Jannus TH Siahaan
Doktor Sosiologi

Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Peneliti di Indonesian Initiative for Sustainable Mining (IISM). Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.

Pelajaran Intelijen dari Israel

Kompas.com - 01/04/2019, 16:47 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Olmert meminta Dagan memastikan apakah reaktor tersebut sudah beroperasi atau belum. Karena kalau reaktor nuklir telah aktif beroperasi, maka akan menimbulkan ledakan sangat besar saat dihancurkan.

Dagan langsung bersikap. Perlu tim khusus untuk memperjelas status reaktor nuklir tersebut. Sebagaimana diduga, pilihan jatuh pada Sayeret Matkal, pasukan elite khusus Israel.

Sayaret Matkal termasuk salah satu pasukan elite dunia dengan mengadopsi banyak gaya dari pasukan khusus SAS Inggris dan US Navy Seal Team Six.

Keahlian utama Sayeret Matkal adalah infiltrasi ke lokasi musuh, tanpa diketahui. Dengan helikopter yang nyaris kedap suara, Sayeret Matkal bisa datang dan pergi tanpa keributan. Hampir semua negara di Timur Tengah pernah diinfiltrasi oleh mereka dan nyaris tak berjejak.

Maka dikirimlah tim kecil Sayeret Matkal ke lokasi reaktor. Seperti biasa, pasukan ini berhasil mendekati lokasi, sampai hanya berjarak beberapa meter. Mereka mengambil banyak foto dan sampel tanah di sekitar reaktor untuk dianalisis.

Penyusup kembali ke Tel Aviv dengan selamat. Dari hasil tes laboraturium, terbukti bahwa kandungan radioaktif di tanah reaktor Al Kibar menunjukkan bahwa reaktor tersebut belum beroperasi penuh dan masih dimungkinkan untuk dihancurkan.

Dengan hasil itu, Olmert memutuskan untuk melakukan penghancuran. Opsi operasi khusus yang ada adalah serangan tim kecil melalui darat atau hantaman langsung dari udara.

Pilihan jatuh pada opsi kedua, serangan diam-diam dari udara. Dagan pun segera bertindak. Skuadron 69 dari Angkatan Udara Israel ditunjuk sebagai eksekutor. Divisi ini dikenal dengan sebutan Ha'patishim.

Skuadron 69 dianggap tepat karena pernah melakukan operasi yang sama dan terbukti berhasil. Pada 1981, Skuadron 69 berhasil meluluhlantakkan reaktor nuklir Irak. Waktu operasi hanya dua jam kurang dan semua pesawat kembali dengan selamat ke Tel Aviv.

Latihan pun dilakukan secara rutin dan terus-menerus, terutama latihan untuk menjatuhkan bom di lokasi bangunan kecil. Rute juga telah disiapkan, khusus untuk menghindari pantauan Suriah.

Para pilot andal dan terbaik dipilih. Latihan dilakukan tidak berarti para awak pesawat tempur tersebut mengetahui lokasi yang akan dihancurkan. Waktu dan lokasi sama sekali belum ditentukan, tugas mereka sementara waktu baru berupa latihan untuk menjatuhkan bom pada objek bangunan kecil.

Sampai pada satu waktu, Olmert mendapat kabar dari pasukan Mossad di lapangan di Suriah bahwa kapal dari Korea Utara telah merapat ke pelabuhan Suriah, membawa materal terakhir untuk reaktor. Dengan datangnya bahan penutup tersebut, otomatis reaktor akan segera aktif.

Olmert tak mau lagi menunggu. Waktu ditentukan, yakni jam 23.59 tanggal 6 september 2007 jelang tanggal 7 September. Sepuluh pesawat yang terdiri dari F-15 dan F-16 berangkat.

Pemilihan jenis pesawat tersebut telah melalui pertimbangan panjang. Suriah adalah negara yang memiliki sistem pertahanan udara yang tangguh.

Mereka memiliki senjata antipesawat Tom-M1 buatan Rusia dan rudal-rudal antiaircraft yang siap melahap pesawat musuh. Kedua jenis pesawat buatan Amerika tersebut adalah pilihan tepat karena memiliki teknologi antiradar, antikuncian rudal, teknologi pengalih objek rudal, dan banyak lagi.

Saat sepuluh pesawat tersebut berangkat, tak satu pun pilot yang mengetahui targetnya. Mereka hanya mengikuti rute yang telah dibuat. Sebelum mendekati lokasi target, barulah koordinat diinput ke dalam komputer pesawat.

Serangan pun siap diluncurkan. Dari pusat kendali udara di Tel Aviv terdengar, sebelum para pesawat menghantam target, terdengar salah satu pilot berkata bahwa mereka ditembak satu rudal antiudara. Lalu kondisi terdiam.

Tak lama berselang, muncul kata-kata Arizona di radio, yang berarti target telah dilumpuhkan. Tel Aviv mendadak lega. Tujuh pesawat kembali dengan selamat (karena tiga di antaranya ditarik pulang sebelum koordinat target diberikan).

Olmert menelpon George W Bush, Presiden Amerika Serikat waktu itu, dan mengatakan bahwa target yang tak pernah ada sekarang telah tiada. Tampaknya Bush mengetahui operasi Israel ini dan terus dikabari oleh Olmert, namun memercayakan kepada Israel untuk mengeksekusinya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.