lukin, Profesor Universitas Federal Timur Jauh menjelaskan, setelah pertemuan dengan Trump buntu, Kim Jong Un nampaknya ingin membuktikan dia masih diperhatikan pemimpin dunia lainnya.

Menurut Lukin, Kim Jong Un tidak ingin terlalu bergantung kepada AS, China, maupun Korsel. Pertemuan ini juga memberikan arti penting bagi Moskwa.

"Melalui pertemuan ini, Rusia masih ingin dianggap sebagai pemain utama dalam proses perdamaian Semenanjung Korea dan bukti prestis di kancah internasional," terang Lukin.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

[POPULER INTERNASIONAL] Iran Bongkar Jaringan Mata-mata CIA | Bentrok Unjuk Rasa di Hong Kong

[POPULER INTERNASIONAL] Iran Bongkar Jaringan Mata-mata CIA | Bentrok Unjuk Rasa di Hong Kong

Internasional
2 Bulan Lebih Ditahan, Kapal Tanker Iran Dibebaskan Arab Saudi

2 Bulan Lebih Ditahan, Kapal Tanker Iran Dibebaskan Arab Saudi

Internasional
Menurut Intelijen Iran, 17 Terduga Mata-mata CIA Dapat Tawaran Menggoda

Menurut Intelijen Iran, 17 Terduga Mata-mata CIA Dapat Tawaran Menggoda

Internasional
Trump Dikritik karena Bantah Mata-mata CIA Ditangkap Iran

Trump Dikritik karena Bantah Mata-mata CIA Ditangkap Iran

Internasional
Hilang 51 Tahun, Kapal Selam Perancis Ditemukan di Laut Mediterania

Hilang 51 Tahun, Kapal Selam Perancis Ditemukan di Laut Mediterania

Internasional
Trump: Klaim Iran Tangkap Agen Rahasia CIA Benar-benar Ngawur

Trump: Klaim Iran Tangkap Agen Rahasia CIA Benar-benar Ngawur

Internasional
Abe: Kurangi Ketegangan AS dengan Iran, Jepang Akan Lakukan Segala Cara

Abe: Kurangi Ketegangan AS dengan Iran, Jepang Akan Lakukan Segala Cara

Internasional
Duterte Minta Terapkan Lagi Hukuman Mati bagi Pengedar Narkoba dan Perampok

Duterte Minta Terapkan Lagi Hukuman Mati bagi Pengedar Narkoba dan Perampok

Internasional
Intelijen Iran: CIA Sudah 2 Kali Kalah Telak

Intelijen Iran: CIA Sudah 2 Kali Kalah Telak

Internasional
India Luncurkan Roket Chandrayaan-2 untuk Misi Pendaratan di Bulan

India Luncurkan Roket Chandrayaan-2 untuk Misi Pendaratan di Bulan

Internasional
Versi Iran, Begini Cara CIA Rekrut Agen Rahasia dan Menyusup ke Negaranya

Versi Iran, Begini Cara CIA Rekrut Agen Rahasia dan Menyusup ke Negaranya

Internasional
Bocah 13 Tahun di China Ketahuan Menerbangkan 2 Pesawat Sendirian

Bocah 13 Tahun di China Ketahuan Menerbangkan 2 Pesawat Sendirian

Internasional
China Sebut Unjuk Rasa di Hong Kong Dilakukan Perusuh dan Tak Bisa Ditoleransi

China Sebut Unjuk Rasa di Hong Kong Dilakukan Perusuh dan Tak Bisa Ditoleransi

Internasional
Menhan Inggris Sebut Jumlah Kapal Perang Mereka Tak Cukup di Tengah Ketegangan dengan Iran

Menhan Inggris Sebut Jumlah Kapal Perang Mereka Tak Cukup di Tengah Ketegangan dengan Iran

Internasional
Iran Ungkap Jaringan Mata-mata CIA Berkat Bantuan 'Negara Asing'

Iran Ungkap Jaringan Mata-mata CIA Berkat Bantuan "Negara Asing"

Internasional
Close Ads X