BRISBANE, KOMPAS.com — Seorang perempuan yang membawa dua putrinya ke Afrika untuk disunat dijatuhi hukuman empat tahun penjara.

Perempuan ini menjadi orang pertama di Negara Bagian Queensland, Australia, yang dipenjara karena melakukan sunat perempuan.

Di pengadilan Distrik Brisbane terungkap, kedua gadis yang berusia 10 dan 13 tahun itu tidak diberi tahu bahwa mereka akan disunat ketika dibawa melakukan perjalanan ke Somalia bersama ibu mereka pada April 2015.

Baca juga: Praktik Sunat Perempuan Masih Terjadi di Singapura, Mengapa?

Bulan lalu, juri memutuskan perempuan itu, yang tidak disebutkan namanya karena alasan hukum, bersalah atas dua tuduhan membawa keluar seorang anak dari Negara Bagian Queensland untuk mutilasi alat kelamin perempuan (FGM).

Dalam pembacaan vonis, hakim Leanne Clare mengatakan, sunat perempuan melibatkan jenis kekerasan tertentu, tidak lahir dari kemarahan atau agresi, tetapi komitmen terhadap tradisi.

Dia mengatakan, perempuan itu telah menempuh langkah-langkah untuk menghindari jangkauan hukum Queensland.

"Dia sengaja membawa keluar kedua gadis itu dari negara yang akan melindungi mereka," kata Clare.

"Dia melakukan perjalanan itu dengan maksud mutilasi," kata hakim.

"Seorang ibu yang menempatkan putrinya pada tindakan itu benar-benar mengkhianati posisinya sebagai orang tepercaya."

Di pengadilan terungkap kedua gadis itu tinggal di rumah nenek mereka di Somalia ketika "seseorang diatur" untuk melakukan prosedur sunat pada mereka.