Terpidana Mati di AS Tak Punya Hak Dieksekusi Tanpa Rasa Sakit

Kompas.com - 02/04/2019, 10:32 WIB
Russell Bucklew, terpidana mati di AS, meminta eksekusi memakai gas untuk menghilangkan rasa sakit berlebihan karena menderita penyakit. (Departemen Pemasyarakatan Missouri via BBC) Russell Bucklew, terpidana mati di AS, meminta eksekusi memakai gas untuk menghilangkan rasa sakit berlebihan karena menderita penyakit. (Departemen Pemasyarakatan Missouri via BBC)

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Mahkamah Agung AS memutuskan tidak bisa menjamin kematian tanpa rasa sakit dalam eksekusi terpidana mati di Missouri.

MA menyebut, Russell Bucklew dapat dieksekusi dengan sutikan mematikan meski menderita penyakit langka dan parah.

Diwartakan Los Angeles Times, Senin (1/4/2019), pengadilan menolak klaim Bucklew yang menyebut hukuman dengan suntuk mati bisa memicu pendarahan dan tersedak.

Baca juga: Sanksi Hambat Evakuasi Korban Banjir, Iran Tuding AS Teroris Ekonomi

Bucklew menyebut, kondisi penyakitnya, hemangioma kavernosa, mungkin bisa menyebabkan rasa sakit berlebihan jika dia dihukum mati dengan suntik.

Hemangioma kavernosa merupakan pertumbuhan jaringan pembuluh darah non-kanker.

Kondisi itu menyebabkan tumor berisi darah bersarang di tenggorokan, leher, dan wajahnya. Suntik mati selama proses eksekusinya diyakini dapat membuat tumor itu pecah,

Dia meminta negara mencari metode eksekusi lain, seperti gas mematikan.

Kasus ini menyoroti kesenjangan ideologis yang tajam dalam pengadilan terkait pelaksanaan eksekusi terpidana mati.

Bucklew yang kini berusia 50 tahun, dijatuhi hukuman mati pada 1996 atas kasus pemerkosaan, pembunuhan, dan penculikan terhadap mantan pacarnya dan pasangan barunya, serta anak laki-laki berusia 6 tahun.

Laporan BBC menyebutkan, hakim konservatif MA menilai Bucklew mengulur-ulur waktu untuk eksekusinya.

Hakim Neil Gorsuch mencatat, narapidana tersebut telah berada di ambang hukuman mati selama lebih dari 20 tahun.

Baca juga: Bawa Senjata ke Sekolah, Remaja 14 Tahun di AS Tembak Temannya

"Amendemen ke-8 melarang metode hukuman mati yang kejam dan tidak biasa, tapi tidak menjamin seorang tahanan meninggal tanpa rasa sakit," katanya.

Berbeda dengan Gorsuch, Hakim Stephen Breyer menilai kondisi Bucklew memungkinkannya dihukum mati dengan gas nitrogen, sebuah metode eksekusi yang diizinkan di tiga negara bagian AS.

Bucklew diklim telah diberi cukup waktu untuk mengajukan pengaduan, namun dia melakukannya hanya 15 hari sebelum dijadwalkan akan dieksekusi mati.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X