Melawan Manifesto Kebencian

Kompas.com - 19/03/2019, 07:05 WIB
Sejumlah warga menyalakan 49 batang lilin di luar gedung rumah sakit di Christchurch, Selandia Baru, Sabtu (16/3/2019) untuk mengenang korban tewas dalam serangan teror terhadap dua masjid di kota itu. AFP/ANTHONY WALLACE Sejumlah warga menyalakan 49 batang lilin di luar gedung rumah sakit di Christchurch, Selandia Baru, Sabtu (16/3/2019) untuk mengenang korban tewas dalam serangan teror terhadap dua masjid di kota itu.

JUMAT, 15 Maret 2019, mungkin termasuk hari paling kelam dalam sejarah Selandia Baru.

Dunia terenyak. Sebuah negara yang pada 2010 silam sempat berada di posisi pertama berdasarkan indeks negara paling Islami yang dipublikasikan oleh George Washington University, kali ini menjadi tempat dieksekusinya salah satu kejahatan kebencian paling brutal.

Yang menambah elemen tragis dari peristiwa ini adalah karena Jacinda Arden, Perdana Menteri Selandia Baru, termasuk figur pemimpin perempuan yang paling progresif belakangan ini.

Seperti Barack Obama, ia mendukung gerakan imigrasi. Ia membuka pintu bagi para pendatang untuk menjadikan Selandia Baru sebagai rumah mereka.


Namun, kebijakan semacam itu ternyata menciptakan ketakutan dan kekhawatiran tersendiri bagi kelompok tertentu.

Beberapa fakta yang bisa kita ketahui dari peristiwa penembakan masjid di Christchurch ini adalah bahwa penembakan tersebut dilakukan dengan senjata api oleh seorang yang berkebangsaan Australia.

Ketika melakukan penembakan di masjid, pelaku menggunakan kamera yang ditempelkan di tubuhnya untuk menyiarkan secara langsung penembakan tersebut di media sosial.

Dalam rekaman tersebut, pelaku menembak dengan santai dan perlahan memastikan bahwa orang yang berada di dalam maupun di luar masjid yang ia temukan menjadi sasaran tembak.

Pelaku kembali ke mobil setelah melakukan aksinya membunuh 50 orang dan melukai 50 orang lainnya dengan brutal, lalu menunjukkan ekspresi tersenyum puas sebelum minum seperti biasa.

Fakta lain adalah adanya sebuah manifesto penuh kebencian, antiimigran dan anti-Muslim sekitar 80 halaman yang menjadi dasar dilakukannya aksi tersebut.

Dari fakta-fakta tersebut, apa yang setidaknya bisa kita pelajari? Menurut saya ada beberapa hal yang amat berpengaruh dan harus diperhatikan.

Pertama, kata-kata itu berpengaruh. Perlu waktu dan proses sebelum kata-kata atau ujaran kebencian (hate speech) menjelma menjadi sebuah kejahatan kebencian (hate crime).

Saya setuju dengan apa yang pernah dikatakan Nelson Mandela bahwa "tidak ada orang yang terlahir membenci orang lain... mereka harus belajar untuk itu".

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Buru Agen Hezbollah, AS Tawarkan Hadiah Uang Rp 97,5 Miliar

Buru Agen Hezbollah, AS Tawarkan Hadiah Uang Rp 97,5 Miliar

Internasional
AS Klaim Tembak Jatuh 'Drone' Iran, Teheran: Trump Berkhayal

AS Klaim Tembak Jatuh "Drone" Iran, Teheran: Trump Berkhayal

Internasional
Tewaskan 33 Orang, Pembakaran Kyoto Animation Salah Satu Pembunuhan Massal Terburuk di Jepang

Tewaskan 33 Orang, Pembakaran Kyoto Animation Salah Satu Pembunuhan Massal Terburuk di Jepang

Internasional
Hendak Dikeluarkan AS dari Jet Tempur F-35, Turki Cari Alternatif Lain

Hendak Dikeluarkan AS dari Jet Tempur F-35, Turki Cari Alternatif Lain

Internasional
Tersangka Pelaku Mengaku Sengaja Bakar Gedung Kyoto Animation

Tersangka Pelaku Mengaku Sengaja Bakar Gedung Kyoto Animation

Internasional
Bukan Jokowi, BJ Habibie Jadi Sosok Paling Dikagumi di Indonesia Versi YouGov

Bukan Jokowi, BJ Habibie Jadi Sosok Paling Dikagumi di Indonesia Versi YouGov

Internasional
Pria Korsel Bakar Diri Dalam Mobil yang Parkir di Depan Kedubes Jepang

Pria Korsel Bakar Diri Dalam Mobil yang Parkir di Depan Kedubes Jepang

Internasional
Gara-gara Bau Asing, Penumpang NordWind Airlines Dievakuasi di Rusia

Gara-gara Bau Asing, Penumpang NordWind Airlines Dievakuasi di Rusia

Internasional
Banjir Terjang Taman Margasatwa, Seekor Harimau 'Ngungsi' ke Rumah Warga

Banjir Terjang Taman Margasatwa, Seekor Harimau "Ngungsi" ke Rumah Warga

Internasional
Pria Ini Kaget Kakinya yang Diamputasi Jadi Iklan Bungkus Rokok

Pria Ini Kaget Kakinya yang Diamputasi Jadi Iklan Bungkus Rokok

Internasional
Kebakaran Kyoto Animation, Pakar Sebut Kobaran Api Menyebar dengan Cepat

Kebakaran Kyoto Animation, Pakar Sebut Kobaran Api Menyebar dengan Cepat

Internasional
Hubungan dengan Iran Panas, AS Bakal Kirim Ratusan Pasukan ke Arab Saudi

Hubungan dengan Iran Panas, AS Bakal Kirim Ratusan Pasukan ke Arab Saudi

Internasional
Buntut Nyanyian 'Send Her Back' kepada Anggota DPR AS Ilhan Omar, Trump Merasa 'Tak Enak'

Buntut Nyanyian "Send Her Back" kepada Anggota DPR AS Ilhan Omar, Trump Merasa "Tak Enak"

Internasional
Kasus 2 Turis Maroko Dipenggal, 3 Pendukung ISIS Dihukum Mati

Kasus 2 Turis Maroko Dipenggal, 3 Pendukung ISIS Dihukum Mati

Internasional
Selama 40 Tahun, Pria Ini Tak Keramas dan Potong Rambut

Selama 40 Tahun, Pria Ini Tak Keramas dan Potong Rambut

Internasional
Close Ads X