Kompas.com - 22/04/2019, 17:27 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com - Departemen Luar Negeri AS menerbitkan "travel advice" atau saran perjalanan bagi warganya yang hendak ke Sri Lanka.

Dalam anjuran tersebut, turut dimasukkan ancaman serangan teroris, menyusul ledakan bom yang menyasar gereja dan hotel di negara itu, pada Minggu (21/4/2019), yang menewaskan hampir 300 orang dan melukai ratusan lainnya.

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan, di antara para korban tewas akibat ledakan bom termasuk beberapa warga AS. Menyebut teror bom tersebut sebagai kekerasan terburuk yang melanda Sri Lanka sejak berakhirnya perang saudara.

Dalam saran perjalanan yang dikeluarkan, warga AS didesak untuk meningkatkan kehati-hatian selama berada di Sri Lanka.

Baca juga: Sri Lanka Diguncang Ledakan Bom, Inggris Langsung Terbitkan Travel Advice

"Kelompok-kelompok teroris kemungkinan masih merencanakan serangan lanjutan di Sri Lanka," tulis pernyataan departemen luar negeri.

"Teroris dapat menyerang dengan sedikit atau bahkan tanpa peringatan, menargetkan lokasi wisata, pusat transportasi, pasar atau pusat perbelanjaan, maupun lokasi publik lainnya, seperti hotel, kelab, restoran, dan tempat ibadah," lanjut peringatan tersebut.

Saran perjalanan juga diterbitkan sejumlah negara, seperti Australia, Irlandia, dan Inggris.

Kedutaan besar AS di Colombo mengumumkan akan tutup pada Senin dan Selasa (22-23/4/2019), namun tetap akan memberikan pelayanan kepada warga.

Pihak berwenang di Sri Lanka mengatakan, di antara korban tewas terdapat sejumlah warga negara asing. Yang telah dikonfirmasi yakni dari India, China, Denmark, Belanda, Jepang, Portugal, Inggris, dan Turki.

Delapan ledakan dilaporkan terjadi pada Minggu (21/4/2019), dengan menargetkan jemaah di tiga gereja di Colombo dan Negombo, serta tiga hotel mewah di Colombo.

Setidaknya 290 korban dilaporkan tewas, sementara 500 lainnya luka-luka akibat serangkaian ledakan bom, termasuk dua bom bunuh diri.

Belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas aksi teror, namun otoritas berwenang Sri Lanka mengumumkan telah menahan 24 orang terkait insiden.

Penyelidikan juga dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan pelaku dengan jaringan di luar negeri.

Baca juga: Selidiki Serangan Bom, Presiden Sri Lanka Segera Tunjuk Komite Investigasi Khusus

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.