Pentagon: AS Tidak Akan Menarik Pasukan Secara Sepihak dari Afghanistan

Kompas.com - 15/02/2019, 11:29 WIB
Beberapa prajurit AS berjalan melintasi sebuah mobil yang hancur akibat serangan bom bunuh diri Taliban di Kabul, Afganistan, Senin (13/10/2014). WAKIL KOHSAR / AFPBeberapa prajurit AS berjalan melintasi sebuah mobil yang hancur akibat serangan bom bunuh diri Taliban di Kabul, Afganistan, Senin (13/10/2014).

WASHINGTON, KOMPAS.com - Amerika Serikat dipastikan tidak akan secara sepihak menarik diri dari Afghanistan dan bakal tetap berkoordinasi sebelum benar-benar mengurangi kehadiran militernya di negara berkonflik itu.

Penjabat menteri pertahanan AS, Patrick Shanahan mengatakan, setiap keputusan untuk mengurangi jumlah pasukan Amerika di Afghanistan akan dikoordinasikan bersama dengan NATO, yang juga melakukan misi pelatihan dan dukungan di negara itu.

Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan ingin mengakhiri keterlibatan AS di Afghanistan, di mana 14.000 tentaranya dikerahkan.

Pernyataan itu menimbulkan kekhawatiran dari Kabul bahwa Washington dapat meninggalkan negara itu sebelum benar-benar tercapainya kesepakatan damai dengan Taliban.

Baca juga: Taliban Tak Ingin Memonopoli Kekuasaan di Afghanistan

Namun setelah digelar pembicaraan antar-menteri pertahanan NATO di Brussels, Pentagon menegaskan, Washington tidak akan bertindak sendiri dalam memutuskan penarikan pasukan.

"Tidak akan ada pengurangan pasukan secara sepihak. Itu adalah salah satu catatan dalam pertemuan kali ini. (Pengurangan) itu tetap akan dikoordinasikan dan kami akan bekerja sama," kata Shanahan, Kamis (14/2/2019).

"Saya merasa kita sedang menciptakan pengaruh diplomatik yang dibutuhkan Duta Besar Khalilzad. Kita benar-benar harus berbicara tentang kemungkinan perdamaian. Ini mungkin kesempatan kita," tambahnya, seperti dilansir AFP.

Zalmay Khalilzad adalah utusan khusus AS yang memimpin perundingan damai dengan Taliban. Dia menyatakan ada harapan tercapainya kesepakatan sebelum dilangsungkannya pemilihan presiden Afghanistan pada Juli mendatang.

AS saat ini tengah memimpin pembicaraan damai dengan Taliban untuk mencari terobosan dalam mengakhiri konflik yang berkecamuk di Afghanistan.

Tetapi Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg memperingatkan menentang penundaan dalam melibatkan Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani dalam proses tersebut.

Menurutnya, perdamaian abadi di Afghanistan tidak akan mungkin tercapai tanpa melibatkan pemerintahan Ghani.

Baca juga: Taliban Rayakan Rencana AS Tarik Pasukan dari Afghanistan

Washington bulan lalu juga telah menggelar pembicaraan dengan para pejabat Taliban di Qatar sebagai upaya meyakinkan gerilyawan untuk mau bernegosiasi dengan pemerintah Afghanistan.

"Sangat penting bahwa pemerintah Afghanistan sesegera mungkin dilibatkan sepenuhnya dalam proses perdamaian."

"Tanpa itu tidak ada ada perdamaian abadi dan tidak ada institusi yang kuat untuk memastikan perjanjian damai sepenuhnya ditegakkan," kata Stoltenberg.

Pekan lalu, Taliban juga dikabarkan telah mengadakan pembicaraan terpisah di Moskwa, Rusia dengan delegasi senior politisi Afghanistan, termasuk beberapa saingan politik Ghani.



Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X