Kompas.com - 16/04/2019, 17:00 WIB

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menilai proyek kereta cepat yang menghubungkan Kuala Lumpur dan Singapura saat ini belum diperlukan.

Diwartakan Channel News Asia, Selasa (26/4/2019), pria berusia 93 tahun itu berpendapat fokus harus diarahkan pada peningkatan kualitas layanan kereta yang telah ada di negaranya.

"Kami belum akan membangun kereta cepat, tapi kami ingin meningkatkan kualitas layanan pada sistem kereta kami. Itu telah dilakukan sampai batas tertentu, dengan rel ganda dan elektrifikasi," ujarnya.

Baca juga: Mahathir: Denda Rp 74 Triliun Jadi Alasan Proyek Kereta Cepat China Dinegosiasikan Ulang

Seperti diketahui, Singapura dan Malaysia pada September lalu sepakat untuk menunda pembangunan proyek High-Speed Rail (HSR) hingga akhir Mei 2020.

Sejak itu, Malaysia telah membayar Singapura senilai 15 juta dollar Singapura atau sekitar Rp 156 miliar sebagai konsekuensi penundaan proyek.

Mahathir menilai, proyek HSR tidak akan memberikan manfaat signifikan karena hanya akan memangkas sekitar 30 menit dari waktu perjalanan saat ini.

Belum lagi, masyarakat masih perlu menghabiskan waktu lebih untuk melakukan perjalanan ke stasiun kereta.

"Jika orang bisa menghemat dua hingga enam jam, maka saya pikir kereta berkecepatan tinggi akan menjadi jawabannya," ujarnya.

Dia menuturkan, saat ini pemerintah belum memberikan kontrak apa pun terkait proyek HSR, namun Malaysia harus memberikan kompensasi kepada Singapura.

Mahathir menyinggung soal Malaysia yang kemungkinan perlu membangun kereta cepat yang menghubungkan Johor Bahru dan Penang, atau bahkan sampai ke perbatasan dengan Thailand.

Baca juga: Mahathir: Najib Razak Pemimpin yang Lebih Buruk dari Anwar Ibrahim

Sementara itu, HSR diharapkan dapat mulai beroperasi pada 1 Januari 2031. Padahal sebelumnya, layanan transportasi tersebut ditargetkan beroperasi pada 31 Desember 2026.

Proyek HSR memang ditunda, namun Malaysia dan China pada pekan lalu kembali membahas soal Coast Rail Link yang sempat ditangguhkan pada Juli 2018.

Kedua negara sepakat untuk memangkas biaya proyek tersebut hingga sepertiganya menjadi 44 miliar ringgit atau sekitar Rp 150 triliun.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.