Melihat ke India sebagai Alternatif China

Kompas.com - 13/02/2019, 14:00 WIB
Presiden Joko Widodo (tengah) bersama Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi (kanan) bermain layang-layang saat menghadiri Pameran Layang-Layang Indonesia-India di kawasan Monas, Jakarta, Rabu (30/5/2018). Pada kunjungan resmi pertama PM India ke Indonesia Presiden Joko Widodo mengajak untuk bermain dan menghadiri pameran layang-layang yang merupakan permainan tradisional populer di Indonesia dan India.  ANTARA FOTO/DHEMAS REVIYANTOPresiden Joko Widodo (tengah) bersama Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi (kanan) bermain layang-layang saat menghadiri Pameran Layang-Layang Indonesia-India di kawasan Monas, Jakarta, Rabu (30/5/2018). Pada kunjungan resmi pertama PM India ke Indonesia Presiden Joko Widodo mengajak untuk bermain dan menghadiri pameran layang-layang yang merupakan permainan tradisional populer di Indonesia dan India.

Intinya, jika kita lelah dengan "Kaisar" Xi Jinping, maka kita perlu membuat alternatif.
Namun, dengan adanya pemilihan umum pada Juni mendatang, Perdana Menteri BJP Narendra Modi—seorang pria dengan ambisi dan energi yang besar—akan menghadapi pertempuran yang berat dan sulit.

Mantan Menteri Kepala negara bagian Gujarat telah berhasil secara mengejutkan dalam menyatukan kubu oposisi melawan kebijakan “Hindutva” yang ekstrimis, konservatif, dan sektarian.

Pada saat yang sama, retakan besar mulai bermunculan dalam pencapaian ekonominya. Mencium kelemahannya, media mulai berani menantang kebijakannya dengan kuat: dari program demonetisasi yang kontroversial hingga penciptaan lapangan kerja, pendapatan pedesaan, degradasi lingkungan, dan dugaan korupsi tingkat tinggi baru-baru ini.

Memang putaran pemilihan majelis legislatif pada November lalu menunjukkan ayunan anti-petahana di beberapa bekas benteng pertahanan BJP—Rajasthan, Chhattisgarh, dan Madhya Pradesh.

Saya harus bertanya—sejauh mana kita di Asia Tenggara menyadari adanya perubahan yang sekarang berlangsung di Delhi dan di seluruh kawasan tersebut?

Apakah kita memahami bagaimana regionalisme—kepentingan elit-elit provinsi seperti partai Telangana Rashtra Samithi di negara bagian Telengana--telah menjadi faktor dominan dalam perhitungan pemilu?

Apakah kita masih 'membaca' para pemain utama—seperti generasi kelima dinasti Nehru-Gandhi, Rahul dan Priyanka?

Bagaimana dengan kedua wanita kuat asal Uttar Pradesh dan Benggala Barat: Mayawati dan Mamata Banerjee, yang keduanya jelas sama-sama tidak suka dengan Modi dan keluarga Nehru-Gandhi?

Jika Anda tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang potensi India, saya akan menjelajahi anak benua tersebut dari sudut pandang Asia Tenggara yang unik.

India sangat menonjol dalam sejarah Asia Tenggara. Dan tentunya penting terhadap masa sekarang kita.

Dengan China menjadi semakin eksploitatif, Asia Tenggara sangat membutuhkan India untuk memainkan peran yang lebih besar di masa depan kita—ekonomi dan bisnis hanyalah permulaan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Internasional
Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Internasional
Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Internasional
Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Internasional
Trump Marah Disebut Beri 'Lampu Hijau' untuk Serangan Turki ke Suriah

Trump Marah Disebut Beri "Lampu Hijau" untuk Serangan Turki ke Suriah

Internasional
Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Internasional
Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Hari Kiamat' Memakai 'Bahasa Khayalan'

Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Hari Kiamat" Memakai "Bahasa Khayalan"

Internasional
AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

Internasional
Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Kiamat', Pria Austria Ditahan

Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Kiamat", Pria Austria Ditahan

Internasional
Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda 'Menanti Kiamat' | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda "Menanti Kiamat" | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

Internasional
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Internasional
Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Internasional
Beralasan 'Menanti Kiamat', Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Beralasan "Menanti Kiamat", Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Internasional
Mabuk dan Gigit Polwan, Wanita Asal Selandia Baru Ini Dipenjara di Singapura

Mabuk dan Gigit Polwan, Wanita Asal Selandia Baru Ini Dipenjara di Singapura

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X