"Saya Ingin Melihat Wajah Orang yang Sudah Membunuh Banyak Teman Saya"

Kompas.com - 05/04/2019, 14:33 WIB
Brenton Tarrant, teroris penembakan masjid Selandia Baru membentuk gestur OK yang merupakan lambang supremasi kulit putih dengan jarinya ketika masuk untuk menjalani sidang perdana Sabtu (16/3/2019). AFP via Daily MirrorBrenton Tarrant, teroris penembakan masjid Selandia Baru membentuk gestur OK yang merupakan lambang supremasi kulit putih dengan jarinya ketika masuk untuk menjalani sidang perdana Sabtu (16/3/2019).

CHRISTCHURCH, KOMPAS.com - Tofazzal Alam duduk di dalam gedung Pengadilan Tinggi Christchurch, Selandia Baru, pada Jumat waktu setempat (5/4/2019).

Dia ingin melihat Brenton Tarrant. Teroris yang melakukan penembakan di Masjid Al Noor dan Linwood ketika tengah berlangsung Shalat Jumat (15/3/2019).

Alam merupakan salah satu korban selamat dalam penembakan yang menewaskan total 50 jemaah itu. Saat kejadian, dia berada di Masjid Linwood.

Baca juga: Pelaku Teror Selandia Baru Disebut Jadi Donatur Kelompok Sayap Kanan Eropa


Dilansir AFP, dia lolos dari maut dengan berpura-pura mati sehingga tidak bisa melihat wajah si teroris. Jadi, sidang Jumat ini dia gunakan untuk melihat Tarrant.

"Saya ingin melihat wajahnya karena dia adalah orang yang sudah membunuh banyak teman saya," ujar Alam yang menambahkan, melihat si teroris membuatnya marah.

"Dia gila. Saya sangat marah karena wajahnya tak menunjukkan penyesalan setelah membunuh 50 orang. Tidak tampak emosi di mukanya," keluh Alam.

Pernyataan yang sama juga disampaikan oleh Yama Nabi, putra Daoud Nabi. Salah satu korban tewas yang berada di Masjid Al Noor.

"Saya hanya ingin melihat muka teroris itu. Memang, orang yang kami sayangi tidak akan kembali. Saya berpikir dia pengecut," ujar Yama.

Mereka yang hadir di pengadilan Christchurch tidak akan bisa melihat Tarrant secara langsung karena sidang itu digelar melalui panggilan video.

Teroris asal Grafton, Australia, itu hadir dari penjara dengan keamanana maksimum di Auckland, berlokasi sekitar 1.000 km di utara Christchurch.

Tetapi, Tarrant tidak akan bisa melihat wajah keluarga korbannya karena video sudah diatur menghadap hakim dan kuasa hukumnya.

Sidang Jumat ini merupakan sidang kedua yang dijalani si teroris setelah 16 Maret, sehari pasca-perbuatan kejamnya di Christchurch.

Sebelum persidangan, Hakim Camerin Mander memerintahkan agar Tarrant menjalani tes kejiwaan untuk menentukan apakah dia gila atau tidak.

Dia tidak diperbolehkan mengajukan pembelaan, dan bakal berada dalam penahanan hingga persidangan selanjutnya dijadwalkan pada 14 Juni mendatang.

Baca juga: Teroris Penembak Masjid Selandia Baru Bakal Dites Kejiwaannya

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pria di Harlem Tembak Tetangga Apartemen karena Terlalu Berisik

Pria di Harlem Tembak Tetangga Apartemen karena Terlalu Berisik

Internasional
Erdogan Ancam Bakal 'Hancurkan Kepala' Pasukan Kurdi Jika Tak Keluar dari Zona Aman

Erdogan Ancam Bakal "Hancurkan Kepala" Pasukan Kurdi Jika Tak Keluar dari Zona Aman

Internasional
ISIS Pakai Jenazah Anak-anak untuk Jebakan Granat, Nyaris Lukai Pasukan Khusus Inggris SAS

ISIS Pakai Jenazah Anak-anak untuk Jebakan Granat, Nyaris Lukai Pasukan Khusus Inggris SAS

Internasional
Warga Protes Kenaikan Harga Tiket Kereta, Presiden Chile Umumkan Keadaan Darurat

Warga Protes Kenaikan Harga Tiket Kereta, Presiden Chile Umumkan Keadaan Darurat

Internasional
Dari 80 Detik hingga 19 Jam, Inilah Penerbangan Tersingkat dan Terlama di Dunia

Dari 80 Detik hingga 19 Jam, Inilah Penerbangan Tersingkat dan Terlama di Dunia

Internasional
Pemilu Kanada 2019, Bagaimana Peluang PM Justin Trudeau untuk Kembali Terpilih?

Pemilu Kanada 2019, Bagaimana Peluang PM Justin Trudeau untuk Kembali Terpilih?

Internasional
Presiden Meksiko Dukung Keputusan Pihak Keamanan Bebaskan Putra El Chapo

Presiden Meksiko Dukung Keputusan Pihak Keamanan Bebaskan Putra El Chapo

Internasional
Korban Tewas Ledakan di Masjid Afghanistan Jadi 62 Orang, Taliban Bantah Terlibat

Korban Tewas Ledakan di Masjid Afghanistan Jadi 62 Orang, Taliban Bantah Terlibat

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Keluarga Belanda Tinggal 9 Tahun di Bawah Tanah | Indonesia Kembali Jadi Anggota Dewan HAM PBB

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Keluarga Belanda Tinggal 9 Tahun di Bawah Tanah | Indonesia Kembali Jadi Anggota Dewan HAM PBB

Internasional
Izinkan Artis Masuk Kokpit dan Pegang Kendali Pesawat, Pilot Dilarang Terbang Seumur Hidup

Izinkan Artis Masuk Kokpit dan Pegang Kendali Pesawat, Pilot Dilarang Terbang Seumur Hidup

Internasional
Pemerintah Berencana Berlakukan Pajak WhatsApp, Warga Lebanon Gelar Unjuk Rasa

Pemerintah Berencana Berlakukan Pajak WhatsApp, Warga Lebanon Gelar Unjuk Rasa

Internasional
Ledakan Bom di Masjid Afghanistan saat Shalat Jumat, 28 Jemaah Tewas

Ledakan Bom di Masjid Afghanistan saat Shalat Jumat, 28 Jemaah Tewas

Internasional
Gara-gara Postingan Facebook, Pria Pakistan Ini Dijatuhi Hukuman Penjara 5 Tahun

Gara-gara Postingan Facebook, Pria Pakistan Ini Dijatuhi Hukuman Penjara 5 Tahun

Internasional
Kucingnya Dibunuh, Wanita di Rusia Mutilasi Teman Serumah

Kucingnya Dibunuh, Wanita di Rusia Mutilasi Teman Serumah

Internasional
Qantas Uji Coba Penerbangan Langsung Terlama dari New York ke Sydney selama 19 Jam

Qantas Uji Coba Penerbangan Langsung Terlama dari New York ke Sydney selama 19 Jam

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X