Berseteru dengan Uni Eropa, Mahathir Ancam Beli Jet Tempur dari China

Kompas.com - 25/03/2019, 15:10 WIB
Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad.AFP / MOHD RASFAN Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad.

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com — Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengancam bakal melakukan langkah balasan terhadap Uni Eropa (UE) terkait wacana pembatasan minyak kelapa sawit.

Malaysia merupakan penghasil minyak kelapa sawit kedua di dunia setelah Indonesia dan dilaporkan menentang langkah UE di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Malaysia dan Indonesia berseteru dengan politisi UE atas budidaya tanamaan yang disebut menyebabkan deforestasi dan perusakan habitat satwa liar itu.

Baca juga: Dorong Ekspor Kelapa Sawit dan Turunannya, Kemendag Cabut Permendag 54

Dalam pernyataan paling keras di tengah isu pengekangan itu, Mahathir mengatakan, dirinya berniat melakukan peremajaan jet tempur MiG-29 yang mulai tua.

Diwartakan AFP via SCMP Minggu (24/3/2019), PM berusia 93 tahun itu menuturkan bisa membatalkan rencana membeli jet tempur Rafale Perancis atau Eurofighter Typhoon.

"Kami bisa membalas jika mereka tidak membeli minyak kelapa sawit kami, kami juga tak perlu membeli produk mereka," ujar Mahathir dikutip New Straits Times.

PM berjuluk Dr M itu mengungkapkan kunjungannya di Pakistan ketika negara itu tengah merayakan parade nasional yang menampilkan tim akrobatik.

Saat itu, Mahathir mengaku terkesan dengan tim akrobatik jet tempur dari China. "Jika kami harus membeli jet tempur, kami harus mempertimbangkan membeli dari China," katanya.

Mahathir menjelaskan teknologi jet tempur China tidak kalah, bahkan melebihi negara Barat. Dia menuturkan, teknologi itu membuat negara Barat khawatir.

"Jika mereka (UE) terus melawan kami, kami bisa memikirkan untuk membeli pesawat tempur dari China atau dari negara lain," ujarnya.

"Kami bisa melakukannya jika mereka melindungi pasar minyak maupun ekonomi mereka dan berusaha membuat kami miskin," lanjut Mahathir.

PM yang pernah berkuasa dari 1981 hingga 2003 itu menuturkan, pernyataannya itu bukan berarti dia mendeklarasikan perang dagang dengan UE.

Sebab dalam pandangannya, Malaysia masih membutuhkan barang dari mereka, apalagi sejumlah negara anggota UE masuk dalam mitra dagang terbesar Malaysia.

Baca juga: Mahathir: Sejumlah Perusahaan Asing Berminat Beli Malaysia Airlines

Tetapi, dia menuturkan akan membatasi produk tertentu. "Misi kami bukanlah mempromosikan China. Tapi menentang upaya UE yang mencoba memiskinkan kami," katanya.

Dia melanjutkan jika mengikuti pengekangan dari UE dan menutup perkebunan kelapa sawit, bakal ada sekitar 600.000 orang yang kehilangan pekerjaan.

Mahathir mengatakan pembatasan itu merupakan propaganda karena biaya produksi minyak kelapa sawit lebih murah daripada kedelai.

Pohon kelapa sawit bisa terus berbuah selama 25 tahun. "Mereka berusaha melindungi kepentingan dan ekonomi mereka sendiri," keluhnya.

Baru-baru ini, politisi Perancis melakukan voting untuk menghapus kelapa sawit dari skema biofuel mulai 2020.

Baca juga: PM Mahathir Sebut Pembebasan Siti Aisyah Sudah Sesuai Aturan



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya


Close Ads X