Kompas.com - 26/02/2019, 20:29 WIB

HANOI, KOMPAS.com - Kedatangan Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un di Hanoi, Vietnam, disambut sorakan warga setempat Selasa (26/2/2019).

Kim berada di Hanoi untuk melangsungkan pertemuan kedua dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada 27-28 Februari nanti.

Kota perbatasan Dong Dang yang tengah terlelap langsung bergeliat ketika Kim tiba setelah menempuh perjalanan dengan kereta dari Pyongyang selama 2,5 hari.

Baca juga: Trump Bertemu Kim Jong Un demi Rating TV?

Diwartakan AFP, pasukan kehormatan menyambut dengan senjata ketika Kim dan rombongannya turun dari kereta lapis baja berwarna hijau zaitun.

Murid lokal Nguyen Thu Uyen yang mempersembahkan bunga kepada Kim berkata, bertemu dengan pemimpin 35 tahun itu merupakan momen paling membanggakan di hidupnya.

"Kim Jong Un sangat ramah dan terutama, beliau menarik," ucap Nguyen terkait kunjungan pertama Pemimpin Korut sejak Kim Il Sung pada 1964.

Mengenakan jubah hitam ala Mao dan dikelilingi pengawal, Kim bergegas naik ke Mercedes-Benz dan rombongan mulai bergerak ke Hanoi.

Di ibu kota, Kim disambut sorakan yang berbaris di dekat bangunan era kolonial Gedung Opera Hanoi sebelum dia sampai di Hotel Melia yang bakal jadi tempatnya menginap.

Setelah beristirahat beberapa jam, pemimpin yang berkuasa sejak Desember 2011 itu berkunjung ke Kedutaan Besar Korut di Hanoi sebelum kembali ke hotel.

Sementara Trump bakal berangkat ke Hanoi menggunakan pesawat kenegaraan Air Force One, dan diperkirakan sampai pada Selasa malam waktu setempat.

Sebelum bertolak ke Vietnam, presiden ke-45 AS itu sempat menuliskan kicauan di Twitter potensi ekonomi yang bakal diraih Pyongyang jika setuju denuklirisasi.

"Dengan denuklirisasi menyeluruh, Korut bisa menjadi negara terkuat secara ekonomi. Pemimpin Kim bakal membuat keputusan bijak," ujar Trump.

Relasi Trump dan Kim berubah 180 derajat dari 2017 ketika mereka saling melontarkan hinaan menjadi cair dengan Trump berujar dia "jatuh cinta" dengan Kim.

Namun, banyak pengamat Korut yang melihat pertemuan pertama di Singapura pada Juni 2018 tak lebih dari teater politik belaka.

Sebabnya, pertemuan itu tak menghasilkan langkah konkret bagaimana negara komunis itu bakal melucuti seluruh senjata nuklirnya.

Kelsey Davenport dari Asosiasi Pengetatan Senjata mengatakan pertemuan kedua menjadi momentum untuk menekankan substansi, tidak lebih dari arak-arakan.

Baca juga: Rehat di Tengah Perjalanan 70 Jam ke Vietnam, Kim Jong Un Merokok

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber AFP
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.