Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 12/03/2019, 09:56 WIB
Veronika Yasinta

Penulis

Sumber AFP,ABC

ADDIS ABABA, KOMPAS.com - Seorang penulis pemenang penghargaan, arkeolog, dan tim bantuan kemanusiaan termasuk di antara 157 orang yang tewas dalam kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines.

Jatuhnya pesawat Boeing 737 MAX 8 selang beberapa menit setelah lepas landas dari Addis Ababa juga menjadi duka besar bagi PBB.

Berikut ini beberapa kisah dari para korban tragedi kecelakaan pesawat maskapai Ethiopian Airlines:

Sang arkeolog

Arkeolog asal Italia Sebastiano Tusa (66) menjadi salah satu korban tewas. Sebelumnya, dia menghabiskan waktu untuk menjelajahi dasar laut kepulauan Egadi di dekat Sisilia.

Baca juga: Boeing 737 MAX 8 Dikandangkan, Produsen Pesawat China Bisa Mujur?

Dia menemukan sebotol anggur yang berasal dari 1.000 tahun atau lebih, yang diyakini sebagai yang tertua di dunia.

Hasratnya terbesarnya dalam riset adalah Pertempuran Egadi, yang menentukan antara kekuatan Mediterania di Republik Romawi dan Kartago pada 10 Maret, 241 SM.

"Ayah adalah pria yang mencintai pertempuran hebat. Dia tidak pernah menyerah. Dua tahun yang lalu dia mengalahkan tumor yang sangat agresif," kata putranya, Andrea Tusa, seperti dilansir dari AFP.

Kehilangan seluruh keluarga

Anggota parlemen Slowakia Anton Hrnko kehilangan seluruh keluarganya dalam kecelakaan itu.

Dia kehilangan istrinya, putranya, dan putrinya. Perjalanan keluarganya direncanakan oleh sang putra, Martin, sebagai hadiah untuk adiknya, Michala.

Sementara istri Hrnko merupakan pengacara dengan spesialisasi real estate, sedangkan putrinya bekerja sebagai pakar IT di perusahaan produksi film.

"Dengan kesedihan yang mendalam, saya mengumumkan istri saya yang tercinta, Blanka, putra saya Martin dan putri saya Michala, meninggal dalam insiden di Addis Ababa pagi ini," tulis Hrnko di Facebook.

Kursus pelatihan

Dua peneliti, Doaa Atef dan Abdel Hamid El Farag, dari Desert Research Center yang berbasis di Kairo, Mesir, ikut penerbangan Ethiopian Airlines pada Minggu pagi.

Mereka bersiap untuk menempuh kursus pelatihan di Kenya.

"Saya ingat Doaa begitu bersemangat malam sebelum pergi, itu terakhir kali saya melihatnya. Dia sangat senang, dia seperti burung terbang," kata ayah Doaa, Atef Abdelsalam.

Misi perdamaian

Christine Alolo bekerja dengan African Mission di Somalia, lembaga pasukan penjaga perdamaian yang berjuang untuk menjaga keamanan di negara itu.

Halaman:
Sumber AFP,ABC
Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com