Dua Desainer Indonesia Ramaikan Ajang Fesyen di Australia

Kompas.com - 02/03/2019, 20:27 WIB
Salah seorang model tengah memamerkan busana dalam ajang Fashions of Multicultural Australia di Sydney pada Jumat (1/3/2019). Ajang itu juga diikuti dua desainer dari Indonesia.Tim Media KJRI Sydney Salah seorang model tengah memamerkan busana dalam ajang Fashions of Multicultural Australia di Sydney pada Jumat (1/3/2019). Ajang itu juga diikuti dua desainer dari Indonesia.

SYDNEY, KOMPAS.com - Dua desainer dari Indonesia berpartisipasi dalam ajang Fashions of Multicultural Australia (FOMA) di The Cutaway, Barangaroo, Sydney, Australia.

Dua perancang bernama Novita Yunus dan Savira Lavinia itu memamerkan karya mereka dalam pagelaran fesyen yang berlangsung pada Jumat malam waktu setempat (1/3/2019).

Baca juga: Kurasi Ketat Lahirkan 3 Duta Indonesia untuk Fesyen Streetwear Dunia

Partisipasi Novita dan Savira itu terjadi atas dukungan Konsulat Jenderal RI di Sydney, ITPC, hingga Wonderful Indonesia.

Kehadiran kedua desainer itu merupakan bagian dari usaha melakukan penetrasi pasar fesyen Australia yang mengalami peningkatan.

Setiap tahun, industri fesyen menyumbangkan 12 miliar dollar Australia, sekitar Rp 119,8 triliun, dan memberi lapangan pekerjaan bagi 220.000 warga Australia.

Konjen RI untuk Sydney Heru Hartanto Subolo menjelaskan, ada dua hal yang ingin disasar melalui partisipasi Novita dan Savira.

Pertama, Indonesia ingin menampilkan produk maupun brand yang dihasilkan para desainer tanah air di pasar Australia.

"Kedua karena fesyen ini mengenai multikultur, kami ingin menunjukkan keberagaman budaya Indonesia yang terpatri dalam produk desainer tanah air," kata Heru.

Novita "Batik Chic" dan Savira "SavLavin" diketahui adalah alumni program kursis singkat kesiapan bisnis internasional yang diselenggarakan Australia Award.

Disaksikan lebih dari 1.000 tamu di atas runway pada malam itu, SavLavin menampilkan 10 jenis rancangan yang mengusung tema Jakarta.

Sementara itu, Novita "Batik Chic" memamerkan 10 busana karyanya yang mengambil tema Batik Tuban. Adapun fesyen itu juga dimeriahkan desainer dari Rusia hingga Pakistan.

Lebih lanjut, FOMA bertujuan tak hanya mempromosikan fesyen. Namun juga mengenalkan keberagaman budaya dan mendorong peluang bisnis di industri fesyen.

Baca juga: Sejarah Desainer Pertama hingga Perkembangan Paris Jadi Kiblat Fesyen Dunia




Close Ads X