Putrinya Ditolak Trump Masuk AS, Ayah Pengantin ISIS Gugat Pemerintah

Kompas.com - 22/02/2019, 12:43 WIB
Perempuan dan anak-anak terlihat di luar tenda di kamp Furat (Efrat) untuk orang-orang yang kehilangan tempat tinggal dari Deir Ezzor, sebelah utara kota Kafr Dariyan di provinsi utara Idlib, Suriah. Foto diambil pada 27 November 2017.Ibrahim Yasouf / AFP Perempuan dan anak-anak terlihat di luar tenda di kamp Furat (Efrat) untuk orang-orang yang kehilangan tempat tinggal dari Deir Ezzor, sebelah utara kota Kafr Dariyan di provinsi utara Idlib, Suriah. Foto diambil pada 27 November 2017.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Ayah dari seorang perempuan asal Alabama, Amerika Serikat, yang bergabung dengan ISIS di Suriah mengajukan gugatan terhadap pemerintahan Donald Trump.

Langkah tersebut diambil Ahmed Ali Muthana usai sang putri, Hoda Muthana (24), disebut sebagai bukan warga negara AS.

Hoda menyesal bergabung dengan para ekstremis dan bersedia menghadapi penuntutan di AS atas perbuatannya.

Baca juga: Hoda Muthana: Dari Siswi Pemalu Berubah Menjadi Corong ISIS

Kantor berita AFP mewartakan, sehari setelah Trump mengeluarkan perintah untuk melarang Hoda masuk AS, ayahnya mengajukan gugatan pada Kamis (21/2/2019) di pengadilan federal.

Dia ingin menegaskan bahwa putrinya merupakan warga negara AS dan menuntut kembali pemulangan Hoda yang memiliki seorang putra, yang maish balita.

Suami Hoda merupakan seorang anggota ISIS asal Tunisia yang terbunuh dalam pertempuran.

Hoda Muthana, perempuan asal Alabama, Amerika Serikat, yang bergabung dengan ISIS di Suriah. (AFP) Hoda Muthana, perempuan asal Alabama, Amerika Serikat, yang bergabung dengan ISIS di Suriah. (AFP)
Perselisihan perihal warga negara Hoda bermula ketika dokumen birokrasi menunjukkan Hoda lahir pada 1994, beberapa waktu setelah Ahmed meninggalkan posisi sebagai diplomat untuk misi Yaman di PBB.

Konstitusi AS memberikan kewarganegaraan kepada semua orang yang lahir di negara itu, kecuali anak-anak diplomat karena mereka tidak berada di bawah yurisdiksi AS.

"Sekembalinya ke AS, anak perempuan Muthana siap dan bersedia untuk menyerah pada tudingan apa pun sesuai Kementerian Kehakiman AS," demikian isi dalam gugatan yang diajukan.

"Dia hanya membutuhkan bantuan pemerintah dalam memfasilitasi pemulangan untuk dirinya sendiri dan putranya yang masih kecil," lanjutnya.

Ahmed melepaskan identitas diplomatiknya pada 2 Juni 1994 ketika Yaman dilanda perang sipil.

Kemudian, Hoda lahir di New Jersey pada 28 Oktober 1994, dan keluarganya kemudian menetap di Hoover, Alabama.

Kementerian Luar Negeri AS kemudian mempertanyakan hak Hida untuk mendapatkan paspor karena ayahnya tercatat sebagai diplomat hingga Februari 1995.

Kemudian, Kemenlu menerima surat dari misi AS ke PBB yang menyebutkan, Ahmed telah mengakhiri posisinya sebagai diplomat sebelum kelahiran putrinya.

Dengan demikian, Ahmed mendapatkan paspor AS untuk Hoda, yang kemudian dipakainya untuk pergi ke Suriah tanpa sepengetahuan siapa pun.

Baca juga: Jadi Pengantin ISIS, Hoda Muthana Dilarang Trump Pulang ke AS

Dalam gugatan itu juga tertera, Hoda berhak mendapat kewarganegaraan AS karena ibunya telah menjadi penduduk tetap.

Ahmed juga meminta hak untuk mengirim uang kepada putri dan cucunya, yang kini ditahan oleh pasukan Kurdi yang merupakan sekutu AS dalam memerangi ISIS.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyatakan, masalah utama pada status kewarganegaraan Hoda terletak pada ayahnya yang dulu berprofesi sebagai diplomat.

"Dia mungkin dilahirkan di sini. Tapi dia bukan warga negara AS, juga tidak berhak atas kewarganegaraan AS," katanya kepada acara "Today" di stasiun TV NBC.


Terkini Lainnya


Close Ads X