Kurdi Suriah dan Baghdad Sepakat Pulangkan 31.000 Pengungsi Irak

Kompas.com - 13/04/2019, 15:01 WIB
Anak-anak bersama warga sipil lainnya melarikan diri dari sebuah kelompok radikal di Suriah, dekat Baghuz, Suriah timur, Rabu (13/2/2019) waktu setempat. Jutaan anak menjadi korban dalam perang saudara di Suriah yang berlangsung sejak 2011, selain dibunuh, disiksa, dan diculik, mereka juga menderita gizi buruk dan kerap menjadi tameng hidup di medan perang.AFP PHOTO/DELIL SOULEIMAN Anak-anak bersama warga sipil lainnya melarikan diri dari sebuah kelompok radikal di Suriah, dekat Baghuz, Suriah timur, Rabu (13/2/2019) waktu setempat. Jutaan anak menjadi korban dalam perang saudara di Suriah yang berlangsung sejak 2011, selain dibunuh, disiksa, dan diculik, mereka juga menderita gizi buruk dan kerap menjadi tameng hidup di medan perang.

DAMASKUS, KOMPAS.com — Sekitar 31.000 pengungsi Irak yang kini berada di kamp-kamp di Suriah timur laut akan segera dipulangkan ke negara asalnya. Hal tersebut menyusul dicapainya kesepakatan antara Kurdi Suriah dan pemerintah Baghdad.

Puluhan ribu pengungsi telah memadati kamp-kamp tersebut dengan jumlah yang semakin bertambah selama pertempuran terakhir melawan sisa-sisa kekhalifahan ISIS di Suriah.

Jumlah pengungsi didominasi oleh perempuan dan anak-anak dari anggota kelompok teroris ISIS dan ekstremis lainnya.

"Delegasi dari kabinet Irak telah mengunjungi pemerintahan otonom untuk membahas pemulangan warga Irak, yang diperkirakan berjumlah 31.000 orang, dan kesepakatan telah tercapai," ujar pejabat Kurdi Suriah, Mahmud Kero, kepada AFP, Kamis (11/4/2019).

Baca juga: Ribuan Pengungsi Suriah Dikabarkan Mulai Kembali ke Idlib

"Sampai sejauh ini telah ada sekitar 4.000 orang yang mendaftar dan kami masih menunggu instruksi dari pemerintah Iran untuk membuka gerbang perbatasan dan memulai proses pemulangan," lanjutnya.

Dikatakan Kero, salah satu kendala dalam pemulangan tersebut ialah banyak di antara para pengungsi tersebut, termasuk anak-anak yang lahir di Suriah, tidak memiliki dokumen identitas Irak.

"Kami telah meminta pemerintah Irak untuk menemukan solusi atas permasalahan ini," kata dia.

Dilansir AFP, para pengungsi yang diharapkan kembali tidak termasuk para tersangka anggota ISIS yang menyerah atau tertangkap saat melarikan diri dari benteng terakhir, yang kini ditahan di penjara-penjara yang dijalankan Kurdi.

"Kami telah meminta untuk pemulangan semua warga Irak termasuk yang dituduh sebagai anggota ISIS. Mereka (pemerintah Irak) sebelumnya juga telah menyerukan agar persidakan para terduga ISIS untuk dilakukan di tanah Irak," tutur Kero.

Sementara pemerintah Irak mengatakan pada Selasa (9/4/2019) bahwa Baghdad telah mempersiapkan untuk kembalinya ribuan warga mereka yang kebanyakan adalah perempuan dan anak-anak.

Para pengungsi tersebut diketahui sebagian besar mengungsi dari Nineveh dan Salahediin, dua provinsi mayoritas Sunni di utara Baghdad yang dulu sempat menjadi benteng pertahanan ISIS.

Baca juga: Yordania Akui Tak Sanggup Lagi Tampung Gelombang Pengungsi Suriah

Disampaikan Kementerian Pemindahan dan Migrasi Irak, Ali Abbas, pemerintah telah menyiapkan sebuah kamp khusus di dekat wilayah Sinjar, yang diperkirakan bakal rampung dibangun dalam dua bulan ke depan.

"Kami juga mempersiapkan pemeriksaan keamanan untuk menyaring para pendatang baru karena ada tanda-tanda beberapa mungkin adalah keluarga ISIS, dan kami tidak bisa membiarkan mereka kembali bergabung dalam masyarakat," ujarnya.

"Mereka yang telah dicuci otak oleh ISIS akan menjalani kursus budaya dan agama untuk merehabilitasi pikiran mereka," lanjut Abbas.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Bobol Atap, Bos Mafia Italia Rocco Morabito Kabur dari Penjara di Uruguay

Bobol Atap, Bos Mafia Italia Rocco Morabito Kabur dari Penjara di Uruguay

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Kisah Manusia Pohon | Penampakan UFO Pertama

[POPULER INTERNASIONAL] Kisah Manusia Pohon | Penampakan UFO Pertama

Internasional
Insiden Bangunan Runtuh di Kamboja, 2 Orang Selamat dari Reruntuhan

Insiden Bangunan Runtuh di Kamboja, 2 Orang Selamat dari Reruntuhan

Internasional
Sedang Menjalankan Misi, 2 Jet Tempur Eurofighter Jerman Bertabrakan di Udara

Sedang Menjalankan Misi, 2 Jet Tempur Eurofighter Jerman Bertabrakan di Udara

Internasional
Terduga Otak Upaya Kudeta Etiopia Ditembak Mati

Terduga Otak Upaya Kudeta Etiopia Ditembak Mati

Internasional
'Manusia Pohon' Bangladesh Ini Ingin Tangannya Diamputasi agar Terbebas dari Sakit

"Manusia Pohon" Bangladesh Ini Ingin Tangannya Diamputasi agar Terbebas dari Sakit

Internasional
Keok Dua Kali di Istanbul, Pesona dan Pengaruh Erdogan Memudar?

Keok Dua Kali di Istanbul, Pesona dan Pengaruh Erdogan Memudar?

Internasional
Bahas Krisis Iran, Menlu AS ke Saudi Bertemu Raja Salman

Bahas Krisis Iran, Menlu AS ke Saudi Bertemu Raja Salman

Internasional
Baru 2 Minggu Bekerja, Karyawan Pabrik Sosis Ini Tewas Tersedot Mesin Pencampur Daging

Baru 2 Minggu Bekerja, Karyawan Pabrik Sosis Ini Tewas Tersedot Mesin Pencampur Daging

Internasional
Laporan Pertama hingga Inspirasi Film, Fakta Unik Penampakan UFO

Laporan Pertama hingga Inspirasi Film, Fakta Unik Penampakan UFO

Internasional
Mahathir: Saya Tak Akan Menjabat Jadi PM Malaysia Lebih dari 3 Tahun

Mahathir: Saya Tak Akan Menjabat Jadi PM Malaysia Lebih dari 3 Tahun

Internasional
Seekor Siput Kacaukan Sistem Kereta Api di Jepang Selatan

Seekor Siput Kacaukan Sistem Kereta Api di Jepang Selatan

Internasional
China Tak Akan Biarkan Isu Hong Kong Dibahas dalam KTT G20

China Tak Akan Biarkan Isu Hong Kong Dibahas dalam KTT G20

Internasional
Trump: Jika Terserah Penasihat Saya, Kami Bisa Perang dengan Seluruh Dunia

Trump: Jika Terserah Penasihat Saya, Kami Bisa Perang dengan Seluruh Dunia

Internasional
Ingin Gulingkan Pemerintah Vietnam, Pria AS Dihukum 12 Tahun Penjara

Ingin Gulingkan Pemerintah Vietnam, Pria AS Dihukum 12 Tahun Penjara

Internasional

Close Ads X