Ledakan Bom Sri Lanka Disebut Balasan atas Penembakan Masjid Selandia Baru

Kompas.com - 23/04/2019, 16:31 WIB
Warga Sri Lanka berdoa di luar gereja St Anthony di Kolombo pada Senin (22/4/2019), sehari seteah tempat ibadah itu diguncang serangan bom. AFP/MOHD RASFAN Warga Sri Lanka berdoa di luar gereja St Anthony di Kolombo pada Senin (22/4/2019), sehari seteah tempat ibadah itu diguncang serangan bom.

COLOMBO, KOMPAS.com - Kementerian Pertahanan Sri Lanka menyatakan, penyelidikan awal selepas gelombang ledakan bom yang mengguncang negara itu pada Minggu (21/4/2019).

Kepada parlemen, Menteri Pertahanan Ruwan Wijewardene berkata berdasar investigasi awal, serangan yang terjadi di delapan tempat itu merupakan bentuk "balas dendam".

Baca juga: Umat Muslim Christchurch Masih Dibayangi Ketakutan dan Kilas Balik Aksi Teror

"Penyelidikan awal menunjukkan ledakan bom di Sri Lanka merupakan balas dendam terhadap serangan kepada Muslim di Christchurch," kata Wijewardene dikutip AFP Selasa (23/4/2019).

Pada 15 Maret, jemaah di Masjid Al Noor dan Linwood Christchurch, Selandia Baru, diserang oleh seorang ekstremis kulit putih ketika hendak melaksanakan Shalat Jumat.

Pelaku yang merupakan warga negara Australia itu menyiarkan perbuatan kejinya di Facebook dengan 50 jemaah dilaporkan tewas dan 50 orang lainnya mengalami luka-luka.

Dikutip The Guardian, terdapat memo intelijen yang beredar di kalangan pejabat keamanan bahwa salah satu pelaku sempat mengisi akun media sosialnya dengan "konten ekstremis".

Pelaku memutuskan memperbarui konten media sosialnya setelah penembakan yang dilakukan teroris kulit putih terhadap jemaah di Masjid Al Noor dan Linwood.

Direktur Grup Intelijen SITE Rita Katz dikutip NZ Herald berkata, pendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menyatakan serangan di Sri Lanka merupakan balasan atas penembakan Christchurch.

Wijewardene menjelaskan, National Thowheeth Jamaath (NJT) yang disebut bertanggung jawab atas insiden di Sri Lanka mempunyai hubungan dengan kelompok radikal di India.

"NJT ini mempunyai hubungan dekat dengan Jamaat-ul-Mujahideen India (JMI). Hubungan itu kini telah terungkap," kata Wijewardene di hadapan politisi.

AFP memberitakan sangat sedikit yang diketahui tentang JMI selain catatan bahwa kelompok itu didirikan pada 2018, dan berafiliasi dengan grup serupa di Bangladesh.

Lebih lanjut, Wijewardene mengemukakan korban tewas ledakan bom telah mencapai 321 orang dari sebelumnya dilaporkan 310, termasuk di antaranya 38 warga asing.

Baca juga: Pelaku Ledakan Bom Sri Lanka Terekam CCTV Sebelum Melakukan Aksinya

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X