Hari Ini dalam Sejarah: Penerbangan Pertama Trans-Atlantik dari Timur ke Barat

Kompas.com - 12/04/2019, 11:06 WIB
Pesawat Bremen yang digunakan untuk misi penerbangan transatlantikHistorynet Pesawat Bremen yang digunakan untuk misi penerbangan transatlantik

KOMPAS.com - "Ada ikan di langit!" Teriakan itu terlontar dari mulut Antoine Letemplier, bocah laki-laki yang terlihat tidak percaya ada benda yang melayang di angkasa. Anak 11 tahun yang menjaga mercusuar di Pulau Greenly, Kanada, itu memang baru kali pertama melihat pesawat yang terbang melintasinya.

Pulau Greenly saat itu tertutup salju. Banyak anjing-anjing yang berada di luar rumah kaget dengan kedatangan benda asing tersebut. Antoine kemudian mendatangi pesawat yang mendarat.

Benda itu bukan pesawat yang jatuh atau terpaksa mendarat. Namun, benda itu merupakan bukti keberhasilan pesawat Jerman dalam melakukan misi penerbangan pertama melintasi Samudra Atlantik atau trans-Atlantik dari timur ke barat.

Penerbangan dilakukan 91 tahun yang lalu, tepatnya pada 12 April 1928. Misi bersejarah ini dilakukan oleh tiga orang pilot, yakni Hermann Kohl, Ehrenfried Gunther, dan James Fitzmaurice.

Dilansir dari History, ketiga pilot itu memulai penerbangan dari lapangan udara Baldonnel di Irlandia. Persiapan yang matang dengan beberapa mobil ambulans dilakukan untuk penerbangan kali ini.

Mereka disiagakan dalam misi ini dan memastikan pesawat seberat 5,6 ton itu bisa terbang dengan aman. Selama 36 jam, pesawat bernama "Bremen" akhirnya mencapai lokasi yang dituju.

Ketiga pilot mendapatkan apresiasi dari karena pencapaikan penerbangan kali ini. Mereka juga mendapatkan pujian dari Amerika Serikat karena berhasil memetakan rute penerbangan.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Penerbangan Trans-Atlantik Amelia Earhart

Terinspirasi

Gagasan penerbangan trans-Atlantik mulai terencana dengan baik sejak Perang Dunia I. Kemajuan pada teknologi aviasi membuat beberapa pilot berencana untuk melakukan misi itu.

Beberapa surat kabar dunia, juga memberikan hadiah yang menawan dalam upaya menarik minat para pelaku aviasi melakukan penerbangan melintasi Samudra Atlantik. Hadiah inilah yang memotivasi beberapa pilot.

Keberhasilan penerbangan solo Charles A Linbergh dari AS dalam melintasi Samudra Atlantik menjadi catatan yang membanggakan. Pencapaian itu membuat beberapa pilot asal Jerman termotivasi untuk melakukan hal yang sama.

James Fitzmaurice (tengah) dan Ehrenfried Gunther (kanan)Historynet James Fitzmaurice (tengah) dan Ehrenfried Gunther (kanan)
Hermann Kohl dan Ehrenfried Gunther mulai melakukan penerbangan berdua. Mereka mencoba pada 1927, namun pesawat yang ia kendarai harus kembali ke landasan karena cuaca yang buruk.

Sementara itu, James Christopher Fitzmaurice merupakan seorang militer penerbang dari Irlandia yang sebelumnya sudah berpengalaman dalam navigator penerbangan. Dia juga sudah mencoba melakukan misi ini bersama temannya, namun kendala cuaca mengakibatkan penerbangannya gagal.

Akhirnya, James Christopher Fitzmaurice bergabung dengan Hermann Kohl dan Ehrenfried Gunther untuk misi penerbangan kali ini. Uniknya, penerbangan trans-Atlantik dimulai dengan terbang dari timur menuju ke barat.

Mereka tak berangkat dari Jerman, tapi sepakat untuk mengawalinya dari Irlandia.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Pesawat Amfibi Pertama Sukses Lepas Landas dan Mendarat di Air

Kesulitan

Pesawat Bremen dikembalikan ke Jerman menggunakan kapalHistorynet Pesawat Bremen dikembalikan ke Jerman menggunakan kapal
Kesepakatan tak langsung bisa terealisasi. Mereka harus dihadapkan pada kondisi cuaca yang tak kunjung membaik selama berhari-hari. Angin dan kondisi cuaca yang berubah-ubah mengakibatkan penerbangan terganggu.

Mereka juga memilih pesawat Junkers W33 yang memiliki desain dan jenis pesawat yang kuat. Setelah beberapa hari menunggu cuaca membaik, pesawat akhirnya terbang pada 12 April 1928.

Kesulitan lain muncul, para pilot terkendala bahasa karena navigator merupakan orang Irlandia. Jadi mereka mengerjakan sistem pesawat dengan tanda tertentu dan jabat tangan agar semua mudah.

Tak hanya di situ saja, kesulitan juga harus mereka hadapi ketika berada di udara. Sistem pesawat mulai tak normal, cuaca mulai berubah, cahaya mati dan mengakibatkan kseulitan sistem navigasi.

Tujuan yang mereka tuju harusnya New York, namun harus berganti di Pulau Greenly, Kanada. Pulau ini biasanya tertutup es dan pada saat kedatangan pilot, sekitar 14 orang tinggal di sana.

Pesawat itu sendiri dikirim kembali ke Jerman melalui kapal karena ketidakmampuannya untuk lepas landas dari permukaan es yang menyelimuti pulau itu.



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X