Kompas.com - 12/03/2019, 17:43 WIB

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Lidia mulai berpikir untuk pulang ketika bom dijatuhkan di kawasan yang dikuasai Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Teknisi sebuah laboratorium itu meninggalkan Malaysia bersama bayi serta suaminya, dan pergi diam-diam ke Suriah pada Oktober 2014 silam.

Dua pekan lalu, dia mengirimkan pesan kepada ayahnya di Johor bahwa dia telah kabur dari wilayah ISIS, dan meminta bisa dibantu pulang ke Malaysia.

Baca juga: Pengantin ISIS Serang Jurnalis yang Rambutnya Kelihatan dan Berteriak Saat Dievakuasi dari Baghouz

"Saya tidak pernah putus harapan suatu hari nanti Lidia bakal berkeinginan pulang," ujar sang ayah yang identitasnya dirahasiakan kepada Al Jazeera Selasa (12/3/2019).

Lidia merupakan satu dari 13 warga Malaysia yang ingin pulang setelah Pasukan Demokratik Suriah (SDF) menggempur benteng terakhir ISIS di Baghouz.

Ayob Khan Mydin Pitchay, Kepala Kontraterorisme Cabang Khusus Kepolisian Malaysia berkata, pemerintah saat ini mengupayakan untuk memulangkannya.

"Kami mencoba membawa warga kami, termasuk Lidia. Namun situasinya sulit karena melibatkan banyak pihak dari berbagai negara," terang Ayob.

Ketika negara lain mencabut kewarganegaraan warganya yang bergabung dengan ISIS, Ayob berkata Malaysia bakal mengizinkan Lidia dan yang lain kembali.

Namun, mereka diharuskan menerima syarat, yakni mematuhi pemeriksaan dan bersedia mengikuti program rehabilitasi yang dijalankan pemerintah selama sebulan.

"Tidak semua terduga anggota ISIS bakal dipenjara. Namun semua orang yang diduga bergabung harus bersedia mengikuti interogasi," tegas dia.

Nantinya, terduga anggota ISIS itu bakal diinvestigasi dengan otoritas membawa rohaniwan maupun psikolog untuk mengevaluasi ideologi maupun kondisi kejiwaan mereka.

Nantinya, keterangan dari terduga bakal dibandingkan dengan data intelijen yang Malaysia peroleh dari dinas rahasia negara lain.

"Jika terdapat bukti bahwa warga yang kembali ternyata berpartisipasi dalam aktivitas ISIS, dia harus dibawa ke persidangan," tegas Ayob.

Baca juga: PBB: Anak-anak Anggota ISIS Tidak Boleh Dicap Teroris

Dia menjelaskan 11 warga Malaysia sudah kembali. Delapan di antaranya yang merupakan pria telah menjalani persidangan dan diputus bersalah.

Sementara sisanya yang adalah perempuan serta dua anak-anak menjalani program rehabilitasi dan kembali ke kampungnya, dengan pemerintah terus memantaunya.

Ayob mengatakan meski ISIS hanya berkuasa di Baghouz, pihaknya meyakini masih ada orang Malaysia yang masih berkeinginan untuk membela kelompok tersebut.

"Kami masih mengawasi mereka yang tidak sempat pergi ke Suriah memilih bermukim di Mindanao, Filipina, bersama milisi lain yang berhubungan dengan ISIS," tukasnya.

Dia mengungkapkan selain Lidia, masih ada 51 orang Malaysia masih bertahan di Suriah, dengan 17 di antaranya anak-anak.

Baca juga: Inggris Kembali Cabut Kewarganegaraan Dua Perempuan Pengantin ISIS

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber Al Jazeera
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.