Angka Polusi Nasional China Naik 5 Persen pada Januari-Februari 2019

Kompas.com - 21/03/2019, 17:42 WIB
Kondisi cuaca di Hutong, pada hari yang tercemar di pusat Beijing, Cina (2/3/2019). REUTERS / Jason Lee Kondisi cuaca di Hutong, pada hari yang tercemar di pusat Beijing, Cina (2/3/2019).

KOMPAS.com - Kondisi udara yang tercemar membuat tingkat polusi di China mengalami kenaikan. Konsentrasi rata-rata partikel udara PM 2.5 yang ada di China naik 5,2 persen pada Januari-Februari 2019.

Dilansir dari Reuters, berdasarkan survei Kementerian Ekologi dan Lingkungan, naiknya polusi udara PM 2.5 ditandai dengan kondisi konsentrasi partikel udara di China, yakni 61 mikrogram per meter kubik.

Selain itu, dari 337 kota di China, tercatat sebanyak 83 kota saja yang mencapai standar nasional konsentrasi udara sebesar 35 mikrogram.

Sementara itu, tingkat polusi PM 2.5 yang terjadi di 28 kota di wilayah pengendalian pencemaran utama Beijing-Tianjin-Hebei mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Angkanya naik sebesar 24 persen menjadi rata-rata 108 mikrogram per meter kubik selama Januari-Februari 2019.


Adapun angka ini 10 kali lebih besar dari angka yang direkomendasikan aman oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kemudian, tingkat PM2.5 di kota di Dataran Fenwei yang dikenal sebagai zona kontrol asap utama juga mengalami lonjakan angka polusi udara sebesar 26,6 persen. Kini angka polusi mencapai 119 mikrogram per meter kubik dalam periode tersebut.

Baca juga: Polusi Udara Bunuh Lebih Banyak Orang Dibanding Merokok

Oleh karena itu, Pemerintah China memaksa kota-kota utara yang rawan kabut asap untuk menerapkan pembatasan emisi khusus pada Oktober 2018 hingga Maret 2019.

Adapun upaya ini guna mengimbangi meningkatnya tingkat pembakaran batu bara dari sistem penghangat negara selama musim dingin yang juga merupakan target negara di tahun ini.

Sebelumnya, Pemerintah China menyalahkan kondisi kualitas udara yang buruk selama dua bulan itu. Mereka mengatakan bahwa efek El Nino yang lemah, peningkatan suhu dan kelembaban telah membuat lebih sulit untuk menyebarkan emisi.

Meskipun dengan kondisi kualitas udara yang buruk, mau tidak mau masyarakat berupaya agar tidak gagal memenuhi target.

Kementerian telah berjanji untuk menindak daerah yang gagal memnuhi target, namun belum tahu hukuman apa yang akan mereka hadapi.

Provinsi Hebei dan Shanxi, di mana termasuk delapan kota berkabut di China, telah membentuk sistem "reward and punishment". Daerah yang memiliki kinerja terburuk nantinya harus membayar denda ke daerah-daerah yang telah melakukan hal terbaik.

Pada Rabu (20/3/2019), Provinsi Hebei menerbitkan daftar 14 distrik yang gagal memenuhi target negara di tahun 2018, termasuk zona industri utama di Tangshan, kota penghasil baja terbesar di China.

Berdasarkan informasi dari Pemerintah Provinsi, kepala daerah dari 14 distrik tersebut dipanggil ke Biro Perlindungan Lingkungan Provinsi untuk menerima kritik publik.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Pemilik Serang Mobil Turis, Restoran di Albania Diratakan Pakai Buldoser

Pemilik Serang Mobil Turis, Restoran di Albania Diratakan Pakai Buldoser

Internasional
Trump Batal Berkunjung karena Greenland, PM Denmark Marah

Trump Batal Berkunjung karena Greenland, PM Denmark Marah

Internasional
Kereta Peluru di Jepang Melaju 280 Km Per Jam dengan Pintu Terbuka

Kereta Peluru di Jepang Melaju 280 Km Per Jam dengan Pintu Terbuka

Internasional
Lebih dari 100 Anggota Polis Diraja Malaysia Positif Narkoba

Lebih dari 100 Anggota Polis Diraja Malaysia Positif Narkoba

Internasional
Trump Berniat Beli Greenland, Politisi Denmark: Ada Wilayah AS yang Bisa Dijual?

Trump Berniat Beli Greenland, Politisi Denmark: Ada Wilayah AS yang Bisa Dijual?

Internasional
Batal Berkunjung Gara-gara Greenland, Trump Dianggap Hina Ratu Denmark

Batal Berkunjung Gara-gara Greenland, Trump Dianggap Hina Ratu Denmark

Internasional
Jalani Operasi Pembesaran Payudara secara Diam-diam, Ibu Muda Ini Justru Meninggal

Jalani Operasi Pembesaran Payudara secara Diam-diam, Ibu Muda Ini Justru Meninggal

Internasional
Video Ungkap Detik-detik Pesawat Jatuh ke Laut

Video Ungkap Detik-detik Pesawat Jatuh ke Laut

Internasional
Jadi Sebab Pembatalan Kunjungan Trump ke Denmark, Ini 5 Fakta Greenland yang Perlu Diketahui

Jadi Sebab Pembatalan Kunjungan Trump ke Denmark, Ini 5 Fakta Greenland yang Perlu Diketahui

Internasional
Serang Pemiliknya, 3 Ekor Singa Afrika Terpaksa Ditembak Mati

Serang Pemiliknya, 3 Ekor Singa Afrika Terpaksa Ditembak Mati

Internasional
Trump Batalkan Kunjungan karena Isu Greenland, Denmark Kaget

Trump Batalkan Kunjungan karena Isu Greenland, Denmark Kaget

Internasional
Yunani Mengaku Tak Ada Permintaan Berlabuh dari Kapal Tanker Iran

Yunani Mengaku Tak Ada Permintaan Berlabuh dari Kapal Tanker Iran

Internasional
Intelijen AS Sebut ISIS Masih Punya 18.000 Tentara dan Dana Perang Rp 5,7 Triliun

Intelijen AS Sebut ISIS Masih Punya 18.000 Tentara dan Dana Perang Rp 5,7 Triliun

Internasional
AS Hendak Jual Jet Tempur F-16 Terbaru ke Taiwan, China Ancam Berikan Sanksi

AS Hendak Jual Jet Tempur F-16 Terbaru ke Taiwan, China Ancam Berikan Sanksi

Internasional
Greenland Tak Dijual, Trump Batalkan Kunjungan ke Denmark

Greenland Tak Dijual, Trump Batalkan Kunjungan ke Denmark

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X