Utang dan Derita Petani India, Bom Waktu yang Siap Meledak

Kompas.com - 31/03/2019, 22:25 WIB
Pertanian kapas di India. Suami Shantabai, Vinod yang bekerja sebagai petani kapas, bunuh diri 10 tahun yang lalu. Tidak ada waktu berduka bagi Shantabai sebab dia harus pergi bekerja sehari setelah kematian suaminya. Team CeritalahPertanian kapas di India. Suami Shantabai, Vinod yang bekerja sebagai petani kapas, bunuh diri 10 tahun yang lalu. Tidak ada waktu berduka bagi Shantabai sebab dia harus pergi bekerja sehari setelah kematian suaminya.

APAKAH benar Pakistan adalah ancaman eksistensial bagi India? Salah.

Dengan jumlah populasi yang hanya seperempat dari tetangganya, ekonomi yang hancur dan sistem politik yang tidak berfungsi dengan baik, Pakistan kurang lebih hanyalah sebuah tantangan strategis atau faktor kecil dalam situasi geopolitik India.

Oleh karena itu, ketika dunia internasional terobsesi dengan eskalasi pertikaian antara dua kekuatan nuklir ini, penting untuk mengingat alasan sesungguhnya dari ketegangan yang terjadi: Pemilihan Umum India yang akan datang.

Dan memang betul bahwa Perdana Menteri Narendra Modi sedang menghadapi ancaman eksistensi, namun ancaman ini datang dari sosok yang kurus kering, berkulit gelap bernama Shantabai Teral.

Ia adalah seorang janda petani 40 tahun-an dari daerah penanaman kapas di Vidarbha. Daerah yang kering ini terletak di ujung timur negara bagian Maharashtra yang besar dan padat di tengah India.

Baca juga: Kasta, Kepercayaan, dan Konflik di Balik Perpolitikan India

Petani seperti Shantabai membentuk 58 persen dari seluruh populasi India. Namun, selama empat tahun terakhir PM Modi berupaya meningkatkan potensi Republik ini (ingat slogan “Make in India”?) sehingga ekonomi agraria— dan juga perspektif Gandhi yang menekankan desa-desa kecil sebagai sumber kesuksesan—hampir seluruhnya diabaikan.

Bahkan di antara para petani sekali pun, mayoritasnya (± 86,2 persen) hanya memiliki tanah kurang dari satu hektar – hal ini membuat bertahan hidup saja sangat sulit.

Kerabunan pemerintah terhadap realita ini tidak mengejutkan. Persepsi dunia dari Partai Bharatiya Janata (BJP) memang memikat, namun pada akhirnya hanya sebatas delusi dari gabungan pemikiran kasta atas Brahmana dan pola pikir jangka pendek kasta pedagang Baniya – didorong oleh milyarder Gujarati seperti keluarga Ambani dan Adani.

Kini, dengan pemilihan umum yang sudah menghitung minggu dan ditambah dengan prospek kekalahan yang cukup tinggi, PM Modi dan sekutunya berusaha keras untuk meningkatkan semangat nasionalis – pada dasarnya apapun yang bisa dilakukan untuk menutupi kegagalan mereka dalam menenangkan komunitas petani yang semakin garang.

Bahkan, pada akhir tahun lalu, serangkaian unjuk rasa besar di Mumbai dan Delhi membawa rasa frustasi di pedesaan ini ke level nasional – memberikan momentum yang menyebabkan kekalahan pemilu bagi pemerintah BJP di negara bagian Rajasthan, Chhattisgarh dan Madhya Pradesh.

Peristiwa ditembak matinya lima petani dalam demonstrasi di kota Mandsaur, Madhya Pradesh, pada Juni 2017 silam merupakan puncak dari bagaimana pemerintah India telah mengabaikan para petani ini.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gadis di Gresik Tulis Surat kepada PM Australia, Minta Hentikan Ekspor Sampah Plastik

Gadis di Gresik Tulis Surat kepada PM Australia, Minta Hentikan Ekspor Sampah Plastik

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Mayoritas Rakyat AS Dukung Pemakzulan Trump | Astronot NASA Dikecam Pendukung Bumi Datar

[POPULER INTERNASIONAL] Mayoritas Rakyat AS Dukung Pemakzulan Trump | Astronot NASA Dikecam Pendukung Bumi Datar

Internasional
Trump Sebut Pemakzulan Dirinya Hoaks dan Memalukan

Trump Sebut Pemakzulan Dirinya Hoaks dan Memalukan

Internasional
Jelang Tahun Baru Imlek, 4 Orang di China Meninggal akibat Virus Corona

Jelang Tahun Baru Imlek, 4 Orang di China Meninggal akibat Virus Corona

Internasional
Popularitas Anjlok, Mahathir Sindir Rakyat yang Kembali Dukung Najib Razak

Popularitas Anjlok, Mahathir Sindir Rakyat yang Kembali Dukung Najib Razak

Internasional
Berjuluk 'Profesor', Pemimpin Baru ISIS Ini Dihargai Rp 68 Miliar

Berjuluk "Profesor", Pemimpin Baru ISIS Ini Dihargai Rp 68 Miliar

Internasional
Seorang Politisi Iran Tawarkan Rp 40 Miliar bagi yang Bisa Bunuh Trump

Seorang Politisi Iran Tawarkan Rp 40 Miliar bagi yang Bisa Bunuh Trump

Internasional
Pangeran Harry Susul Meghan Markle dan Anaknya ke Kanada

Pangeran Harry Susul Meghan Markle dan Anaknya ke Kanada

Internasional
Foto Bumi dari Luar Angkasa, Astronot NASA Ini Dikecam Penganut Teori Bumi Datar

Foto Bumi dari Luar Angkasa, Astronot NASA Ini Dikecam Penganut Teori Bumi Datar

Internasional
Iran Benarkan 2 Rudal Hantam Pesawat Ukraina

Iran Benarkan 2 Rudal Hantam Pesawat Ukraina

Internasional
Jelang Sidang Pemakzulan, Mayoritas Rakyat AS Dukung Trump Dilengserkan

Jelang Sidang Pemakzulan, Mayoritas Rakyat AS Dukung Trump Dilengserkan

Internasional
Ditekan AS, Korea Selatan Kirim Kapal Perang dan Tentara ke Selat Hormuz

Ditekan AS, Korea Selatan Kirim Kapal Perang dan Tentara ke Selat Hormuz

Internasional
Tim Pengacara Minta Trump Dibebaskan dari Tuduhan Pemakzulan di Senat AS

Tim Pengacara Minta Trump Dibebaskan dari Tuduhan Pemakzulan di Senat AS

Internasional
Gelar Baru Meghan Markle Disebut untuk Wanita yang Sudah Bercerai

Gelar Baru Meghan Markle Disebut untuk Wanita yang Sudah Bercerai

Internasional
Pemimpin ISIS Pengganti Abu Bakr al-Baghadadi Dikenali

Pemimpin ISIS Pengganti Abu Bakr al-Baghadadi Dikenali

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X