Satu Orang Lagi Ditangkap karena Sebarkan Video Penembakan Masjid

Kompas.com - 20/03/2019, 16:42 WIB
Rekaman itu diduga disiarkan langsung oleh pelaku penembakan di masjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3/2019). (Newshub) Rekaman itu diduga disiarkan langsung oleh pelaku penembakan di masjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3/2019). (Newshub)
|

WELLINGTON, KOMPAS.com - Seorang pria 44 tahun menjadi orang kedua yang didakwa karena menyebarkan video penyerangan masjid di Christchurch, Selandia Baru.

Philip Arps, nama pria itu, ditahan kepolisian pada Selasa (19/3/2019), empat hari setelah serangan teroris yang menewaskan 50 orang itu.

Video "livestream" itu dibuat Brenton Tarrant, sang pelaku penembakan, yang kini menghadapi dakwaan pembunuhan atas aksinya di masjid Al Noor dan Linwood.

Baca juga: Tampilkan Video Teror Selandia Baru Saat Kampanye, Erdogan Dikritik


Arps sendiri dijerat dua dakwaan mendistribusikan material tak menyenangkan seperti diatur dalam Undang-undang Perfilman Selandia Baru.

Setelah didakwa, Arps tetap ditahan setelah dihadirkan ke pengadilan distrik Christchurch untuk mendengarkan dakwaan pada Rabu (20/3/2019).

Arps, yang akan menjalani sidang kedua pada 15 April, sebelumnya telah memicu kontroversi karena memiliki perusahaan dengan tema Nazi.

Logo perusahaannya adalah "sun wheel" yang juga digunakan Nazi.

Tersangka pertama penyebar video ini adalah seorang remaja yang sudah dihadirkan ke pengadilan pada awal pekan ini.

Sementara itu, Facebook mengatakan, "livestream" itu hanya ditonton kurang dari 200 kali. Namun, Facebook harus menghapus 1,5 juta video penyerangan yang sudah terlanjur menyebar.

Di sisi lain, PM Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan, meski dia masiih fokus kepada rakyatnya, dia menegaskan ada masalah yang harus ditangani bersama para pemimpin global.

"Kami tak bisa, misalnya, menghadapi beberapa isu di media sosial secara kasus per kasus," kata Ardern.

Baca juga: Tiap Detik, Satu Video Penembakan Selandia Baru Diunggah ke YouTube

"Ada kebutuhan agar kita membentuk front bersama menghadapi isu global," tambah dia.

"Ini bukan hanya masalah Selandia Baru, faktanya  media sosial digunakan untuk menyebarkan kekerasan dan materi kebencian. Kita harus membentuk front bersama," dia menegaskan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pria Rusia yang Klaim Apple Mengubahnya Jadi Gay Cabut Gugatan

Pria Rusia yang Klaim Apple Mengubahnya Jadi Gay Cabut Gugatan

Internasional
Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Internasional
Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Internasional
Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Internasional
Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Internasional
Trump Marah Disebut Beri 'Lampu Hijau' untuk Serangan Turki ke Suriah

Trump Marah Disebut Beri "Lampu Hijau" untuk Serangan Turki ke Suriah

Internasional
Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Internasional
Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Hari Kiamat' Memakai 'Bahasa Khayalan'

Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Hari Kiamat" Memakai "Bahasa Khayalan"

Internasional
AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

Internasional
Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Kiamat', Pria Austria Ditahan

Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Kiamat", Pria Austria Ditahan

Internasional
Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda 'Menanti Kiamat' | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda "Menanti Kiamat" | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

Internasional
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Internasional
Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Internasional
Beralasan 'Menanti Kiamat', Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Beralasan "Menanti Kiamat", Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X