Kompas.com - 26/02/2019, 15:30 WIB
|

RIYADH, KOMPAS.com - Arab Saudi kini tengah berusaha melakukan langkah tebar pesona dalam level global.

Dalam beberapa hari terakhir, Saudi menunjuk perempuan pertama untuk menjadi duta besar di lokasi paling bergengsi, Washington DC.

Di sisi lain, sang pemimpin de facto, putra mahkota Mohammed bin Salman baru saja menyelesaian tur Asia-nya.

Baca juga: MBS Tunjuk Adik Laki-lakinya sebagai Wakil Menteri Pertahanan

Dalam perjalanan itu, pria yang akrab dijuluki MBS itu membicarakan kesepakatan dagang dan investasi bernilai miliaran dollar AS dengan China, Pakistan, dan India.

Lima bulan sudah berjalan sejak negara-negara Barat mengecam pembunuhan keji jurnalis Jamal Khashoggi di dalam kantot Konsulat Arab Ssudi di Istanbul.

CIA dan berbagai dinas intelijen barat menyimpulkan MBS berada di belakang pembunuhan tersebut. Tuduhan ini dibantah keras pemerintah Saudi.

Di awal kemunculannya, MBS amat disukai barat. Namun, setelah kasus Khashoggi, MBS mulai dijauhi salah satunya saat KTT G20 digelar di Buenos Aires, Argentina.

Media barat juga terus mengecam MBS, tak hanya dalam kasus Khashoggi tetapi juga karena memenjarakan pengunjuk rasa dan aktivis perempuan serta memicu perang Yaman.

Jadi apa yang dilakukan MBS? Ditolak di Barat maka dia mengalihkan pandangannya ke Timur.

Hal serupa dilakukan para pemimpin negara Teluk pada 2011 saat Eropa mengkritik praktik otokrasi di kawasan itu.

Dan, langkah MBS sejauh ini tak salah. Di timur, dia disambut dengan menggunakan karpet merah.

Di Pakistan, negara nuklir dengan kondisi kas negara nyaris kosong, MBS disambut penuh gempita dengan 21 tembakan kehormatan, pengawalan jet tempur, dan hadiah senapan berlapis emas.

Baca juga: Diam soal Etnis Uyghur, MBS Teken Investasi Rp 140,5 Triliun di China

Di India, MBS disambut hangat PM Narendra Modi dan mendiskusikan kesepakatan energi dalam jumlah besar.

Dan di China, negara adi kuasa Asia, MBS dan Presiden Xi Jinping meneken perjanjian pembangunan penyulinganminyak bernilai 10 miliar dollar AS atau hampir Rp 10 triliun.

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan (kanan) menyambut Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (kiri) di pangkalan militer Nur Khan Air Force di Islamabad, Minggu (17/2/2019). (AFP/Pakistans Press Information Department) Perdana Menteri Pakistan Imran Khan (kanan) menyambut Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (kiri) di pangkalan militer Nur Khan Air Force di Islamabad, Minggu (17/2/2019). (AFP/Pakistans Press Information Department)
Seperti biasa, anggota keluarga kerajaan Saudi tidak bepergian sendiri. Dan, MBS membawa 1.100 orang lainnya dengan menggunakan beberapa pesawat, menyewa ratusan kamar hotel, dan membawa sarana kebugaran pribadi.

Di dalam rombongan besar ini juga terdapat jurnalis dari media pemerintah yang selalu melaporkan semua kegiatan MBS.

Di dalam negeri posisi MBS sebenarnya sudah bisa dianggap aman bahkan sebelum dia melakukan tur Asia ini karena tak ada pesaing lain untuk jabatan putra mahkota.

Baca juga: Sebelum Bertemu Xi Jinping, MBS Jalan-jalan ke Tembok Besar China

Namun, jika dia disambut hangat di beberapa negara penting Asia maka hal itu bisa menghindarkan Saudi dari pengucilan terkait kasus pembunuhan Khashoggi.

Di sisi lain, Amerika tentu harus diperlakukan berbeda. Bukan kebetulan jika dubes baru Saudi untuk AS adalah seorang perempuan.

Putri Reema bin Bandar al-Saud adalah seorang pengusaha sukses. Dia juga banyak berjasa dalam meningkatkan peran perempuan Saudi.

Namun, dia harus piawai menghadapi Kongres AS yang amat kritis dan media negeri itu yang terus memberitakan buruknya catatan HAM Arab Saudi.

Pendahulunya, Pangeran Khalid bin Salman Al Saud, meninggalkan Washington dengan tergesa usai kasus Khashoggi.

Dia dituduh terlibat dalam pembunuhan sang jurnalis. Meski membantah, dia diperintahka tidak kembali ke Washington tanpa penjelasan apapun.

Lalu bagaimana langkah MBS ini memengaruhi Barat khususnya Eropa?

Salah satu negara Eropa yang amat berkepentingan dengan Arab Saudi adalah Inggris.

Saudi adalah rekan dagang terbesar Inggris di Timur Tengah dengan lebih dari 50.000 lapangan kerja tergantung pada kesepakatan ini.

Dengan kekayaan minyaknya yang luar biasa, Saudi merupakan pasar besar para eksportir dan merupakan salah satu pembeli terbesar persenjataan buatan Inggris.

Sementara Jerman, bereaksi keras terhadap pembunuhan Khashoggi dengan membekukan ekspor senjata ke Saudi.

Keputusan Jerman ini mengancam hubungan Inggris-Saudi karena sebagian suku cadang jet tempur Typhoon buatan Inggris yang dijual ke Saudi dibuat di Jerman.

Sebenarnya ada dua pesan utama Arab Saudi dengan lebih mendekatkan diri ke Asia.

Baca juga: MBS Janji Bakal Bebaskan 850 Warga India yang Ditahan di Arab Saudi

Pertama: "Kami masih memiliki teman di dunia ini dan mereka senang berbisnis dengan kami."

Pesan kedua adalah terkait penunjukkan perempuan pertama sebagai dubes di AS.

"Kami memiliki hal untuk menyenangkan kalian dan kami senang jika bisa mendengar apa yang kalian mau."


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber BBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.