Penembakan di Masjid Selandia Baru: Cerita Para Pengguna Jalan yang Pemberani (2)

Kompas.com - 16/03/2019, 20:57 WIB
Carl Pomare, salah satu pengguna jalan yang ikut merawat korban luka penembakan di masjid Christchurch, Selandia, pada Jumat (15/3/2019).Facebook via news.com.au Carl Pomare, salah satu pengguna jalan yang ikut merawat korban luka penembakan di masjid Christchurch, Selandia, pada Jumat (15/3/2019).

CHRISTCHURCH, KOMPAS.com - Carl Pomare, seorang pengguna jalan, sangat terkejut ketika mendengar suara letusan seperti kembang api dan orang-orang berlarian.

"Kami melihat orang-orang ini jatuh tersungkur ke tanah. Mereka ditembak tepat di depan kami," terang Pomare kepada jurnalis dikutip The Sun via news.com.au.

Bersama rekannya dari Naki Labour Hire, Pomare segera membentuk barisan di Masjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru, tempat penembakan itu terjadi.

Baca juga: Penembakan di Masjid Selandia Baru: Cerita Para Pengguna Jalan yang Pemberani (1)

Mereka segera membuat pengaman untuk menyelamatkan jemaah dan membopong setiap korban luka yang berlumuran darah hingga paramedis datang.

"Saya berkata kepada teman saya kami harus berbuat sesuatu. Apalagi kami melihat mereka tertembak, bergelimangan di jalan," terang Pomare kepada Newstalk ZB.

Dia melihat seorang gadis kecil yang kemungkinan berusia lima tahun yang tertembak bersama ayahnya. Mereka segera membawanya ke belakang mobil karena kondisinya kritis.

"Kami saling memperhatikan dan berpikir gadis itu harus segera dibawa ke rumah sakit karena kondisinya sangat mengkhawatirkan," ungkapnya.

Salah satu rekannya tengah merawat seorang korban yang tertembak tiga kali di bagian punggung selama 30 menit. "Dia meninggal dalam dekapan teman saya," ujarnya.

Pomare mengatakan dia beserta seluruh temannya berada di lokasi kejadian lebih dari satu jam. Meski saat itu penembakan tengah berlangsung.

Dia mengisahkan teroris itu keluar dan menembak secara membabi buta terhadap orang-orang yang berlari ke jalan untuk menyelamatkan diri.

Pomare mengungkapkan kengerian di Masjid Al Noor karena di saat mereka berusaha menyelamatkan para korban, si teroris terus menembak.

"Kami berada dalam kondisi yang sangat rentan karena masih terdengar tembakan. Namun di situasi seperti ini, Anda tak bisa memikirkan diri Anda sendiri," tegasnya.

Warganet yang mendengar kisahnya di media sosial menyebut upayanya sangat luar biasa dan mereka pantas untuk mendapat julukan pahlawan.

Baca juga: Masih Pakai Baju Pengantin, Pasangan Ini Beri Penghormatan bagi Korban Aksi Teror Masjid Selandia Baru

Sementara salah satu saksi mata juga menerima pujian ketika membantu membawa korban luka ke rumah sakit setelah pembantaian.

Sebelumnya dengan mengenakan pakaian militer, Brenton Tarrant membawa senapan serbu serta shotgun, dan menyerang jemaah Masjid Al Noor dan Linwood.

Dilaporkan 49 orang tewas, dengan 41 di antaranya ditemukan di Masjid Al Noor, ketika jemaah tengah melaksanakan Shalat Jumat.

Dalam manifestonya, Tarrant yang merupakan warga Australia menyatakan aksi itu dia lakukan sebagai wujud membela kulit putih dari "penjajah".

Pria 28 tahun itu yang diadili dengan dakwaan melancarkan aksi teror tersebut mengaku sudah merencanakan menyerang Christchurch sejak tiga bulan lalu.

Baca juga: Seorang WNI Korban Penembakan Selandia Baru Meninggal Dunia



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya


Close Ads X